Renungan Untuk Lelaki

296893_158185477596988_100002166115455_309628_3782186_n

قال الرجل: حين اعجبت بزوجتي، كانت في نظري كأن الله لم يخلق مثلها في العالم
Berkata seorang laki-laki: Dulu disaat aku mengagumi istriku, “ia dimataku seakan-akan Alloh tidak menciptakan wanita sepertinya di alam ini”.

ولما خطبتها، رأيت الكثيرين مثلها
Di saat aku meminangnya, ternyata aku melihat banyak wanita yang sepertinya.

ولما تزوجتها، رأيت الكثيرين أجمل منها
Di saat aku menikahinya, ternyata aku melihat banyak wanita yang lebih cantik darinya.

فلما مضت بضعة أعوام على زواج رأيت أن كل النساء اخلى من زوجتى
Setelah beberapa tahun pernikahan, aku melihat wanita lebih cantik dari istriku.

فقال الشيخ: أفأخبرك بما هو ادهى من ذلك وأمز؟
قال الرجل: بلى
Kemudian seorang Syeh berkata:
“Maukah kamu aku kasih tahu tentang hal yang lebih parah dan lebih dahsyat dari hal itu?”
Laki-laki itu menjawab: Ya.

فقال الشيخ: ولو أنك تزوجتَ كل نساء العالمين، لرأيت الكلاب الضالة فى شوارع المناطق الشعبية أجمل من كل نساء العالمين.
Lalu Syeh itu berkata: “Andai kamu menikah dengan semua wanita yang ada di dunia ini, maka kamu akan melihat anjing-anjing betina yang tersesat di jalan lebih cantik dari semua wanita yang ada di dunia ini”.

ابتسم الرجل ابتسامة خفيفة
وقال: لماذا تقول ذلك؟
Laki-laki tadi tersenyum ringan, lalu dia berkata : Kenapa kamu bisa berkata seperti itu?

فقال الشيخ: لأن المشكلة ليست في زوجتك، أن الانسان أذا أوتي قلبا طمَّاعا وبصرا زائغا وخلا من الحياء من الله فإنه لايمكن أن يملأ عينه الا تراب مقبرته
مشكلتك أنك لاتغض بصرك عما حرم الله.
Syeh itu menjawab: Masalahnya bukan terletak kepada istrimu. Masalahnya itu jika Manusia memiliki hati rakus dan mata keranjang, dan ia tidak punya rasa malu kepada Alloh, maka tidak ada yang dapat menutup matanya kecuali tanah kuburannya.

وقال الشيخ: أتريد شيئا ترجع به امرأتك الى سالف عهدها (أجمل نساء)
قال الرجل: نعم
Syeh berkata: Apakah kamu ingin sesuatu yang dapat mengembalikan istrimu seperti dulu, sebagai wanita tercantik di dunia?
Laki-laki itu menjawab: Iya.

فقال الشيخ: اغضض بصرك
Lalu Syeh itu berkata: Tundukanlah pandanganmu.

GUS DUR WAJAH SEBUAH KERINDUAN

gus-dur

Gus Dur…Al-fatikhah

Oalah guuus guus, panjenengan niku lho,
Ketua PBNU, Ketua Fordem, Presiden WCRP,
peraih gelar doktor kehormatan dari
puluhan universitas luar negeri, dekat
dengan tokoh lintas agama, punya akses ke
para taipan, penulis, pembicara, dan
akhirnya….Pre siden RI!!! kok tetep KERE
to gusss, gussss….
Saat jadi presiden, mbok ya pondoknya
dibangun yang megah, rumahnya
dipermewah, membantu dana ke
Tebuireng, anak-anaknya dikasih mobil
mewah, menantu dan orang dekat diberi
saham di perusahaan ini itu, terus, itu lo
guuuus, mbok ya pakaiannya yang gagah,
yang mahal, impor, masak tokoh kelas
dunia kok pakai sarung sama baju murah
kelas kaki lima…
Ah, presiden RI kok kere sih guuus!
Panjenengan itu kiai, kok nggak mbangun
pondoknya biar megah to guuuus….
Pripun to, lha njenengan itu kata orang-
orang kan dekat dengan Yahudi? mana ada
antek Yahudi kere…
Pripun to gus, katanya panjenengan dekat
dengan AIPAC alias Lobi Yahudi di AS? Mbok
ya bikin proposal proyek apalah namanya,
biar NU tambah kaya dan njenengan
tambah tokcerrrr. Ya sesekali tirulah cara
Pak Harto, gussss….
Panjenengan itu kan dituduh Antek Paman
Sam, lha baru beberapa hari jadi presiden
kok NGGAK sowan ke Bill Clinton? Malah ke
China, India, sama Rusia. Lanjut ke Timur
Tengah, lalu Eropa, kemudian baru ke AS.
Hmmm, lha setelah itu kok ke Kuba, ngakak
bareng Fidel Castro, kemudian kongkow
sama Hugo Chavez di Venezuela. Ini kan dua
sosok yang dibenci Amrik! Wooooo, apa
panjenengan antek AS yang berkhianat
sama Paman Sam ya Guuuuus….???
Lhoooo malah ke Palestina, rangkulan
mesra sama Yasser Arafat? Panjenengan
sios dados agen Yahudi Israel nopo mboten
sih guuuuus?
Ealah, panjenengan itu kan Liberal, iya kan?
Kata orang-orang itu lo gusss. Masak sih
liberal kok hobinya silaturrahim ke para
ulama. Liberal kok gemar ziarah makam
awliya. Liberal kok saat di mobil tadarus
Qur’an sendiri. Liberal cap apa sih gus,
panjenengan itu?
Pemimpin macam apa sih panjenengan itu.
Sudah punya koneksi banyak, punya
ratusan ribu “milisi” fanatik yang dengan
komando panjenengan siap berperang, kok
malah tiba-tiba dengan memamai celana
kolor dan berkaos keluar dari istana;
menyuruh mereka menahan diri,
memerintahkan mereka balik ke kampung
halaman, dan meminta para pengikut
menahan diri agar darah tak tumpah di
bumi pertiwi. Malah panjenengan akhirnya
“rela dimundurkan” dari jabatan. Pemimpin
kok nggak heroik mengkultuskan
kekuasaan, to gus….?
Pemimpin macam apa; nggak punya
dompet, sering bingung menjawab saat
anak-anak panjenengan minta uang, dikasih
uang panjenengan terima tapi langsung
panjenengan berikan kepada siapapun yang
meminta/ butuh bahkan tanpa
panjenengan tahu nominal di dalamnya.
Pemimpin umat kok memakai prinsip
“kantong bolong” kayak Semar to gus, ya
nggak bakal kaya….
Apa betul panjenengan itu Komunis, gara-
gara merangkul eks-Tapol PKI? Lha Komunis
macam apa yang hampir hafal kitab al-
Hikam? bahkan memberi syarah melalui
lisan saat ngaji di Pesantren Ciganjur.
Komunis macam apa panjenengan itu?
Katanya, juga, panjenengan itu antek
Syi’ah gara-gara dekat Iran? Apa
panjenengan juga bakal dituduh antek
Afrika, antek Negro, saat dekat dengan
Nelson Mandela, Gusss?
Ohya, foto panjenengan sama Paus Paulus
Yohannes II di Vatikan, itu kan bukti
panjenengan dekat dengan kaum Salibis (ini
istilah saya pinjam dari “orang-orang
tertentu”)? Sesekali, dulu, seandainya
sempat, panjenengan sebagai presiden pun
bisa foto bareng sama Brad Pitt, Zenedine
Zidane atau Marcello Lippi sekalian, supaya
tuduhannya terasa lengkap: antek
Hollywood, antek FIFA, agen Italia. Jika
tuduhannya masih kurang lengkap,
panjenengan kan bisa berpose sejenak di
depan toko elpiji, biar sekalian dituduh
AGEN ELPIJI. Nopo ngoten, gus?
Tapi….. Ah, sudahlah, njenengan memang
emboh guuus…guuus.. ..
—gus dur wajah sebuah kerinduan ….

by: Aqil Fikri

Qasidah “KISAH SANG RASUL”

Kumpulan foto Habib Syech, Ahbaabul Musthafa dan Syekhermania yang berhasil saya dokumentasikan, saya jadikan slide show dengan diiringi musik qosidah “Kisah Sang Rasul” karya Habib Rizieq yang dibawakan oleh Aiter band. Saya persembahkan buat para pecinta Rasulullah kususnya para Syekhermania…. smg berkenan…. Shollu ‘Alan Nabiiiiii Muhammad….

KISAH PNS JUJUR MIMPI JUMPA NABI SAW DAN NAIK HAJI

  اَللَّهُمَّ الرْزُقْنَا زِيَارَةَ بَيْتِكَ اَلْمُعَظَّمْ وَرَسُوْلِكَ اَلْمُكَرَّمْ فِى هَذَا الْعَامْ وَفِى كُلِّ عَامْ بِاَحْسَنِ الْحَالْ(Copas dari FP bejo slamet dunyo akhirot)

Kisah ini adalah tentang tetangga yang saya kenal saat saya masih kuliah. Sebut saja namanya Pak Arif. Mungkin ia terlampau jujur, atau mungkin ia memang tak berbakat curang.

Tak seperti teman-temannya, tiga puluh tahun menjadi pegawai negeri sipil, hidup Pak Arif tak kunjung berubah. Sementara teman-temannya, entah bagaimana, sudah bisa membeli rumah dan bahkan mobil.

Bukannya ia tak ingin kaya. Ia ingin sekali punya banyak uang. Ia ingin pergi menunaikan haji. Dengan uang halal tentunya.

Demikianlah setiap bulan sedikit demi sedikit ia menyisihkan beberapa puluh ribu. Terkadang bisa beberapa ratus ribu. Setiap malam ia berdoa mohon diberi rezeki bisa menunaikan haji.

Tetapi mungkin Tuhan belum berkenan menerimanya sebagai tamu di rumah-Nya. Setiap terkumpul beberapa juta, uangnya selalu berkurang—terkadang habis—karena untuk biaya berobat. Atau, mungkin karena lelaki itu terlalu baik: jika semuanya baik-baik saja, selalu ada hal yang membuatnya mengambil tabungannya; ia sering tak tega melihat ada orang yang kesusahan.

Kadang, ia mengambil tabungannya setiap kali melihat anak tetangganya kesulitan membayar SPP. Atau saat ada berita bencana, ia selalu mengambil tabungannya untuk membantu. Dan anehnya, sepertinya ia ditakdirkan bertemu dengan orang-orang yang kesusahan.

Selama bertahun-tahun uang tabungannya yang tak banyak itu lebih banyak dipakai untuk membantu orang. Tentu kita paham sekarang mengapa tabungannya tak pernah cukup untuk biaya naik haji, apalagi biayanya tiap tahun terus naik. Tetapi ia terus berdoa mohon bisa sampai ke Tanah Suci, dan terus menabung, walau tabungannya tak pernah bertambah banyak.

Kini Pak Arif sudah pensiun. Ia tak bisa lagi menabung banyak-banyak. Uangnya cukup untuk sehari-hari tetapi selalu bisa menyisihkan sedikit uangnya untuk ditabung, meski pada akhirnya habis juga karena untuk menolong orang.

Apakah ia putus asa? Tidak. Ia tetap berdoa, dengan doa yang sama seperti tiga puluh tahun yang lalu. Hingga suatu malam pada malam tanggal sembilan bulan haji, ia bermimpi berada di Mekah. Ia melaksanakan semua ritual haji—tawaf, wuquf dan sebagainya. Dalam mimpinya, saat wuquf itu ia dikunjungi Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Ia terbangun tepat saat adzan subuh. Ia menangis, sebab ternyata itu hanya mimpi. Tetapi ia bahagia karena bermimpi bertemu Kanjeng Nabi SAW.

Seminggu sesudah mimpi, ia pagi-pagi kedatangan tamu yang mengaku utusan dari mantan atasannya, yang baru saja naik haji dengan ONH plus. Utusan itu berkata kepadanya, “sesuai pesan bapak, ini saya diutus mengantar kenangan-kenangannya yang Pak Arif minta untuk dicetak.”

Utusan itu menyerahkan sebuah foto. Pak arif memandang foto itu lama sekali: ia belum pernah ke Arafah, tetapi di foto itu tampak sang atasan duduk bersama Pak Arif memakai baju ihram di padang Arafah.

Tri Wibowo BS
Lereng Merapi, Yogyakarta

ISTIKHARAH

Adalah tabiat manusia manakala dihadapkan pada dua
pilihan atau lebih yang sangat sulit atau di luar
kemampuan analisanya untuk memilih, maka ia cenderung
meminta pertolongan dari kekuatan supra natural atau
mencari tanda-tanda dari alam dalam menentukan
pilihannya.
Ketika datang Islam, kebiasaan itu diluruskan dengan
diajarkannya shalat Istikharah. Istikharah artinya meminta
pilihan. Sholat istikharah adalah shalat untuk meminta
pilihan kepada Allah.
Manusia adalah makluq yang dengan kesempurnaannya
tetap memiliki kekurangan, terutama dalam menentukan
pilihan yang di luar kemampuan analisanya. Ia tidak
mampu melihat kegaiban masa depan apakah itu baik atau
buruk nantinya. Inilah hikmah dari disunnahkannya
Istikharah, agar manusia tetap menjalin hubungan dengan
Tuhannya saat akan menentukan pilihan, meminta
pertolonganNya agar ia bisa memilih dengan baik dan
tepat. Allah berfirman:”Dan Tuhanmu menciptakan apa
yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-sekali tidak
ada pilihan bagi mereka (apabila Allah telah menentukan).
Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka
persekutukan. Dan Tuhamnu mengetahui apa yang
disembunyikan dalam dada mereka dan apa yang mereka
nyatakan. Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) melainkan Dia, bagiNyalah segala puji di dunia
dan di akhirat, dan bagiNyalah segala penentuan dan
hanya kepadaNyalah kami dikembalikan (al-Qasas 68-70).
Hukum Istikharah
Para ulama sepakat mengatakan bahwa shalat istikharah
hukumnya sunnah pada saat seorang muslim dihadapkan
pada permasalahan yang memerlukan keputusan untuk
memilih.
Dalil Shalat Istikharah
Dalil shalat Istikharah adalah sbb:
1. عن جابر بن عبد لله رضي لله عنهما قال: ( كان رسول لله ( يعلمنا
الاستخارة في الأمور كلها كما يعلمنا السورة من القرآن، يقول: (إِ َ ذا
م إِِّني 􀀪 ـُ ه􀀹􀀪 م لِيَ ـُ قلْ ال 􀀪 ـَ فرِي ـَ ضةِ ـُث 􀀵 يَرْ ـَ كعْ رَ ـْ كعَتـَيْنِ مِنْ غـَيْرِ ا ْ 􀀹 َأمْرِ ـَ ف ْ 􀀵 م َأحَدُ ـُ كمْ ـِبا ْ 􀀪 ـَ ه
ُكَ مِنْ ـَ ف ـْ ضلِكَ ـَ فإَِّنكَ ـَت ـْ قدِرُ 􀀵 مِكَ وََأسْـَت ـْ قدِرُكَ ـِب ـُ قدْرَتِكَ وََأسَْأ 􀀹 َأسْتـَخِيرُكَ ـِبعِ ْ
مُ ـَ ه َ ذا 􀀹 م ـَ فإِنْ كـُـْن َ ت تـَعْ َ 􀀪 ـُ ه􀀹􀀪 غـُيُو ِ ب ال 􀀵 مُ ا ْ 􀁌􀀪 مُ وََأـْن َ ت عَ 􀀹 َأعْ َ 􀁉 مُ وَ َ 􀀹 َأقـْدِرُ وَتـَعْ َ 􀁉 وَ َ
ميهِ ـِبعَيْنِهِ خـَيْرًا لِي فِي عَا ـِ ج ِ ل َأمْرِي وَآ ـِ جلِهِ ـَ قالَ َأوْ فِي 􀁒 م تـُسَ 􀀪 َأمْرَ ـُث 􀀵 ا ْ
م بَارِكْ لِي فِيهِ 􀀪 سرْهُ لِي ـُث 􀁒 دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ َأمْرِي ـَ فا ـْ قدُرْهُ لِي وَيَ
ر لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ َأمْرِي َأوْ 􀁙 مُ َأَّنهُ ـَ ش 􀀹 م وَإِنْ كـُـْن َ ت تـَعْ َ 􀀪 ـُ ه􀀹􀀪 ال
ـَ قالَ فِي عَا ـِ ج ِ ل َأمْرِي خـَيْرَ حَيْ ُ ث ـَ كانَ 􀀵 وَآ ـِ جلِهِ ـَ فاصْرِفـْنِي عَـْنهُ وَا ـْ قدُرْ لِي ا ْ
م رَضِّنِي بـِهِ) 􀀪 ـُث
Artinya: Dari Jabir bin Abdullah r.a. berkata: Rasulullah saw
mengajarkan kepada kami istiharah pada semua perkara
sebagaimana beliau mengajarkan al-Quran. Beliau
bersabda:”Apabila salah satu dari kalian dihadapkan pada
permasalahan maka hendaknya ia shalat dua rakaat selain
shalat fardlu, kemudian hendaknya ia berdoa (artinya) Ya
Allah sesungguhnya aku meminta pilihanMu dengan
ilmuMu, dan meminta keputusan dengan ketentuanMu, Aku
meminta kemurahanMu, sesungguhnya Engkaulah yang
menentukan dan aku tidak ada daya untuk menentukan,
Engkaulah yang mengetahui dan aku tidaklah tahu
apa-apa, Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara gaib.
Ya Allah sekiranya Engkau mengetahui bahwa perkara ini
(lalu menyebutkan masalahnya) adalah baik bagiku saat ini
dan di waktu yang akan datang, atau baik bagi agamaku
dan kehidupanku serta masa depanku maka tentukanlah
itu untukku dan mudahkanlah ia bagiku lalu berkatilah. Ya
Allah apabila Engkau mengetahui bahwa perkara itu buruk
bagiku untuk agamaku dan kehidupanku dan masa depan
perkaraku, atau bagi urusanku saat ini dan di masa
mendatang, maka jauhkanlah ia dariku dan tentukanlah
bagiku perkara yang lebih baik darinya, apapun yang

terjadi, lalu ridlailah ia untukku”. (h.r. Ahmad, Bukhari dan
Ashabussunan).
2. Dalil lain shalat Istikharah adalah hadist riwayat Muslim
yang menceritakan pada saat Zainab ra akan dipersunting
leh Rasulullah saw, beliau menjawab “Aku belum bisa
memberi jawaban hingga aku melakukan istikharah kepada
Tuhanku. Lalu beliau memasuki tempat shalatnya dan
turunlah al-Qur’an.
Tatacara Shalat Istikharah
Para ulama menjelaskan bahwa tatacara shalat istikharah
adalah seperti sholat sunnah biasa, dijalankan dalam dua
rakaat. Tidak ada waktu khusus untuk melaksanakannya,
namun shalat istikharah disunnah serta merta saat
seseorang menghadapi masalah. Imam Nawawi, Ibnu
Hajar dan Imam Iraqi mengatakan, sah melaksanakan
istikharah yang dibarengkan dengan sholat sunnah lainnya
asalkan dengan niat. Misalkan seseorang hendak
melaksanakan sholat sunnah rawatib lalu ia juga niat
untuk istikharah maka itu sah. (Fathul Bari 11/221).
Selesai melaksakan shalat lalu membaca doa di atas.
Tidak ada bacaan khusus atau surat khusus dalam shalat
Istikharah. Beberapa refrensi menyebutkan aada raka’at
pertama, setelah membaca al-Fatihah disunatkan
membaca surat al-Kaafiruun, dan pada raka’at kedua
(setelah al-Fatihah) membaca surat al-Ikhlas. Itu mengikuti
shalat hajat karena Istikharah termasuk shalat hajat.
Begitu juga diperbolehkan mengulang-ulang shalat
Istikharah karena itu termasuk doa dan dalam beberapa
riwayat Rasulullah saw mengulang doa terkadang sampai
tiga kali.
Bagi yang berhalangan melaksanakan shalat, misalnya
perempuan yang sedang datang bulan, maka
diperbolehkan baginya untuk hanya membaca doa
Istikharah.
Dalam Istikharah siapakah yang memilih?
Allah memberi kita karunia akal dan nalar yang bebas.
Dengan akal dan nalar kita bisa membedakan mana yang
baik dan mana yang buruk dan dengan akal dan nalar
tersebut kita mempunyai kemampuan untuk menganalisa
dan menentukan pilihan dalam perkara dunia.
Selain itu banyak petunjuk agama yang mengajarkan
kepada manusia bagaimana menentukan perkara apakah
itu baik atau buruk. Rasulullah saw bersabda “ يْهِ 􀀵 ن إِ َ 􀀪 ر مَا اطْمََأ 􀁝 بـِ􀀵 ا ْ
صدْرِ 􀀪 ددَ فِي ال 􀀪 ِ ب وَـَترَ 􀀹 ـَ ق ْ 􀀵 ـْثمُ مَا حَاكَ فِي ا ْ 􀁢 يْهِ النَّ ـْ فسُ وَا ِْ 􀀵 بُ وَاطْمََأنَّتْ إِ َ 􀀹 ـَ ق ْ 􀀵 ”ا ْ
artinya: kebaikan adalah apa yang membuat hati tenang
dan mejadikan nafsu tenang, keburukan adalah apa yang
membuat hati gelisah dan menimbulkan keraguan” (h.r.
Ahmad dll.)
Dalam masalah jodoh, Rasulullah saw bersabda “ مَرَْأ ُ ة 􀀵 تـُـْنكـَحُ ا ْ
دينِ ـَترِبَ ْ ت يَدَاكَ 􀁒 ”لَِأرْبَ ٍ ع لِمَالِهـَا وَلِحَسَـِب ـَ ها وَلِجَمَالِ ـَ ها وَلِدِينِ ـَ ها ـَ فاظـْ ـَ فرْ ـِب َ ذاتِ ال
artinya: seorang perempuan dinikahi karena empat perkara,
yaitu karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan
agamanya. Carilah yang mempunyai agama niscaya kamu
beruntung” (h.r. Muslim dll).
Kedua hadist tersebut menunjukkan bahwa memilih adalah
pekerjaan manusia. Agama memberikan petunjuk
rambu-rambu untuk memilih dengan baik.
Rasulullah saw juga mencontohkan dalam sebuah hadist
“􀁉􀀪 آ ـَ خرِ إِ 􀀵 مَ بَيْنَ َأمْرَيْنِ َأحَدُ ـُ همَا َأيْسَرُ مِنْ ا ْ 􀀹􀀪 يْهِ وَسَ 􀀹 هُ عَ َ 􀀹􀀪 ى ال 􀀹􀀪 هِ صَ 􀀹􀀪 يرَ رَسُولُ ال 􀁒 مَا خـُ
مْ يَ ـُ كنْ إِـْثمًا ـَ فإِنْ ـَ كانَ إِـْثمًا ـَ كانَ َأبْعَدَ الَّناسِ مِـْنهُ 􀀵 اخـْـَتارَ َأيْسَرَ ـُ همَا مَا َ ” artinya:
Rasulullah saw ketika dihadapkan dua pilihan, beliau selalu
memilih yang termudah selama itu tidak mengandung
dosa, apabila itu mengandung dosa maka beliau
menjauhinya” (h.r. Muslim dll). Beliau pun ketika memilih
sesuatu menggunakan analisa dan nalar beliau, namun
selalu mengutamakan yang mudah.
Begitu juga ketika seorang hamba dihadapkan kepada dua
pilihan yang sulit dan kemudian dia melaksanakan shalat
istikharah sesuai ajaran Rasulullah, tidak berarti ia lantas
menyuruh Allah memilihkan pilihannya dan ia hanya cukup
berdoa saja dan menunggu petunjuk dan berpangku
tangan. Itu adalah anggapan yang kurang tepat.
Ilustrasinya sbb: ketika kita seorang mahasiswa atau murid
memasuki ruang ujian biasanya kita selalu berdoa agar
bisa mengerjakan dengan baik dan memilih jawaban
dengan tepat. Apakah mengerjakan ujian dan memilih
jawaban tersebut cukup dengan doa tadi? Tentu tidak.
Jawaban ujian dan memilih jawaban ujian hanya bisa
dilakukan melalui belajar sebelumnya, sedangkan fungsi
dia adalah agar ketika mengerjakan ujian dan memilih
jawaban tersebut kita diberi kekuatan dan kemampuan

sehingga bisa mengerjakan dengan tepat. Begitu juga
sholat istikharah adalah doa agar dalam kita memilih, kita
diberikan kekuatan oleh Allah dan tidak salah pilih, namun
pekerjaan memilih itu sendiri harus kita lakukan dengan
baik melalui analisa, kajian, penyelidikan, musyawarah dll.
Setelah proses tersebut kita matangkan, maka dengan
disertai doa yaitu shalat istikharah mudah-mudahan
pilihan kita tidak salah.
Yang lebih salah lagi, manakala pilihan itu ternyata kurang
sesuai dengan yang diharapkan, ia mulai menyalahkan
istikharahnya atau naudzubillah kalau sampai
menyalahkan Tuhannya.
Pada masalah apa kita disunnahkan shalat istikharah?
Sebenarnya shalat istikharah disunnahkan ketika kita
menghadapi pilihan perkara yang halal, seperti pekerjaan,
pernikahan, perdagangan dll. Itu yang seharusnya
dilaksanakan oleh seorang hamba. Rasulullah saw
bersabda “ من سعادة ابن آدم استخارته إلى لله ، ومن شقاوة ابن آدم تركه
استخارة لله ” artinya: termasuk kemuliaan bani Adam adalah
ia mau beristikharah kepada Allah, dan termasuk
kedurhakaannya adalah manakala ia tidak mau
beristikharah kepada Allah” (h.r. Hakim).
Dalam hadist shalat istikharah di atas juga disebutkan
“Rasulullah saw mengajarkan istikharah kepada kami
dalam semua perkara”. Ini menunjukkan pentingnya
istikharah dalam semua perkara yang kita hadapi. Maka
sebaiknya kita sering melaksanakan shalat ini manakala
menghadapi semua masalah dunia. Dan kurang tepat
kiranya kalau kita melaksanakan shalat istkhoroh hanya
ketika hendak menikah.
Ibnu Hajar menuqil ungkapan Abu Jumrah mengatakan
bahwa shalat Istikharah tidak dilakukan untuk perkara
wajib dan sunnah. Begitu juga istikharah tidak dilakukan
untuk memilih perkara makruh dan haram. Kecuali apalagi
terjadi dilema anatara dua perkara wajib atau sunnah,
misalnya seseorang yang mampu melaksanakan ibadah
Haji, ia beristikharah apakah berangkat tahun ini atau
tahun depan.
Jawaban istikharah
Tidak ada dalil yang menunjukkan tanda-tanda jawaban
dari shalat istikharah. Ini memperkuat uraian di atas bahwa
yang memilih adalah kita, bukan Allah memilihkan kita,
tetapi kita berdoa agar Allah memberikan kekuatan kita
dalam memilih.
Ulama besar Syafii, Iz bin Abdussalam mengatakan setelah
istikharah seorang hamba hendaknya mengambil
keputusan yang diyakininya dengan pasti. Ulama lain
Kamaluddin Zamlakani mengatakan selesai shalat
istikharah hendaknya seseorang mengambil keputusan
yang sesuai keyakinannya, baik itu sesuai dengan bisikan
hatinya atau tidak, karena kebaikan adalah pada apa yang
ia yakini, bukan dari apa yang cocok di hatinya. Bisikan hati
kadang dipengaruhi oleh perasaan subyektif dan tidak ada
dalil yang menyatakan seperti itu. Imam Qurtubi juga
mengatakan hal yang sama dan menambahkan hendaknya
hatinya dibersihkan dari hal-hal yang mempengaruhinya.
Ibnu Hajar juga mengatakan bahwa sebaiknya tidak
mengikuti kecenderungan hati karena biasanya itu
dipengaruhi oleh hal lain sebelum melaksanakan shalat
istkharah.
Itu benar, misalnya seseorang yang sudah dirundung rasa
cinta mendalam terhadap seseorang, mana mungkin ketika
dia istikharah akan mendapatkan jawaban untuk tidak
memilihnya.
Setelah memilih dengan analisa dan pertimbangannya
yang matang, hendaknya juga diikuti sikap tawakkal,
bahwa itu mudah-mudahan pilihan yang tepat dan mudahmudahan
Allah akan memudahkan semuanya.
Banyak orang menanti jawaban istikharah melalui mimpi,
atau melalui membuka Quran secara acak lalu mencoba
mencari jawabannya melalui ayat yang tak sengaja
terbuka, atau dengan butiran-butiran tasbih dan lain-lain.
Itu semua tidak mempunyai landasan dalil dan hadist.
Disusun oleh Ustadz Muhammad Niam
Dari berbagai sumber literatur fiqh dan hadist

KH. Maimoen Zubair

540699_557863877582577_1213649290_nKH. Maimoen Zubair

Diantara pesan-pesan beliau kepada para santri adalah agar tekun mencari Ilmu-ilmu syar’i, dan selalu membelanya, dan selalu menjaganya karena disamping ilmu syara’ adalah sebagai ciri khas keilmuan dipondok pesantren dan Madrasah. Ilmu Syara’ juga sebagai satu-satunya jalan untuk Futuh dan Wusul kepada Allah serta Ma’rifat kepada Allah sehingga mendapat ridloNya.

Beliau juga berpesan supaya kita punya dua baju (baca: dua sikap) yang kedua-duanya adalah abstrak.

pertama: kita harus punya baju ad-Distar, maksudnya kita bersikap elastis serta dinamis dalam pergaulan dngn masyarakat disamping kita ingkar fi-qolbi dengan segala kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan mereka.

kedua: kita harus punya baju As-Syiar, maksudnya dalam diri kita dan keluarga kita harus kita tanamkan riyadoh dan pemberatan dalam menjalankan Syari’at.
kita tidak mengambil hukum-hukum rukhsoh (keringanan), dan kita harus menjauhi keharaman, kemakruhan, bid’ah-bid’ah, yang sudah merata dan mendominasi di masyarakat kita. Lahaula wala Quwwata illa Billah.

Beliau juga berwasiat kepada para santri supaya tidak melakukan ma’siat karena maksiat tersebut menjadi sebab kita sering lupa yang merupakan momok besar bagi seorang santri.
Beliau KH. Maimoen Zubair juga berpesan supaya kita memegang teguh Aqidah Ahlussunah wal Jama’ah; dalam arti kita harus menjunjung tinggi memuliakan dan mengagungkan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang Nabi, juga mengagungkan Sahabat Nabi sebagai golongan yang selalu menyertai Nabi dan menolong beliau, juga mengagungkan ulama’ sebagai murid-murid para sahabat, serta mengagungkan para Ahlul BaitNya Nabi Muhammad SAW dan seluruh keturunannya yang mana mereka adalah para muballigh2 Islam yang menyebarkan Islam keseluruh penjuru dunia. beliau juga berpesan supaya kita selalu ridho dengan ketentuan-ketentuan Allah SWT, baik berupa kenikmatan atau bala’ dan kita harus selalu mempunyai prasangkaan yang baik kapada Allah, dan kita harus mengembalikan kesalahan kesalahan kita pada diri kita sendiri tidak kepada Allah SWT.
(Sumber HASSASS Organisasi Komunitas)

Dan Semoga beliau
selalu mendapat lindungan dan karunia dari Allah swt, dilimpahkan kesehatan serta kesejahteraan dunia dan akhirat
Aamiin Aamiin ya Robbal alamiin…

 

Maulid Nabi, antara tradisi dan hukum

Kang Nafis
Memang Rasulullah SAW tidak pernah melakukan seremoni peringatan hari lahirnya. Kita belum pernah menjumpai suatu hadits/nash yang menerangkan bahwa pada setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal (sebagian ahli sejarah mengatakan 9 Rabiul Awwal), Rasulullah SAW mengadakan upacara peringatan hari kelahirannya. Bahkan ketika beliau sudah wafat, kita belum pernah mendapati para shahabat r.a. melakukannya. Tidak juga para tabi`in dan tabi`it tabi`in.

Menurut Imam As-Suyuthi, tercatat sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah saw ini dengan perayaan yang meriah luar biasa adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kukburi ibn Zainuddin Ali bin Baktakin (l. 549 H. – w.630 H.). Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan maulid ini. Intinya menghimpun semangat juang dengan membacakan syi’ir dan karya sastra yang menceritakan kisah kelahiran Rasulullah SAW.

Di antara karya yang paling terkenal adalah karya Syeikh Al-Barzanji yang menampilkan riwayat kelahiran Nabi SAW dalam bentuk natsar (prosa) dan nazham (puisi). Saking populernya, sehingga karya seni Barzanji ini hingga hari ini masih sering kita dengar dibacakan dalam seremoni peringatan maulid Nabi SAW.

Maka sejak itu ada tradisi memperingati hari kelahiran Nabi SAW di banyak negeri Islam. Inti acaranya sebenarnya lebih kepada pembacaan sajak dan syi`ir peristiwa kelahiran Rasulullah SAW untuk menghidupkan semangat juang dan persatuan umat Islam dalam menghadapi gempuran musuh. Lalu bentuk acaranya semakin berkembang dan bervariasi.

Di Indonesia, terutama di pesantren, para kyai dulunya hanya membacakan syi’ir dan sajak-sajak itu, tanpa diisi dengan ceramah. Namun kemudian ada muncul ide untuk memanfaatkan momentum tradisi maulid Nabi SAW yang sudah melekat di masyarakat ini sebagai media dakwah dan pengajaran Islam. Akhirnya ceramah maulid menjadi salah satu inti acara yang harus ada, demikian juga atraksi murid pesantren. Bahkan sebagian organisasi Islam telah mencoba memanfaatkan momentum itu tidak sebatas seremoni dan haflah belaka, tetapi juga untuk melakukan amal-amal kebajikan seperti bakti sosial, santunan kepada fakir miskin, pameran produk Islam, pentas seni dan kegiatan lain yang lebih menyentuh persoalan masyarakat.

Kembali kepada hukum merayakan maulid Nabi SAW, apakah termasuk bid`ah atau bukan?

Memang secara umum para ulama salaf menganggap perbuatan ini termasuk bid`ah. Karena tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah saw dan tidak pernah dicontohkan oleh para shahabat seperti perayaan tetapi termasuk bid’ah hasanah (sesuatu yang baik), Seperti Rasulullah SAW merayakan kelahiran dan penerimaan wahyunya dengan cara berpuasa setiap hari kelahirannya, yaitu setia hari Senin Nabi SAW berpuasa untuk mensyukuri kelahiran dan awal penerimaan wahyunya.

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ” : فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم

“Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.” (H.R. Muslim)

Kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah SWT kepada kita. Termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat kepada alam semesta. Allah SWT berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’ ” (QS.Yunus:58).

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Hadits itu menerangkan bahwa pada setiap hari senin, Abu Lahab diringankan siksanya di Neraka dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Hal itu dikarenakan bahwa saat Rasulullah saw lahir, dia sangat gembira menyambut kelahirannya sampai-sampai dia merasa perlu membebaskan (memerdekakan) budaknya yang bernama Tsuwaibatuh Al-Aslamiyah.

Jika Abu Lahab yang non-muslim dan Al-Qur’an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW?
Jika sebagian umat Islam ada yang berpendapat bahwa merayakan Maulid Nabi SAW adalah bid’ah yang sesat karena alasan tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah saw sebagaimana dikatakan oleh beliau:

إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. رواه أبو داود والترمذي

Hindarilah amalan yang tidak ku contohkan (bid`ah), karena setiap bid`ah menyesatkan. (HR Abu Daud dan Tarmizi)

Maka selain dalil dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi tersebut, juga secara semantik (lafzhi) kata ‘kullu’ dalam hadits tersebut tidak menunjukkan makna keseluruhan bid’ah (kulliyah) tetapi ‘kullu’ di sini bermakna sebagian dari keseluruhan bid’ah (kulli) saja. Jadi, tidak seluruh bid’ah adalah sesat karena ada juga bid’ah hasanah, sebagaimana komentar Imam Syafi’i:

المُحْدَثَاتُ ضَرْباَنِ مَاأُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتاَباً أَوْسُنَّةً أَوْأَثَرًا أَوْإِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضَّلاَلِ وَمَاأُحْدِثَ مِنَ الخَيْرِ لاَيُخَالِفُ شَيْئاً مِنْ ذَالِكَ فَهِيَ مُحْدَثَةٌ غَيْرَ مَذْمُوْمَةٍ

Sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) ada dua macam: Sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah Nabi SAW, prilakuk sahabat, atau kesepakatan ulama maka termasuk bid’ah yang sesat; adapun sesuatu yang diada-adakan adalah sesuatu yang baik dan tidak menyalahi ketentuan (al Qur’an, Hadits, prilaku sahabat atau Ijma’) maka sesuatu itu tidak tercela (baik). (Fathul Bari, juz XVII: 10)

Juga realitas di dunia Islam dapat menjadi pertimbangan untuk jawaban kepada mereka yang melarang maulid Nabi SAW. Ternyata fenomena tradisi maulid Nabi SAW itu tidak hanya ada di Indonesia, tapi merata di hampir semua belahan dunia Islam. Kalangan awam diantara mereka barangkali tidak tahu asal-usul kegiatan ini. Tetapi mereka yang sedikit mengerti hukum agama berargumen bahwa perkara ini tidak termasuk bid`ah yang sesat karena tidak terkait dengan ibadah mahdhah atau ritual peribadatan dalam syariat.

Buktinya, bentuk isi acaranya bisa bervariasi tanpa ada aturan yang baku. Semangatnya justru pada momentum untuk menyatukan semangat dan gairah ke-islaman. Mereka yang melarang peringatan maulid Nabi SAW sulit membedakan antara ibadah dengan syi’ar Islam. Ibadah adalah sesuatu yang baku (given/tauqifi) yang datang dari Allah SWT, tetapi syi’ar adalah sesuatu yang ijtihadi, kreasi umat Islam dan situasional serta mubah.

Perlu dipahami, sesuatu yang mubah tidak semuanya dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Imam as-Suyuthi mengatakan dalam menananggapi hukum perayaan maulid Nabi SAW:

وَالجَوَابُ عِنْدِيْ أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ المَوْلِدِ الَّذِيْ هُوَ اِجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَأَةُ مَاتَيَسَّّرَ مِنَ القُرْآنِ وَرِوَايَةُ الأَخْبَارِ الوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَأِ أَمْرِالنَّبِيّ صَلَّّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّّمَ مَاوَقَعَ فِيْ مَوْلِدِهِ مِنَ الاَياَتِ ثُمَّ يَمُدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَهُ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَالِكَ مِنَ البِدَعِ الحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيْ صََلََّى اللهُُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِالفَرَحِ وَالِاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ

Menurut saya asal perayaan maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu tergolong bid’ah hasanah(sesuatu yang baik). Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhamad saw yang mulia. (Al- Hawi Lil-Fatawa, juz I, h. 251-252)

Pendapat Ibnu Hajar al-Haithami: “Bid’ah yang baik itu sunnah dilakukan, begitu juga memperingati hari maulid Rasulullah SAW.”

Pendapat Abu Shamah (guru Imam Nawawi): ”Termasuk hal baru yang baik dilakukan pada zaman ini adalah apa yang dilakukan tiap tahun bertepatan pada hari kelahiran Rasulullah saw. dengan memberikan sedekah dan kebaikan, menunjukkan rasa gembira dan bahagia, sesungguhnya itu semua berikut menyantuni fakir miskin adalah tanda kecintaan kepada Rasulullah SAW dan penghormatan kepada beliau, begitu juga merupakan bentuk syukur kepada Allah atas diutusnya Rasulullah SAW kepada seluruh alam semesta”.

Untuk menjaga agar perayaan maulid Nabi SAW tidak melenceng dari aturan agama yang benar, sebaiknya perlu diikuti etika-etika berikut:

1. Mengisi dengan bacaan-bacaan shalawat kepada Rasulullah SAW.
2. Berdzikir dan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.
3. Membaca sejarah Rasulullah SAW dan menceritakan kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan beliau.
4. Memberi sedekah kepada yang membutuhkan atau fakir miskin.
5. Meningkatkan silaturrahim.
6. Menunjukkan rasa gembira dan bahagia dengan merasakan senantiasa kehadiran Rasulullah SAW di tengah-tengah kita.
7. Mengadakan pengajian atau majlis ta’lim yang berisi anjuran untuk kebaikan dan mensuritauladani Rasulullah SAW.

Penulis :
HM Cholil Nafis MA
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PBNU

Penjelasan Mengenai Rebo Wekasan

hari ini tepatnya tgl 9 januari 2013 ato bertepatan pada hari Rabu terakhir pada bulan shafar, dlm istilah orang jawa sering dikenal dengan rebo wekasan. berikut sedikit penjelasan mengenai rebo wekasan.
bulan shafar adalah bulan kedua dalam penanggalan hijriyah Islam. Sebagaimana bulan lainnya, ia merupakan bulan dari bulan-bulan Allah yang tidak memiliki kehendak dan berjalan sesuai dengan apa yang Allah ciptakan untuknya.
Masyarakat jahiliyah kuno, termasuk bangsa Arab, sering mengatakan bahwa bulan Shafar adalah bulan sial. Tasa’um (anggapan sial) ini telah terkenal pada umat jahiliah dan sisa-sisanya masih ada di kalangkan muslimin hingga saat ini.

Abu Hurairah berkata, bersabda Rasulullah,

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنْ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنْ الْأَسَدِ

“Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada bulan Shafar. Menghindarlah dari penyakit kusta sebagaimana engkau menghindari singa.” (H.R.Imam al-Bukhari dan Muslim).

Ungkapan hadits laa ‘adwaa’ atau tidak ada penularan penyakit itu, bermaksud meluruskan keyakinan golongan jahiliyah, karena pada masa itu mereka berkeyakinan bahwa penyakit itu dapat menular dengan sendirinya, tanpa bersandar pada ketentuan dari takdir Allah.

Sakit atau sehat, musibah atau selamat, semua kembali kepada kehendak Allah. Penularan hanyalah sebuah sarana berjalannya takdir Allah. Namun, walaupun keseluruhannya kembali kepada Allah, bukan semata-mata sebab penularan, manusia tetap diwajibkan untuk ikhtiar dan berusaha agar terhindar dari segala musibah. Dalam kesempatan yang lain Rasulullah bersabda: “Janganlah onta yang sakit didatangkan pada onta yang sehat”.

Maksud hadits laa thiyaarota atau tidak diperbolehkan meramalkan adanya hal-hal buruk adalah bahwa sandaran tawakkal manusia itu hanya kepada Allah, bukan terhadap makhluk atau ramalan. Karena hanyalah Allah yang menentukan baik dan buruk, selamat atau sial, kaya atau miskin. Dus, zaman atau masa tidak ada sangkut pautnya dengan pengaruh dan takdir Allah. Ia sama seperti waktu- waktu yang lain, ada takdir buruk dan takdir baik.

Empat hal sebagaimana dinyatakan dalam hadits di atas itulah yang ditiadakan oleh Rasulullah dan ini menunjukkan akan wajibnya bertawakal kepada Allah, memiliki tekad yang benar, agar orang yang kecewa tidak melemah di hadapkan pada perkara-perkara tersebut.

Bila seorang muslim pikirannya disibukkan dengan perkara-perkara tersebut, maka tidak terlepas dari dua keadaan. Pertama: menuruti perasaan sialnya itu dengan mendahulukan atau meresponsnya, maka ketika itu dia telah menggantungkan perbuatannya dengan sesuatu yang tidak ada hakikatnya. Kedua: tidak menuruti perasaan sial itu dengan melanjutkan aktivitasnya dan tidak memedulikan, tetapi dalam hatinya membayang perasaan gundah atau waswas. Meskipun ini lebih ringan dari yang pertama, tetapi seharusnya tidak menuruti perasaan itu sama sekali dan hendaknya bersandar hanya kepada Allah.

Penolakan akan ke empat hal di atas bukanlah menolak keberadaannya, karena kenyataanya hal itu memang ada. Sebenarnya yang ditolak adalah pengaruhnya. Allah-lah yang memberi pengaruh. Selama sebabnya adalah sesuatu yang dimaklumi, maka sebab itu adalah benar. Tapi bila sebabnya adalah sesuatu yang hanya ilusi, maka sebab tersebut salah.

Muktamar NU yang ketiga, menjawab pertanyaan “bolehkah berkeyakinan terhadap hari naas, misalnya hari ketiga atau hari keempat pada tiap-tiap bulan, sebagaimana tercantum dalam kitab Lathaiful Akbar” memilih pendapat yang tidak mempercayai hari naas dengan mengutip pandangan Syekh Ibnu Hajar al-Haitamy dalam Al-Fatawa al-Haditsiyah berikut ini:

“Barangsiapa bertanya tentang hari sial dan sebagainya untuk diikuti bukan untuk ditinggalkan dan memilih apa yang harus dikerjakan serta mengetahui keburukannya, semua itu merupakan perilaku orang Yahudi dan bukan petunjuk orang Islam yang bertawakal kepada Sang Maha Penciptanya, tidak berdasarkan hitung-hitungan dan terhadap Tuhannya selalu bertawakal. Dan apa yang dikutip tentang hari-hari nestapa dari sahabat Ali kw. Adalah batil dan dusta serta tidak ada dasarnya sama sekali, maka berhati-hatilah dari semua itu” (Ahkamul Fuqaha’, 2010: 54).

Indikasi Kesialan dalam Quran dan Hadits

Mungkin ada pertanyaan, bagaimana dengan firman Allah Ta’ala, yang artinya:’’Kaum ‘Aad pun mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku, Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus. yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang” (Q.S al-Qamar (54:18-20).

Imam al-Bagawi dalam tafsir Ma’alim al-Tanzil menceritakan, bahwa kejadian itu (fi yawmi nahsin mustammir) tepat pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Orang Jawa pada umumnya menyebut Rabu itu dengan istilah Rabu Wekasan. Hemat penulis, penafsiran ini hanya menunjukkan bahwa kejadian itu bertepatan dengan Rabu pada Shafar dan tidak menunjukkan bahwa hari itu adalah kesialan yang terus menerus.

Istilah hari naas yang terus menerus atau yawmi nahsin mustammir juga terdapat dalam hadis nabi. Tersebut dalam Faidh al-Qadir, juz 1, hal. 45, Rasulullah bersabda, “Akhiru Arbi’ai fi al-syahri yawmu nahsin mustammir (Rabu terakhir setiap bulan adalah hari sial terus).”

Hadits ini lahirnya bertentangan dengan hadits sahih riwayat Imam al-Bukhari sebagaimana disebut di atas. Jika dikompromikan pun maknanya adalah bahwa kesialan yang terus menerus itu hanya berlaku bagi yang mempercayai. Bukankah hari-hari itu pada dasarnya netral, mengandung kemungkinan baik dan jelek sesuai dengan ikhtiar perilaku manusia dan ditakdirkan Allah.

Bagaimana dengan pandangan Abdul Hamid Quds dalam kitabnya Kanzun Najah Was-Surur Fi Fadhail Al-Azminah wash-Shuhur (penulis sendiri terus terang belum mengetahui dan meneliti kebenaran nama dan kitab ini, bahkan dalam beberapa tulisan kitab ini disebut dengan Kanzun Najah Was-Suraar Fi Fadhail Al-Azmina Wash-Shuhaar dan Kanju al-Najah wa al-Surur fi al-Adiyati al-Lati Tasrohu al-Sudur) yang menjelaskan: banyak para Wali Allah yang mempunyai pengetahuan spiritual yang tinggi mengatakan bahwa pada setiap tahun, Allah menurunkan 320.000 macam bala bencana ke bumi dan semua itu pertama kali terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar.

Oleh sebab itu hari tersebut menjadi hari yang terberat di sepanjang tahun. Maka barangsiapa yang melakukan shalat 4 rakaat (nawafil, sunnah), di mana setiap rakaat setelah al-Fatihah dibaca surat al-Kautsar 17 kali lalu surat al-Ikhlash 5 kali, surat al-Falaq dan surat an-Naas masing-masing sekali; lalu setelah salammembaca do’a, maka Allah dengan kemurahan-Nya akan menjag a orang yang bersangkutan dari semua bala bencana yang turun di hari itu sampai sempurna setahun.

Mengenai amalan-amalan tersebut di atas, mengutip KH. Abdul Kholik Mustaqim, Pengasuh Pesantren al-Wardiyah Tambakberas Jombang, para ulama yang menolak adanya bulan sial dan hari nahas Rebo Wekasan berpendapat (dikutip dengan penyesuaian):

Pertama, tidak ada nash hadits khusus untuk akhir Rabu bulan Shofar, yang ada hanya nash hadits dla’if yang menjelaskan bahwa setiap hari Rabu terakhir dari setiap bulan adalah hari naas atau sial yang terus menerus, dan hadits dla’if ini tidak bisa dibuat pijakan kepercayaan.

Kedua, tidak ada anjuran ibadah khusus dari syara’.Ada anjuran dari sebagian ulama’ tasawwuf namun landasannya belum bisa dikategorikan hujjah secara syar’i.

Ketiga, tidak boleh, kecuali hanya sebatas sholat hajat lidaf’ilbala’almakhuf (untuk menolak balak yang dihawatirkan) atau nafilah mutlaqoh (sholat sunah mutlak) sebagaimana diperbolehkan oleh Syara’, karena hikmahnya adalah agar kita bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Mengutip pandangan Rais Syuriah PWNU Jawa Timur, KH Miftakhul Akhyar tentang hadits kesialan terus menerus pada Rabu terakhir tiap bulan, dinyatakan:

“Naas yang dimaksud adalah bagi mereka yang meyakininya, bagi yang mempercayainya, tetapi bagi orang-orang yang beriman meyakini bahwa setiap waktu, hari, bulan, tahun ada manfaat dan ada mafsadah, ada guna dan ada madharatnya. Hari bisa bermanfaat bagi seseorang, tetapi juga bisa juga naas bagi orang lain…artinya hadits ini jangan dianggap sebagai suatu pedoman, bahwa setiap Rabu akhir bulan adalah hari naas yang harus kita hindari. Karena ternyata pada hari itu, ada yang beruntung, ada juga yang buntung. Tinggal kita berikhtiar meyakini, bahwa semua itu adalah anugerah Allah.” Wallahu ‘A’lam.

HASIL KEPUTUSAN FMPP 25 NURUL IHSAN AN NUR LUMAJANG 2012_C

HASIL KEPUTUSAN

BAHTSUL MASAIL FMPP KE-24  SE-JAWA  MADURA

DI PP. NURUL IHSAN AN NUR TEMPEH LUMAJANG

Rabu-Kamis 12-13 Shafar 1434 H. | 26-27 Desember 2012 M.

Komisi C

MUSHOHIH

PERUMUS

MODERATOR

1. KH. Muhibbul Aman 1. Bpk. Abdul Mannan Ust. Fahrurrozi
2. KH. Hadziq 2. Bpk. H. Munir Akromin
3. KH. Su’ud Abdillah 3. Bpk. Dinul Qoyyim

NOTULEN

4. KH. M. Masruhan 4. Bpk. Hanif 1. Ust. M. Musta’in
5. K. Suhaeri 5. Bpk. Darul Azka 2. Ust. M. Zainul Millah
6. Agus H. Dahlan Ridwan 6. Bpk. Syahrul Munir  
7. Agus H. Adibussholeh Anwar 7. Bpk. Ma’rifatus Solihin  
8. K. Anang Darunnaja    
     
     

01.    NYICIL AQIQOH | LPI Al Hamidy Banyuanyar Pamekasan

Deskripsi Masalah

Anak merupakan buah hati yang sangat diidamkan oleh pasangan suami istri, begitu sang buah hati lahir, kehidupan akan terasa lebih berwarna. Inilah yang dialami oleh Bapak Bakri ketika mendapatkan seorang anak laki-laki. Namun ketika dia ingin meng-aqiqoh’i anaknya, dia hanya mampu untuk membeli satu ekor kambing saja. Akhirnya diapun menyembelih kambing tersebut sebagai aqiqoh. Dua tahun kemudian, kehidupan Bapak Bakri berubah menjadi sukses. Teringat dulu hanya menyembelih satu ekor kambing, diapun menyembelih satu ekor kambing lagi.

Di sisi lain, sekarang ini banyak jasa yang menawarkan penyembelihan aqiqoh, prosesnya yaitu orang yang hendak aqiqoh cukup memberikan sejumlah uang pada pengelola jasa. Selanjutnya mengenai pengadaan hewan, penyembelihan, serta pengolahan daging sepenuhnya ditangani oleh pihak pengelola jasa. Sedangkan bagi pengguna jasa tersebut hanya mengetahui hasil jadinya sesuai dengan pesanan, semisal harga 500 ribu maka yang akan diterima adalah sate 30 porsi dan gule 20 porsi.

Nb.     Pengguna jasa tidak tahu menahu terhadap hewan yang digunakan aqiqoh dan proses penyembelihannya.

Pertanyaan:

a.        Apakah praktek penyembelihan yang kedua dikatakan aqiqoh?

Jawaban

a.        Tidak bisa dikatakan aqiqoh, namun apabila orang tua melakukanya, maka tuntutan aqiqoh terhadap anak menjadi gugur.

REFERENSI

1. Hasyiyah al-Jamal, juz. 1, hal. 225

3. Hasyiyah Nihayah al-Muhtaj, juz. 8, Hal.146

2. Al-Hawi lilfatawi lissuyuthi,  juz. 1, hal. 188

  1. حاشية الجمل   جـ  1 صـ 225

(سن لمن تلزمه نفقة فرعه ) بتقدير فقره ( أن يعق عنه ) ولا يعق عنه من ماله ويعتبر يساره قبل مضي مدة النفاس وذكر من يعق من زيادتي

( قوله ويعتبر يساره ) أي بما يعتبر في زكاة الفطر ، وقوله قبل مضي إلخ أي فإن أيسر قبل ستين يوما طلبت منه إلى بلوغ الولد وإن لم يوسر إلا بعد الستين لم تطلب منه وإن أيسر قبل بلوغ الولد هذا هو المراد ا هـ شيخنا . وعبارة الشوبري فإن أيسر بعد مدة النفاس فلا تندب له قاله في العباب قال في الإيعاب وهو كتعبيرهم بلا يؤمر بها صريح في أن الأصل الموسر بعد الستين لو فعلها قبل البلوغ لم تقع عقيقة بل شاة لحم وهل فعل المولود لها بعد البلوغ كذلك ؛ لأن أصله لما لم يخاطب بها كان هو كذلك أو تحصل بفعله مطلقا ؛ لأنه مستقل فلا ينتفي الندب في حقه بانتفائه في حق أصله . كل محتمل ، وظاهر إطلاقهم الآتي أن من بلغ ولم يعق أحد عنه فيسن له أن يعق عن نفسه يشهد للثاني ا هـ انتهت

  1. الحاوي للفتاوي ـ للسيوطى جـ  1 صـ  188

قلت : وقد ظهر لي تخريجه على أصل آخر وهو ما أخرجه البيهقي عن أنس أن النبي g عق عن نفسه بعد النبوة مع أنه قد ورد أن جده عبد المطلب عق عنه في سابع ولادته والعقيقة لا تعاد مرة ثانية ، فيجعل ذلك على أن الذي فعله النبي g إظهار للشكر على إيجاد الله إياه رحمة للعالمين وتشريع لأمته كما كان يصلي على نفسه لذلك فيستحب لنا أيضاً إظهار الشكر بمولده بالاجتماع وإطعام الطعام ونحو ذلك من وجوه القربات وإظهار المسرات.

  1. حاشية الشبراملسي علة نهاية المحتاج  جـ 8  صـ 146

( يسن ) سنة مؤكدة ( أن يعق عن ) الولد بعد تمام انفصاله لا قبله كما هو الظاهر من كلامهم ، والعاق هو من تلزمه نفقته بتقدير فقره من مال نفسه دون ولده بشرط كون العاق موسرا : أي يسار الفطرة فيما يظهر قبل مضي مدة أكثر النفاس ولا تفوت بالتأخير ، وإذا بلغ بلا عق سقط سن العق عن غيره ، وهو مخير فيه عن نفسه وعقه g عن الحسن وأخيه لأنهما كانا في نفقته لإعسار والديهما أو كان بإذن أبيهما ،

( قوله : لا قبله ) أي فإن فعل لم يقع عقيقة ( قوله : قبل مضي مدة أكثر النفاس ) مفهومه أنه إذا استمر معسرا حتى مضت مدة النفاس لا يطالب بها بعد ، وعليه فلعل المراد من قوله ولا تفوت بالتأخير أنه لو أيسر قبل فوات أكثر مدة النفاس لا يفوت بالتأخير ، بخلاف ما لو أعسر إلى ذلك فإنها لا تطلب منه ، ومع ذلك لو فعلها سقط الطلب عن الولد بعد ذلك

Pertanyaan:

b.       Apakah praktek di atas (jasa penyembelihan aqiqoh) sudah dianggap cukup sebagai aqiqoh?

Jawaban

b.       Praktek di atas bisa sah dengan model sebagai berikut :

Penyedia jasa menjual kambing kepada pemesan dan diserahkan kepada pemesan. kemudian dilakukan taukil   dzabhi disertai niat aqiqoh untuk pemesan. Sedangkan untuk biaya masak dan lain-lain, penjual dapat memasukkan dalam harga jual kambing, yakni penjual menetapkan harga kambing setelah memperhitungkan biaya yang dibutuhkan untuk memasak sehingga dalam akad jual belinya tidak perlu memerinci biaya masak dan lain-lain.

REFERENSI

1. Mughni al Muhtaj, Juz 3, Hal. 233

2. Hasyiyah al-Jamal, juz. 2, hal. 355

  1. مغني المحتاج  جـ 3 صـ233

كتاب الوكالة شرط الموكل صحة مباشرته ما وكل فيه بملك أو ولاية  فقال ( شرط الموكل صحة مباشرته ما وكل ) بفتح الواو ( فيه ) وهو التصرف المأذون فيه ( بملك ) كتوكيل نافذ التصرف في ماله ( أو ولاية ) كتوكيل الأب أو الجد في مال موليه فلا يصح توكيل صبي ولا مجنون

 قوله ( فلا يصح توكيل صبي ولا مجنون ) ولا مغمى عليه ولا نائم في التصرفات ولا فاسق في نكاح ابنته ، إذ لا تصح مباشرتهم لذلك ، فإذا لم يقدر الأصل على تعاطي الشيء فنائبه أولى أن لا يقدر ، واحترز بالملك والولاية عن الوكيل فإنه لا يوكل عند الإطلاق على تفصيل يأتي فإنه ليس بمالك ولا ولي .

  1. حاشية الجمل  جـ 2 صـ  355

( تنبيه ) اعلم أن الصفقة لا تتعدد بتعدد المثمن فقط كما إذا قال بعتك هذا العبد وهذا الثوب بدينار ولا بتعدد الثمن فقط كما إذا قال بعتك هذا بدرهم وبدينار وبثوب وإنما يتعدد بتعددهما ا هـ . م ر انتهت , والحاصل أن التعدد إنما يكون إذا فصل البادي من البائع أو المشتري دون القابل فإذا فصل الموجب وأجمل القابل كان العقد متعددا حملا للإجمال على التفصيل ولو أجمل الموجب وفصل القابل لا يتعدد العقد حملا للتفصيل على الإجمال هذا هو المفهوم من كلام الأصحاب هنا وجرى عليه شيخنا كحج حيث قالا بعد قول المصنف وتتعدد الصفقة بتفصيل الثمن ما نصه ممن ابتدأ بالعقد لترتب كلام الآخر عليه ا هـ . لكن في الإيعاب والحاصل أن التفصيل إن كان منهما تعددت قطعا أو من الموجب أو القابل فكذلك على الأصح كما أفاده قول الرافعي والنووي في الروضة في الجمع في النكاح بين حرة وأمة لو فصل المزوج فقال الزوج قبلت نكاحهما أو جمع المزوج وفصل الزوج هل هو كما لو فصلا جميعا أو كما جمعا ؟ وجهان أصحهما الأول ا هـ . حلبي

02.    USG, QOWABIL MASA KINI…!? | PP. DMU Podokaton Pasuruan

Deskripsi Masalah

USG (ultrasonografi) adalah sebuah alat canggih yang mampu melihat keberadaan hal-hal yang ada dalam tubuh kita. Degan kemampuannya tersebut, alat ini digunakan oleh para ahli medis untuk mengetahui adanya penyakit seperti halnya tumor. Disamping itu USG juga digunakan untuk melihat keberadaan janin dalam rahim wanita, melihat posisi janin dan bahkan juga bisa melihat jenis kelamin dari janin.

Dalam literatur fiqih diterangkan bahwa, ketika ada perempuan hamil yang meninggal, maka tidak boleh untuk dikuburkan sebelum dipastikan bahwa janin yang ada benar-benar meninggal, dan dalam permasalahan ini pernyataan dari qowabil bisa dii’tibar.

Pertanyaan:

a.        Apakah USG bisa dibuat i’timad seperti halnya pernyataan qowabil dalam masalah perempuan hamil yang meninggal?

Jawaban

a.        Bisa, sebab USG dapat mengantarkan pada Dugaan kuat (Gholabah adz-dzhon).

REFERENSI

1. Nihayah az-Zain, hal. 155

3. Ianah at-Tholibin,  juz. 2, hal. 122

2. kasyifah as-Sajja, hal. 255

4. Mausuah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah,  juz. 16,  hal. 279

  1. نهاية الزين في إرشاد المبتدئين  صـ 155

( و ) ينبش القبر أيضا فيما لو دفنت امرأة حامل بجنين ترجى حياته بأن يكون له ستة أشهر فأكثر فيشق جوفها والشق في القبر أولى لأنه أسترنعم لا يجوز تأخيره إليه إلا إن غلب على الظن بقول الخبراء بسلامة الجنين لو أخر إليه فإن لم ترج حياته حرم الشق لكن ( لا تدفن امرأة في بطنها جنين حتى يتحقق موته ) ولو تغيرت لئلا يدفن الحمل حيا وقول التنبيه ترك عليه شيء حتى يموت ضعيف بل غلط فاحش فليحذر ومع ذلك لا ضمان فيه مطلقا بلغ ستة أشهر أو لا لعدم تيقن حياته

  1. كاشفة السجا في شرح سفينة النجا  صـ 255

 (و) رابعها: (للمرأة إذا دفن جنينها معها وأمكنت حياته) بأن يكون له ستة أشهر فأكثر فيجب النبش تداركاً للواجب لأنه يجب شق جوفها قبل الدفن، فإن لم ترج حياته بقول القوابل حرم الشق لكن تخرج من القبر ويؤخر الدفن حتى يموت، ومن الغلط أن يقال يوضع نحو حجر على بطنها ليموت فإن فيه قتلاً للجنين،

  1. إعانة الطالبين  جـ 2 صـ 122

أما إذا رجي حياته بقول القوابل لبلوغه ستة أشهر فأكثر فيجب شق جوفها قبل الدفن ولا يؤخر الدفن ويترك في بطن أمه حتى يموت فإن دفنت قبل الشق وجب النبش والشق

( قوله ويجب شق جوفها إلخ ) أي لأن مصلحة إخراجه أعظم من مفسدة انتهاك حرمتها

  1. الموسوعة الفقهية الكويتية  جـ 16 صـ 279

فصل النووي في المجموع فقال : إن رجي حياة الجنين وجب شق بطنها وإخراجه ، وذلك بأن يكون له ستة أشهر فأكثر ، فإن لم ترج حياته فثلاثة أوجه : أصحها لا تشق لكنها لا تدفن حتى يموت الجنين . (4)المجموع للنووي 5 / 302 ، ونهاية المحتاج 3 / 39 . ملحوظة : العمدة في هذه المسألة قول ثقات الأطباء ، فإن غلب على الظن أن الجنين يحيا يجوز إخراجه بشق البطن ، بل يجب .

Pertanyaan:

b.       Apakah USG bisa dibuat i’timad dalam menentukan ada dan tidaknya janin terkait masalah iddah?

Jawaban

b.  Tidak bisa dibuat I’timad kecuali dalam sebagian masalah seperti untuk menentukan masa    iddahnya menggunakan kehamilan (wadhu’ hamli)  atau aqro’ (masa suci).

REFERENSI

1. Ianah at-Tholibin, juz 4, hal. 38-39

5. Hasyiah as-Syarwani, juz 8, hal. 378

2. al-hawi lil-fatawi, juz 1, hal. 214

6. Hasyiah al-Jamal, juz 9, hal. 144

3. Bugyah al-Mustarsyidin hal 238

7. fatawi al-kubro juz 4, hal. 200

4. al-majmu’, juz 8 hal. 149

  1.  إعانة الطالبين  جـ 4 صـ 38-39

 ( تجب عدة لفرقة زوج حي ) بطلاق أو فسخ نكاح حاضر أو غائب مدة طويلة ( وطيء ) في قبل أو دبر بخلاف ما إذا لم يكن وطىء وإن وجدت خلوة ( وإن تيقن براءة رحم ) كما في صغيرة وصغير ( ولوطء ) حصل مع ( شبهة ) في حله كما في نكاح فاسد وهو كل ما لم يوجب حدا على الواطيء

 [قوله وإن تيقن براءة رحم] غاية في وجوب العدة على الموطوءة أي تجب العدة عليها وإن تيقن ذلك وذلك لأن العدة إنما وجبت لعموم الأدلة ولأن المغلب فيها جهة التعبد كما تقدم [قوله كما في صغيرة وصغير] تمثيل للمتيقن براءة رحمها وكون الزوج صغيرا ليس بقيد في تيقن براءة رحمها بل متى كانت صغيرة تيقن ذلك ولو كان كبيرا.

  1. الحاوي للفتاوي ـ للسيوطى جـ 1  صـ 214

مسألة : زوجة خرجت من منزل الزوج بغير إذنه إلى منزل أبيها وأقامت به مدة وطلقها الزوج طلاقاً بائناً واستمرت نحو عشرة أشهر وادعت أنه مشتملة منه على حمل فهل تستحق النفقة والكسوة للمدة الماضية ؟ وهل القول قوله أنها خرجت من منزله بغير إذنه أو يحتاج إلى بينة ؟ وهل يثبت موت الحمل في بطن أمه بالبينة أم لا ؟

الجواب : إذا طلقت الناشز وهي حامل ففي استحقاقها النفقة رأيان مبنيان على أن النفقة هل هي للحمل أو لها بسبب الحمل . فإن قلنا : للحمل استحقت أو لها بسببه لم تستحق وهذا القول الثاني أظهر وهو أنها لها فلا تستحق – الى أن قال- وأما ثبوت موت الحمل في بطن أمه بالبينة فقد رجحوا ثبوت الحمل نفسه بالبينة لأن له مخائل وقرائن يظهر بها ، ومقتضى هذا أن موته في البطن أيضاً يثبت بها لأن لذلك مخائل يعرفها النساء والأطباء ، وإذا ثبت موته أو وضع ميتاً استحقت النفقة والكسوة إلى آخر يوم الوضع بناء على الأظهر أن النفقة لها لا للحمل والكلام في غير صورة النشوز ، وللمدعى عليه أن يقدح في البينة بالفسق ويفسر ذلك بالتقصير في تعلم واجبات الصلاة

  1. بغية المسترشدين  صـ 238

(مسألة) تنقضي عدة الحامل بوضعه ولو ميتاً أو مضغة قال القوابل : إنها مبدأ خلق آدمي ولو مات في بطنها واستمر أكثر من أربع سنين لم تنقض إلا بوضعه أيضاً وإن تضررت وخافت الزنا ولم تسقط نفقتها كما لو استمر حياً في بطنها حيث ثبت وجوده ولم يحتمل وضع ولا وطء ولا ينافي ذلك قولهم أكثر مدة الحمل أربع سنين لأنه في مجهول البقاء حتى لا يلحق المطلق إذا زاد على الأربع وكلامنا في معلومه زيادة على الأربع هذا هو الذي يظهر وهو الحق إن شاء الله تعالى قاله سم. وقال ع ش وهو ظاهر : لكن يبقى الثبوت بماذا ؟ لأنه حيث علم أن أكثر مدته أربع سنين وزادت المدة كان الظاهر من ذلك انتفاء الحمل وأن ما تجده في بطنها من نحو الحركة ليس مقتضياً لكونه حملاً نعم إن ثبت بقول معصوم كعيسى عليه السلام وجب العمل به اهـ. ولو شكت حال العدة في الحمل لنحو ثقل وحركة حرم نكاحها حتى تزول الريبة بأمارة قوية فلو تزوّجت بعد انقضاء العدة مع بقاء الريبة ثم بان أن لا حمل صح النكاح خلافاً لـ (م ر) وإن شكت بعد انقضائها سنّ لها التوقف.

  1. المجموع  جـ 8  صـ 149

فإذا رأت المعتدة أمارات الحمل من حركة أو نفحة أو نحوهما وشكت هل هو حمل أم لا ؟ فإذا حدثت الريبة قبل انقضاء عدتها فإنما تبقى في حكم الاعتداد حتى تزول الريبة فإن بان حملا انقضت عدتها بوضعه فإن زالت وبان أنه ليس يحمل تبينا أن عدتها انقضت بالقروء أو الشهور فإن زوجت قبل زوال الريبة فالنكاح باطل لانها تزوجت وهى في حكم المعتدات في الظاهر

  1. حاشية الشروانى   جـ 8  صـ 378

(ولو) (ارتابت) أي شكت في أنها حامل لوجود ثقل أو حركة (فيها) أي العدة بأقراء أو أشهر (لم تنكح) آخر بعد الأقراء أو الأشهر (حتى تزول الريبة) بأمارة قوية على عدم الحمل ويرجع فيها للقوابل إذ العدة لزمتها بيقين فلا تخرج منها إلا بيقين فإن نكحت مرتابة فباطل وإن بان أن لا حمل وفارق نظائره بأنه يحتاط للشك في حل المنكوحة لكونها المقصودة بالذات ما لا يحتاط في غيرها (في إنها الخ) فيه مع قول المتن فيها تعلق الجارين بعامل واحد بدون اتباع عبارة أي شكت فيها أي العدة بأن لم يظهر لها الحمل بإمارة وإنما ارتابت بثقل أو حركة تجدها وهي ظاهرة

قوله: (ويرجع فيها) أي في زوال الريبة والتأنيث باعتبار المضاف إليه ويحتمل أن الضمير للامارة قوله: (إلا بيقين) قضية قوله السابق بإمارة قوية الخ إن المراد باليقين ما يشمل الظن القوى

  1. حاشية الجمل  جـ 9 صـ 144

( ولو ارتابت ) أي شكت وهي ( في عدة ) في وجود ( حمل ) لثقل وحركة تجدهما ( لم تنكح ) آخر ( حتى تزول الريبة ) فإن نكحت فالنكاح باطل للتردد في انقضاء العدة ( أو ) ارتابت ( بعدها ) أي بعد العدة ( سن صبر ) عن النكاح ( لتزول ) الريبة ، والتصريح بالسن من زيادتي ( فإن نكحت ) قبل زوالها ( أو ارتابت بعد نكاح ) لا آخر ( لم يبطل ) أي النكاح لانقضاء العدة ظاهرا

( قوله : حتى تزول الريبة ) بأن تقول القوابل لا حمل بأمارة تقوم على ذلك عندهن ا هـ ح ل وفي شرح م ر حتى تزول الريبة بأمارة قوية على عدم الحمل ويرجع فيها للقوابل إذ العدة لزمتها بيقين فلا تخرج منها إلا بيقين ا هـ .

  1. الفتاوى الفقهية الكبرى جـ 4 صـ 200

وسئل نفع الله تعالى به عن قول الأصحاب لو انقضت عدتها بالإقراء وهي مرتابة بالحمل حرم نكاحها حتى تزول الريبة ما الذي يحصل به زوال الريبة هل هو انقضاء أكثر مدة الحمل كما تقتضيه العلة أم غير ذلك؟ بينوا لنا ذلك موضحاً ولكم الأجر والثواب. فأجاب بقوله: الذي دل عليه كلامهم أن الريبة بالحمل متى كانت لقرينة كثقل وحركة اعتبر زوال تلك القرينة فإذا زالت زال سبب الريبة فيجوز نكاحها حينئذ وإن لم يمض عليها أكثر الحمل لأن المانع هو الريبة وهي إنما تنشأ عن قرينة فإذا زالت تلك القرينة زالت الريبة وانتفى المانع ولا نظر لاحتمال الحمل وإن زالت تلك القرينة لأن الأصل عدمه وكان القياس تقديم هذا الأصل على تلك القرينة وأن لا يلتفت إليها لقاعدة أن الأصل مقدم على الظاهر الذي لم يستند إلى العيان وهذا كذلك لكن مزيد الاحتياط للإبضاع الذي كثر تشوف الشارع إليه أوجب تقديم الظاهر هنا على الأصل مطلقاً فإذا زال ذلك الظاهر بزوال سببه من نحو الثقل والحركة عمل الأصل عمله لأنه لاَّ معارض له حينئذ فاتضح ما ذكرته من أن المراد بزوال الريبة زوال سببها الموجب لها لا تيقن خلو الجوف عن الولد فإن قلت ينافي ذلك قولهم لو انقضت عدتها بالإقراء أو الأشهر وهي مرتابة بالحمل حرم نكاحها على آخر حتى تزول الريبة لأن العدة لزمتها بيقين فلا تخرج عنها إلا بيقين قلت لا ينافيه لأن مرادهم باليقين زوال التردد بزوال سببه الذي قدمته لا اليقين العقلي ومما يصرح بأن هذا هو مرادهم تعبير الشيخين بقولهما فإن نكحت فالنكاح باطل للتردد في انقضائها فعلمنا أن المبطل هو التردد فحيث وجد لأمارة منع صحة النكاح وحيث انتفى لانتفاء تلك الأمارة صح النكاح والله سبحانه وتعالى أعلم.

 

 

 

MUSHOHIH

PERUMUS

MODERATOR

1. KH. Muhibbul Aman 1. Bpk. Abdul Manan Ust. Anwar Saddad
2. KH. Hadziq 2. K. Ali Makky Zaini
3. KH. Su’ud Abdillah 3. Bpk. Dinul Qoyyim

NOTULEN

4. KH. M. Masruhan 4. Bpk. H. Munir Akromin 1. Ust. M. Musta’in
5. K. Suhaeri 8. Bpk. Hanif 2. Ust. M. Zainul Millah
6. Agus H. Bahrul Huda 6. Bpk. Syahrul Munir  
7. Agus H. Dahlan Ridwan 7. Bpk. Ma’rifatus Sholihin  
8. Agus H. Adibussholeh Anwar 8. Bpk. Anas  
9. K. Anang Darunnaja 9. Bpk. Darul Azka  
  10. Bpk. Nawawi  

 

 

03.    SISWI CAPER PADA GURUNYA | PP. Salafiyah Al Hikmah Melaten Tulungagung

Deskripsi Masalah

Di daerah kami ada sebuah madrasah diniyyah. dikarenakan kurangnya tenaga pengajar putri (ustadzah), maka sebagian diambilkan dari tenaga pangajar putra (ustadz), sehingga tak jarang, para anak didik putri tersebut CPCP (curi pandang cari perhatian) terhadap ustadz yang lumayan ganteng dan masih jomblo tersebut. Dan CPCP-nya juga beraneka ragam, ada yang main suit, ada juga yang memanggil-manggil, atau bahkan mencoba untuk merayunya. Maklumlah namanya anak muda.

Pertimbangan:

1.       Sulit mencari guru putri.

2.       Bila tidak ada yang mengurus, maka ilmu agama akan susut.

3.       Bila di satir, maka akan buyar.

4.       Konsekwensi di atas sulit dihindari.

Pertanyaan:

a.        Bolehkah tenaga pengajar putra mengajar anak didik putri dengan adanya konsekwensi seperti di atas (CPCP)?

Jawaban

  1. Memperhatikan pertimbangan dalam soal diatas yaitu :
  • sulit mencari guru putri hissan atau syar’an
  • bila disatir maka mengajarnya tidak terlaksana secara maksimal
  • tidak adanya kholwat

Maka praktek belajar mengajar seperti dalam soal diperbolehkan apabila tidak terjadi istildzadz bin nadhor yakni melihat dengan disertai rasa senang.

REFERENSI

1. Bujairomi ‘ala Khotib, Juz 3, Hal 372

5. Tuhfah al-Muhtaj, juz. 7, hal. 242

2. Ianah at-Tholibin, juz. 3, hal. 306

6. Ianah at-Tholibin, juz. 1, hal. 272

3. Hawasyi as-Syarwani, juz.7, hal. 192

7. Is’aad ar-Rofiq, hal. 136

4. Al-mughni al-Muhtaj, juz. 3, hal. 132

  1. بجيرمي على الخطيب جـ 3  صـ 372

( أحدها نظره ) أي الرجل ( إلى ) بدن امرأة ( أجنبية ) غير الوجه والكفين ولو غير مشتهاة قصدا ( لغير حاجة ) مما سيأتي ( فغير جائز ) قطعا وإن أمن الفتنة , وأما نظره إلى الوجه والكفين فحرام عند خوف فتنة تدعو إلى الاختلاء  بها لجماع أو مقدماته بالإجماع كما قاله الإمام , ولو نظر إليهما بشهوة وهي قصد التلذذ بالنظر المجرد وأمن الفتنة حرم قطعا , وكذا يحرم النظر إليهما عند الأمن من الفتنة فيما يظهر له من نفسه من غير شهوة على الصحيح كما في المنهاج كأصله . ووجهه الإمام باتفاق المسلمين على منع النساء من الخروج سافرات الوجوه , وبأن النظر مظنة الفتنة ومحرك للشهوة

  1. حاشية إعانة الطالبين جـ 3 صـ 306

ويجوز نظر وجه المرأة عند المعاملة ببيع وغيره للحاجة إلى معرفتها وتعليم ما يجب تعلمه كالفاتحة دون ما يسن على الأوجه

(قوله: وتعليم الخ) معطوف على المعاملة: أي ويجوز نظر وجه المرأة عند تعليمها ما يجب تعلمه كالفاتحة. وأقل التشهد، وما يتعين فيه ذلك من الصنائع المحتاج إليها. قال في النهاية: ومحل جواز ذلك عند فقد جنس ومحرم صالح وتعذره من وراء حجاب ووجود مانع خلوة، أخذا مما مر في العلاج، اه. وكما يجوز النظر لها لذلك يجوز النظر للامرد لذلك، إلا أن الاوجه عدم اعتبار الشروط السابقة فيه، كما عليه الاجماع الفعلي، ويتجه اشتراط العدالة فيه وفي معلمه كالمملوك بل أولى. وقوله كالفاتحة: تمثيل لما يجب تعلمه (قوله: دون ما يسن) أي فلا يجوز نظر وجه المرأة عند تعليم ما يسن تعلمه كالسورة. وقوله على الاوجه: أي عند ابن حجر، والذي اعتمده م ر والخطيب التعميم. وعبارة الأخير والمعتمد أنه يجوز النظر للتعليم للأمرد وغيره واجبا كان أو مندوبا وإنما منع من تعليم الزوجة المطلقة لأن كلا من الزوجين تعلقت آماله بالآخر فصار لكل منهما طماعية في الآخر فمنع من ذلك

  1. حواشي الشرواني جـ 7  صـ 192

 ( ويحرم نظر فحل ) – إلى أن قال- ( بالغ ) ولو شيخاهما ومخنثا ، وهو المتشبه بالنساء عاقل مختار ( إلى عورة حرة ) – إلى أن قال- ومحل ذلك كما هو ظاهر حيث لم يخش فتنة ولا شهوة وليس منها الصوت فلا يحرم سماعه إلا إن خشي منه فتنة وكذا إن التذ به كما بحثه الزركشي ومثلها في ذلك الأمرد ( كبيرة ) ولو شوهاء بأن بلغت حدا تشتهى فيه لذوي الطباع السليمة لو سلمت من مشوه بها كما يأتي ( أجنبية ) ، وهي ما عدا وجهها وكفيها بلا خلاف لقوله تعالى { قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم } ؛ ولأنه إذا حرم نظر المرأة إلى عورة مثلها كما في الحديث الصحيح فأولى الرجل . ( وكذا وجهها ) أو بعضه ولو بعض عينها ، أو من وراء نحو ثوب يحكى ما وراءه ( وكفها ) ، أو بعضه أيضا ، وهو من رأس الأصابع إلى الكوع ( عند خوف الفتنة ) إجماعا من داعية نحو مس لها ، أو خلوة بها وكذا عند النظر بشهوة بأن يلتذ به ، وإن أمن الفتنة قطعا ( وكذا عند الأمن ) من الفتنة فيما يظنه من نفسه وبلا شهوة ( على الصحيح )

قوله ( من داعية ) بيان للفتنة اهــ  رشيدي عبارة ع ش قوله من داعية نحو مس الخ يؤخذ منه أن ضابط خوف الفتنة أن تدعوه نفسه إلى مس لها أو خلوة بها اهــ  قوله ( أو خلوة بها ) لجماع أو مقدماته اهــ

  1. مغني المحتاج جـ 3 صـ 132

و الأصح جواز نظر المرأة البالغة الأجنبية إلى بدن رجل أجنبي سوى ما بين سرته وركبته إن لم تخف فتنة ولا نظرت بشهوة لما في الصحيحين عن عائشة رضي الله تعالى عنها أنها نظرت إلى الحبشة وهم يلعبون في المسجد ولأن ما سوى ما بينهما ليس بعورة منه في الصلاة

  1. تحفة المحتاج في شرح المنهاج مع حواشي الشرواني  جـ 7 صـ 242

(ويباح النظر ) للوجه فقط ( لمعاملة ) كبيع وشراء ليرجع بالعهدة ويطالب بالثمن مثلا ( وشهادة ) تحملا وأداء لها أو عليها – إلى أن قال -ومتى خشي فتنة ، أو شهوة لم ينظر إلا إن تعين قال السبكي ومع ذلك يأثم بالشهوة ، وإن أثيب على التحمل ؛ لأنه فعل ذو وجهين وقال بعضهم : ينبغي الحل مطلقا ؛ لأن الشهوة أمر طبيعي لا ينفك عن النظر فلا يكلف الشاهد بإزالتها ولا يؤاخذ بها كما لا يؤاخذ الزوج بميل قلبه لبعض نسوته والحاكم بميل قلبه لبعض الخصوم والذي يتجه حمل الأول على ما باختياره والثاني على خلافه كما يقتضيه ما نظر به وبحث الزركشي أن حل نظر الشاهد مفرع على المذهب أنه لا يكفي تعريف عدل أما على ما عليه العمل كما يأتي في الشهادات فلا شك في امتناعه ا هـ  وفيه نظر ؛ لأنا وإن قلنا به النظر أحوط وأولى وكفى بذلك حاجة مجوزة له ( وتعليم ) لأمرد وأنثى كما صرح به السياق خلافا لما يوهمه كلام شارح من اختصاصه بالأمرد .قال السبكي وغيره هذه من تفردات المنهاج أي دون الروضة وأصلها وإلا فهي في شرح مسلم والفتاوى وإنما يظهر فيما يجب تعلمه وتعليمه كالفاتحة وما يتعين فيه ذلك من الصنائع المحتاج إليها بشرط فقد جنس ومحرم صالح وتعذره من وراء حجاب ووجود مانع خلوة أخذا مما مر في العلاج لا فيما لا يحب كما يدل له قوله : الآتي في الصداق تعذر تعليمه على الأصح وعلله الرافعي بخشية الوقوع في التهمة والخلوة المحرمة ومقابله يعلمها من وراء حجاب بغير خلوة فالوجهان متفقان على تحريم النظر ا هـ وقال جمع لا يتقيد الحل بالواجب وفرقوا بين هذا وما في الصداق بأن تعليم المطلق يمتد معه الطمع لسبق مقرب إلا لغة بخلاف الأجنبي وعليه فلا بد من تلك الشروط هنا أيضا ، وظاهر أنها لا تعتبر في الأمرد كما عليه الإجماع الفعلي ويتجه اشتراط العدالة فيهما كالمملوك بل أولى ( ونحوها ) كأمة يريد شراءها فينظر ما عدا عورتها وحاكم يحكم لها أو عليها ، أو يحلفها وإنما يجوز النظر في جميع ما مر ( بقدر الحاجة والله أعلم ) .فلا يجوز أن يجاوز ما يحتاج ليه ؛ لأن ما حل لضرورة يقدر بقدرها ومن ثم قال الماوردي لو عرفها الشاهد بنظرة لم تجز ثانية أو برؤية بعض وجهها لم يجز له رؤية كله وما في البحر عن جمهور من الفقهاء أنه يستوعبه مبني على الضعيف السابق من حل نظر وجهها حيث لا فتنة ولا شهوة وكل ما حل له نظره منها للحاجة يحل لها نظره منه للحاجة أيضا كالمعاملة وغيرها مما مر

( قوله : إلا إن تعين ) ويأتي مثل ذلك في جميع الصور التي يجوز فيها النظر ما عدا الخطبة على ما مر فيها وقوله ينبغي الحل أي حل النظر للشهادة ا هـ ع ش ( قوله : مطلقا ) أي وجد خوف الفتنة ، أو الشهوة ، أو لا ( قوله : حمل الأول ) أي قول السبكي يأثم بالشهوة وقوله والثاني أي قول البعض يحل مطلقا وقوله مفرع على المذهب معتمد وقوله أما ما عليه العمل ضعيف وقوله كما يأتي في الشهادة أي من الاكتفاء بتعريف العدل وقوله وفيه نظر معتمد أيضا وقوله ، وإن قلنا به أي بكفاية تعريف العدل المرجوح ا هـ ع ش .( قوله : النظر إلخ ) الأولى لكن النظر إلخ ( قوله : لأمرد وأنثى ) كذا في النهاية والمغني وفي سم ما نصه عبارة الكنز لأمرد وأنثى إن فقد فيهما الجنس إلى آخر ما سيذكره الشرح من الشروط ا هـ أي بالشمول للأنثى ( قوله : هذه ) أي مسألة جواز النظر للتعليم ( قوله : وإنما يظهر ) أي ما انفرد به المنهاج من جواز النظر للتعليم ( قوله ذلك ) أي التعليم ا هـ مغني ( قوله : بشرط فقد الجنس إلخ ) وإنما يحتاج لهذه الشروط حيث لم يكن غير من توفرت فيه أمهر على ما قدمه في العلاج ا هـ ع

( قوله وقال جمع إلخ ) اعتمده المغني والنهاية فقالا والمعتمد أنه يجوز النظر للأمرد وغيره للتعليم واجبا كان ، أو مندوبا وإنما منع من تعليم الزوجة المطلقة ؛ لأن كلا من الزوجين تعلقت آماله بالآخر فصار لكل منهما طمعه في الآخر فمنع لذلك ا هـ .( قوله : وعليه ) أي قول الجمع المعتمد وقوله تلك الشروط أي المارة من السبكي بقوله بشرط فقد جنس إلخ

  1. إعانة الطالبين جـ1  صـ 272

والإجتماع  ليالى  الختوم  آخر  رمضان  ونصب  المنابر والخطب عليها فيكره مالم يكن فيه اختلاط الرجال بالنساء بأن تتضام أجسامهم فإنه حرام وفسق.

  1. اسعادالرفيق جـ 2 صـ  136

ومنها خروج المرأة من بيتها متعطرة أو متزينة ولو كانت مستورة وكان خروجها بإذن زوجها اذا كانت تمر فى طريقها على رجال أجانب عنها  – إلى أن قال- وقوله عليه والسلام ( انهوا نساءكم عن لبس الزينة والتبخير فى المسجد فإن بنى إسرائيل لم يلعنوا حتى لبس نساءهم الزينة وتبخروا فى المساجد  وقال في الزواجر وهو من الكبائر لصريح هذه الأحاديث وينبغي حمله ليوافق قواعدنا على ما إذا تحققت الفتنة أما مجرد خشيتها فإنما هو مكروه ومع ظنها حرام غير كبيرة كما هو ظاهر

Pertanyaan:

b.       Dan bila tidak boleh, bagaimana solusinya, mengingat kurangnya tenaga guru pengajar putri?

Jawaban

  1. Gugur.

 

04.    STANDAR FAKIR | PP. Lirboyo Induk Kediri

Deskripsi Masalah

الباجوري: ج 1 ص: 282

(قوله هو الذي لا مال له ولا كسب الخ) بأن لم يكن له مال أصلا ولا كسب كذلك او له مال فقط لايقع موقعا من كفايته العمر الغالب عند توزيعه عليه وان لم يتجر فيه والا فالعبرة بكل يوم ومعنى كونه لايقع موقعا من كفايته انه لا يسد مسدا بحيث كان مايملكه نصابا فأكثر فيعطى زكاته مع كونه يأخذ زكاة غيره او له كسب فقط لايقع موقعا من كفايته كل يوم كمن يحتاج الى عشرة ويكتسب كل يوم اربعة فأقل او له كل منهما ولا يقع مجموعهما موقعا من كفايته كذلك ولابد فى المال والكسب ان يكون حلالين فلا عبرة بالحرامين كالمكس وغيره من انواع الظلم ويعتبر فى الكسب ان يكون لائقا به فلا عبرة بغير اللائق.

   ‘Ibarot di atas menjelaskan tentang kriteria orang fakir, namun dari ‘ibarot yang digarisbawahi menimbulkan sebuah kebingungan, yakni orang yang penghasilannya tidak menentu dan belum jelas seperti tukang becak, tukang cukur dan lain-lain. Terkadang mereka mendapatkan uang yang banyak dan melebihi kebutuhannya, namun terkadang tidak mendapatkan uang sama sekali. Karena belum jelasnya penghasilan mereka, ‘amil zakat pun bingung dan timbul pertanyaan, mereka fakir ataukah tidak.

Pertanyaan:

Mulai kapankah penentuan fakir bagi orang yang penghasilannya tidak menentu?

Jawaban

Status kefakiranya ditentukan pada saat amil memberikan zakat, selain zakat muajjalah. Dan ditentukan dengan waqt al-Wujub bila yang diberikan adalah zakat muajjalah.

REFERENSI

1. Al-fatawi al-Kubro, juz. 1, hal. 9

5. Al-anwar al-A’mal al-Abror, juz. 1, hal. 149

2. Al-fatawi al-Kubro, juz. 1, hal. 13

6. Bujairomi ‘ala Manhaj, Juz 2, Hal. 61

3. Hasyiyah al-Bajuri, juz. 1, hal. 282

7. Alfiqh al-Islami, juz. 3, hal. 297

4. Hasyiyah as-Syarqowi, juz. 1, hal. 389

8. Al-fiqh ala Madzahib al-Arbaah, juz. 1, hal. 987

  1. الفتاوى الكبرى الفقهية على مذهب الإمام الشافعي جـ 1 صـ 9

وسئلت عن قول المنهاج والمسكين من قدر على مال أو كسب الخ هل المراد كفايته سنة أو العمر الغالب وكم مقدار الكفاية؟. فأجبت بقولي: المراد كفايته العمر الغالب على الأصح والمراد بالكفاية كفاية نفسه وممونه حال إعطائه الزكاة الكفاية اللائقة به وبهم عرفا مأكلا ومشربا وملبسا ومسكنا وغيرها من سائر وجوه الكفايات نعم يبقى النظر فيما لو كان عنده صغار ومماليك وحيوانات فهل نعتبرهم في العمر الغالب لأن الأصل بقاؤهم وبقاء نفقتهم عليه أو بقدر ما يحتاجه بالنسبة إلى الأطفال ببلوغهم وإلى الأرقاء بما بقي من أعمارهم الغالبة وكذلك الحيوانات للنظر في ذلك مجال وكلامهم يومئ إلى الأول لكن الثاني أقوى مدركا فإن تعذر العمل به تعين الأول.

وسئلت رجل عليه زكاة أفرزها ونوى فسرقها أو غصبها مستحق فهل يقع الموقع أو لا فما فائدة أخذها منه وردها إليه؟. فأجبت: لا يقع المسروق ولا المغصوب الموقع ولو بعد النية والإفراز لأنه بهما لم يخرج عن ملك المالك إذ له الإخراج من غيره فإذا أخذه مستحق لم يملكه لأنه باق على ملك المالك ولم يرض بأخذه إياه فيلزمه أن يرده أو بدله إليه ثم المالك مخير بين الدفع له والدفع لغيره، والله سبحانه وتعالى أعلم.

  1. الفتاوى الكبرى الفقهية على مذهب الإمام الشافعي جـ1 صـ 13

وسئل عما ذكروه في حد المسكين من أنه من قدر على مال أو كسب يقع موقعا من كفايته ولا يكفيه هل المراد عدم الكفاية في ذلك اليوم أو كل السنة أو العمر الغالب فإن قلتم بالأخير كما صححه النووي رحمه الله تعالى فما حده وما حد الغني الذي لا يجوز معه أخذ الزكاة فإذا كان رجل عمره عشرون سنة مثلا ولم يكن كاسبا وعنده عشرة آلاف مثلا ومؤنته كل سنة ألف مثلا فهل يجوز له أخذ الزكاة أو لا؟ فإن قلتم يجوز فما الحد الذي يجوز أخذه وكم يعطي الدافع له والحالة هذه؟. فأجاب بقوله: من تحقق بالفقر أو المسكنة لا يخلو إما أن يكون يحسن حرفة أو تجارة أو لا يحسن شيئا من ذلك ومن لا يحسن شيئا إما أن يكون معه شيء أو لا فأما من له حرفة فإنه يعطى ثمن آلات حرفته التي يقوم دخلها بخرجه على الدوام فإن لم يف دخلها بخرجه كملنا له الزائد بأن نضم إلى ثمن تلك الآلات شراء محل نعطيه له يقوم دخله مع دخل الحرفة بكفايته وكفاية ممونه بحسب اللائق به وبهم على الدوام أيضا وأما من يحسن التجارة فإنه يعطى رأس مال يكفيه ربحه بأن يكون ذلك الربح الحاصل منه بحسب العادة بقدر ما يحتاجه هو وممونه كما ذكر ولا يتقيد ذلك بحد وذكرهم إعطاء البقال والجوهري والصيرفي وغيرهم أشياء مخصوصة ذكروها وحددوها إنما هو لأن ذلك كان مناسبا لعرف زمنهم كما أشاروا إلى ذلك بقولهم عقب تلك المقادير تقريبا وأما من معه مال وهو لا يكفيه العمر الغالب بأن يكون لو وزعه على ما بقي من عمره باعتبار الغالب الذي يعيش إليه أكثر الناس وهو ما بين الستين والسبعين لا يكفيه بل ينقص عن ذلك أو ليس معه شيء ولا يحسن كل منهما حرفة ولا تجارة فإنه يعطى كفاية العمر الغالب بأن يشترى له أرض أو عقار يكفيه كما مر غلتها على الدوام ففي المثال المذكور في السؤال يضم إلى العشرة الآلاف التي معه قدر بحيث لو اشترى بهما محل كفاه دخله على الدوام. ومحله كما علم مما تقرر ما إذا كانت تلك العشرة الآلاف يفي ربحها بخرجه إن كان يحسن تجارة أو لا يشتري بها ما يكفيه غلته إن لم يحسن شيئا ففي هاتين الصورتين يضم إليها ما يشتري به ما تكفيه غلته أما إذا كانت تلك العشرة الآلاف يمكن أن يشتري بها ما تكفيه غلته أو يمكنه أن يتجر فيها بما يفي ربحه بخرجه فلا يعطى شيئا من الزكاة لأنه الآن غني والحاصل أنا نعتبر إنفاق عين المال الذي باليد إلا في صورة واحدة وهي أن يكون معه مال ولا يحسن فيه تجارة ولا كسبا ولو أنفقه بقية عمره لم يكفه الكفاية السابقة8 فهذا مسكين فيعطى شيئا يضم إلى ذلك المال ويشترى له به ما تكفيه غلته وأما ما عدا هذه الصورة فمن له حرفة أو تجارة ولا يكفيه دخلها فإنه يكمل له بأن يشترى له ما يضم ربحه إلى ربح حرفته أو تجارته بحيث يكفيه هذا حاصل المعتمد الذي يتعين الاعتناء بفهمه الفتاوى الكبرى الفقهية على مذهب الإمام الشافعي  وتحريره في هذه المسألة فإنه قد كثر فيها اختلاف أنظار الأئمة فيها وتغليظ بعضهم لبعض في بعض تفاصيلها، ومن ثم شنع بعض من لم يمعن النظر على الأئمة فيها وقال إن الملوك يأخذون الزكاة لأنه ليس معهم ما يكفيهم العمر الغالب وما درى أنه هو الأحق بالتشنيع لأنه لو تأمل ما قررناه لعلم أن الملوك ونحوهم لا يأخذون شيئا فإن لهم من الفيء والمتاجر وغيرهما ما يفي دخله بخرجهم وكل من له ذلك فهو غني ومن ليس له ذلك إما فقير أو مسكين وكذلك يندفع بما تقرر ما أشار إليه بعض الأئمة من أن إعطاء العمر الغالب يلزم عليه حرمان أكثر المستحقين إذ الغالب أنه لا يوجد من الزكاة ما يكفي مستحقيها العمر الغالب ووجه اندفاع هذا ما علمت أن أحدا من الفقراء والمساكين لا يعطى حيث اتسع المال نقدا وإنما يشترى له به ما يفي دخله بخرجه فإن قل المال أعطي كل ما تيسر له.

  1. الباجوري جـ 1 صـ 282

(قوله هو الذي لا مال له ولا كسب الخ) بأن لم يكن له مال أصلا ولا كسب كذلك او له مال فقط لايقع موقعا من كفايته العمر الغالب عند توزيعه عليه وان لم يتجر فيه والا فالعبرة بكل يوم ومعنى كونه لايقع موقعا من كفايته انه لا يسد مسدا بحيث كان مايملكه نصابا فأكثر فيعطى زكاته مع كونه يأخذ زكاة غيره او له كسب فقط لايقع موقعا من كفايته كل يوم كمن يحتاج الى عشرة ويكتسب كل يوم اربعة فأقل او له كل منهما ولا يقع مجموعهما موقعا من كفايته كذلك ولابد فى المال والكسب ان يكون حلالين فلا عبرة بالحرامين كالمكس وغيره من انواع الظلم ويعتبر فى الكسب ان يكون لائقا به فلا عبرة بغير اللائق.

  1. حاشية الشرقاوى جـ 1 صـ 389

الفقير من لامال ولاكسب يقع موقعا من كفايته

(قوله يقع ) أى كل منهما أومجموعهما أى لايقع كل واحد على انفراده موقعا ولا مجموعهما كذلك والمراد كفايته بقية العمر الغالب وهو اثنان وستون سنة فإن بلغ ذلك أعتبر كفاية سنة بسنة مطعما وملبسا ومسكنا وغيرها ممالابد منه على مايليق بحاله وحال ممونه من غيراسراف ولاتقتير قال م ر بعد تعريف الفقير بنحوماذكرنا وقضية الحد أن الكسوب غير فقير وإن لم يكتسب إن وجد من يستعمله وقدرعليه من غيرمشقة لاتحتمل عادة وحل له تعاطيه ولاق به وإلااعطي وأن ذا المنال الذى قدره دينا ولوحالا على المعتمد غير فقير أيضا فلايعطى من سهم الفقراء حتى يصرف مامعه فى االدين اهـ باختصار والأولى أن يزيد المصنف فى التعريف ولم يكتف بنفقة من تلزمه نفقته لاخراج الزوجة والمكفى بنفقة اصل أوفرع فلايعطيان وإن سقطت نفقة الزوجة بنشوز لقدرتها على تحصيلها حالا بالطاعة

  1. الأنوار الأعمال الأبرار للشيخ  العلامة الفاضل يوسف الأردبيلي جـ 1 صـ 149

(قوله الثاني المسكين) إلى قوله ولا يكفي قال بعض المتأخرين هل مراد عدم الكفاية في ذلك اليوم أو في تلك السنة أو العمر الغالب لم يصرحوا به نعم في فتاوي البغوي اعتبار السنة وهو مبني على اختياره أن لا يدفع له من الزكاة زيادة عليها قال الزيادي في شرح المحرر والمعتمد أن المراد بالكفاية هنا وفي الفقير كفاية بقية العمر الغالب لا سنة فقط نظير ما يأتي في الإعطاء من الزكاة خلافا لمن فرق بينهما (ولو صرف إلى الفقير ما أخرجه عن الفقر الخ) قال الزيادي وأبدى الإمام ترددا في أنه هل يجوز الصرف للفقير دفعة واحدة ما يخرجه عن حد المسكنة فقال يحتمل ذلك ويحتمل أن لا يدفع إليه من سهم الفقراء إلا أقل القليل والمرعى أي يخرج عن حد الفقر إلى أن يصل إلى حد المسكنة قال والأشبه جواز الصرف إليه أي كفاية العمر الغالب كما يأتي في الإعطاء ولو ملك كفاية عمر الغالب كمل له من الزكاة كفايته كما بحثه السبكي وأطال في الرد على بعض معاصريه في اتصاف يوم الإعطاء بالفقر أو المسكنة أي باحتياجه حينئذ للعطاء ويئيد الأول قول الماوردي لو كان معه تسعون ولا يكفيه إلا ربح مائة اعطى العشرة الأخرى وإن كفت التسعون لو أن فقه من غير اكتساب فيها سنين لا تبلغ العمر الغالب .

  1. حاشية البجيرمي على المنهج جـ 2 صـ 61

 ( وشرط ) لإجزاء المعجل ( كون المالك والمستحق أهلا ) لوجوب تلك الزكاة ولأخذها ( وقت وجوبها ) هو أعم من تعبيره بآخر الحول فلو كان أحدهما ميتا أو المستحق مرتدا , أو المال تالفا وقت الوجوب , أو بيع في الحول وليس مال تجارة لم يجز المعجل ولا يضر تلف المعجل ولا يرد ما لو عجل بنت مخاض عن خمس وعشرين فتوالدت قبل الحول وبلغت ستا وثلاثين حيث لم تجز المعجلة وإن صارت بنت لبون مع وجود الشرط المذكور بل يستردها ويعيدها أو يدفع غيرها وذلك لأنه لا يلزم من وجود الشرط وجود المشروط ( ولا يضر غناه بها ) ولو مع غيرها لأنه إنما أعطي ليستغني فلا يكون ما هو المقصود مانعا من الإجزاء ويضر غناه بغيرها كزكاة واجبة , أو معجلة أخذها بعد أخرى وقد استغنى بها  ( وإذا لم يجز المعجل ) لانتفاء شرط مما ذكر ( استرده ) إن بقي ( أو بدله ) من مثل , أو قيمة إن تلف

  1. الفقه الإسلامي وأدلته جـ 3 صـ 297

أما الفقراء: أصحاب السهم الأول: فهم جمع فقير، والفقير في رأي الشافعية والحنابلة: هو من ليس له مال ولا كسب يقع موقعاً من كفايته، أو حاجته. فليس له زوج ولا أصل ولا فرع يكفيه نفقته، ولا يحقق كفايته مطعماً وملبساً ومسكناً كمن يحتاج إلى عشرة ولا يجد إلا ثلاثة، حتى وإن كان صحيحاً يسأل الناس أو كان له مسكن وثوب يتجمل به.وأما المساكين أصحاب السهم الثاني فهم جمع مسكين: والمسكين: هو الذي يقدر على كسب ما يسد مسداً من حاجته، ولكن لا يكفيه، كمن يحتاج إلى عشرة وعنده ثمانية لا تكفيه الكفاية اللائقة بحاله من مطعم وملبس ومسكن. فالفقير عند الشافعية والحنابلة: أسوأ حالاً من المسكين، فالفقير: هو من لا مال له ولا كسب أصلاً، أو كان يملك أو يكتسب أقل من نصف ما يكفيه لنفسه ومن تجب عليه نفقته (ممونه) من غير إسراف ولا تقتير. والمسكين: هو من يملك أو يكتسب نصف ما يحتاجه فأكثر، ولكن لم يصل إلى قدر كفايته. والمراد بالكفاية في حق المكتسب: كفاية يوم بيوم، وفي حق غيره: ما بقي من عمره الغالب وهو اثنان وستون سنة.

  1. الفقه على المذاهب الأربعة جـ 1 صـ 987

 الشافعية قالوا : ” الفقير ” هو من لا مال له أصلا ولا كسب من حلال أو له مال أو كسب من حلال لا يكفيه بأن كان أقل من نصف الكفاية ولم يكن له منفق يعطيه ما يكفيه : كالزوج بالنسبة للزوجة والكفاية تعتبر بالنسبة لعمره الغالب وهو اثنان وستون سنة . إلا إذا كان له مال يتجر فيه فيعتبر ربحه في كل يوم على حدة فإن كان ربحه في كل يوم أقل من نصف الكفاية في ذلك اليوم فهو فقير وكذا إذا جاوز العمر الغالب فالعبرة بكل يوم على حدة فإن كان عنده من المال أو الكسب ما لا يكفيه في نصف اليوم فهو فقير و ” المسكين ” من قدر على مال أو كسب حلال يساوي نصف ما يكفيه في العمر الغالب المتقدم أو أكثر من النصف

05.    GAME ONLINE | PP. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan

Deskripsi Masalah

Seiring dengan kemajuan zaman, banyak cara cepat untuk mendapatkan uang banyak tanpa bersusah payah, diantaranya cukup dengan bemain game. Game online merupakan hiburan yang bisa dijadikan permainan yang menguntungkan atau bahkan merugikan. Yakni dengan memasukkan nomor rekening terlebih dahulu sehingga apabila orang yang bermain itu menang maka uang yang ada di rekening pemiliknya akan bertambah dan apabila kalah maka akan berkurang.

Bentuk game online inipun beraneka ragam, salah satunya adalah game perang, yang mana dalam game ini pemain bisa membeli peralatan semisal baju perang, pedang, tombak dan lain sebagainya dengan menggunakan uang yang ada direkening pemiliknya,.

Pertanyaan:

  1. Bagaimana literatur fikih menyikapi permainan Game online dengan memasukkan nomor rekening terlebih dahulu sebagaimana dalam deskripsi?
  2. Dikatagorikan akad apakah pembelian peralatan perang sebagaimana dalam deskripsi?

Jawaban

Di gugurkan

 

06.    TAKBIR MODERN | PP. Nurul Ihsan An Nur Lumajang

Deskripsi Masalah

Gegap gempita takbir hari raya menggema disegala daerah, dan tidak hanya masjid atau musholla, pawai kelilingpun dilakukan dengan berbagai bentuk guna merayakan hari kemenangan, bahkan masjid atau musholla yang sakralpun tidak lepas dari kretifitas mulai dari mengadakan takbir dengan iringan musik dangdut, koplo, disco dll, pawai keliling yang sarat akan persaingan sound system dan kebisingan suara yang bisa memberikan kepuasan tersendiri, semua ini dilakukan dengan alasan syi’ar islam.

Pertanyaan:

a.        Bagaimanakah hukum menggunakan dana dan fasilitas masjid untuk melakukan takbir lebaran seperti diatas?

Jawaban

a.        Tidak diperbolehkan, karena takbiran dengan menggunakan iringan musik dangdut, koplo, disco dll menodai kehormatan masjid.

REFERENSI

1. umdah almufti wal mustafti, juz. 1, hal. 81

6. Ghoyah at-Talhis al-Murod, juz. 1, hal.10

2. fatawi al-kubro, juz. 4, hal. 357

7. Ianah at-Tholibin, juz. 3, hal.  273

3. Is’ad ar-Rofiq, hal. 61

8. Taswiqul al-Asma’, hal. 28

4. Hasyiyah al-Jamal, juz. 5 Hal. 380

9. Al-majmu’ Syarah Muhadzab, juz. 2, hal. 177

5. Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 133

  1. عمدة المفتي والمستفتي جـ 1 صـ81

وقال الشيخ أيضا : مسألة, ضرب الطبل في المسجد حرام شديد التحريم لما فيه من الاستحفاف بحرمة الحرام وامتهانه وذلك حرام شديد التحريم, والمزمار فيه أشد تحريما, والمخالفة لما أمر الله به من تعظيم المسجد ولا شك أن المستعمل للطبل والمزمار في المسجد متعرض لسخط الله ومقته حلول النقمة به لأن فعله المذكور يشعر باستخفافه بحرمة المسجد وقد كان المشركون يفعلون في المسجد نحو ذلك كما حكى الله عنهم ذلك بقوله تعالى ” وما كان صلاتهم عند البيت إلا مكاء وتصدية” والمساجد لم يأذن الشارع في بنائها إلا لذكر الله تعالى كما في رواية ” إنما بنيت المساجد لما بنيت له ” رواه مسلم في صحيحه وأحمد وابن ماجه من حديث بريدة مرفوعا أي من ذكر الله تعالى والصلاة والعلم والمذاكرة في الخير ونحوها قاله النووي وأما حديث الترمذي مرفوعا : ” أعلنوا هذا النكاح واضربوا عليه بالدف واجعلوه في المساجد” فالمراد منه جعل العقد في المسجد والدف خارجه إعلانا بالنكاح. وما استند إليه بعضهم من أنه صار فعله في المسجد شعارا للأعياد والصوم ونحوهما فجهل قبيح وغلط في الاستدلال , ولا تصلح العادة دليلا للأحكام الشرعية بل هذا إن وقع فهو شعار معاند ومراغم للشرع ويجب على من له قدرة على إنكاره والمنع منه ولا يسوغ له السكون ولو كان من الآحاد لأن الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر واجب إجماعا على من اجتمع فيه الشروط التي ذكرها الأشخر في فتاويه, وهي أن يقع على محرم أو واجب إجماعا أو في عقيدة الفاعل , ولا يجب في مندوب أو مكروه , نعم يجب على المحتسب فقط إنكار إخلال شيء من شعائر الدين ولو سنة كصلاة عند واد , فيلزم الأمر بهما مالم يؤد إلى قتال وأن يأمن على نفسه أو ماله ولو قليلا أو عرضه, وكذا على غيره من معصوم, وأن لا يتولد من منكر مفسدة أعظم من مفسدة المنكر الواقع “قلت” ومن هنا حرم الخروج على السلطان الجائر, وعلى من يغلب على ظنه أن المنكر عليه يقطع عنه نفقة هو محتاج إليها, وأن لا يزيد عنادا أو ينتقل إلى أفحش منه أو مثله على نزاع في ذلك والذي جرى عليه صاحب العباب ونقل غير واحد الإجماع فيه هو عدم الوجوب وهو المعتمد وإن جرى في الروضة على الوجوب. وقال في تسهيل المقاصد ” يحرم الرقص في المسجد مع الضرب بالكف, وكذا مع عدم الضرب بالكف لما فيه من المفاسد كامتهانه وانتهاك حرمته وتقطيع حصره وحصول الأوساخ فيه واجتماع الصبيان وأهل البطالة , وذكر فيه وفي غيره حرمة عمل حرفة خسيسة فيه تزري به, ولا شك أن الطبل والمزمار أعظم إزراء من الحرفة الخسيسة

  1. الفتاوي الفقهية الكبرى جـ 4 صـ357

( وسئل ) رحمه الله تعالى عما صورته ما يتعاطاه جهلة المتصوفة من الطيران والقصب والغناء والصياح والرقص واعتقادهم أن ذلك قربة وتكنيتهم عن الباري عز وجل بهند وليلى فهل يحل لهم ذلك لا سيما في المساجد وهل نقل عن السلف شيء من ذلك وهل ذلك صغيرة أو كبيرة وهل يكفر من اعتقد التقرب به إلى الله سبحانه وتعالى أوضحوا لنا ذلك وبينوه بيانا شافيا ؟ ( فأجاب ) نفعنا الله سبحانه وتعالى بعلومه بقوله قد أشبع الأئمة كالعز بن عبد السلام في قواعده الكلام في ذلك ولا بأس بالكلام عليها باختصار فنقول أما الدف فمباح مطلقا حتى للرجال كما اقتضاه إطلاق الجمهور وصرح به السبكي وضعف مخالفة الحليمي فيه وأما اليراع فالمعتمد عند النووي رحمه الله تعالى كالأكثرين حرمته . وأما اجتماعهما فحرمه ابن الصلاح وخالفه السبكي وغيره فإن الحرمة لم تتأت من الاجتماع ولم تسر إلى الدف بل من حيث اليراع المسمى بالشبابة وأما الغناء وسماعه بلا آلة فمكروهان وقول الأستاذ أبي منصور المذهب الجواز إذا سمعه من الرجل ولم يكن على قارعة الطريق ولم يقترن به مكروه ضعيف بل المعتمد الكراهة مطلقا وقال الغزالي رحمه الله تعالى إن نوى به الترويح للتقوي على الطاعة فهو مطيع وأما الصياح فقال ابن عبد السلام الصياح والتغاني إن كان عن حال لا يقتضيه أثم من وجهين إبهامه الحال الموجبة لذلك وتصنعه به وإن كان عن حال يقتضيه أثم بريائه لا غير ونتف الشعور وضرب الصدور وتمزيق الثياب محرم لما في ذلك من إضاعة المال وأما الرقص فلا يحرم لفعل الحبشة له في حضرته صلى الله عليه وسلم مع تقريره عليه . وقال جماعة يكره لخرم المروءة وفصل الغزالي رحمه الله تعالى بين أرباب الأحوال الذين يقومون بوجد فيجوز لهم ويكره لغيرهم ونقل عن القاضي رحمه الله تعالى رد الشهادة به لغير أرباب الأحوال وهو متجه حيث كان لهم منصب أو فخامة تقتضي أن ذلك خارم لمروءته غير لائق به تعاطيه وإلا فلا وجه لرد الشهادة به لأنه غير خارم للمروءة حينئذ قال البلقيني رحمه الله تعالى ولا حاجة لاستثناء أرباب الأحوال لأنه ليس بالاختيار ومحل ذلك كله لم يكن فيه حرمة كفعل المخنثين وإلا حرم وقال الشيخ أبو علي رحمه الله تعالى يكره وقال البلقيني رحمه الله تعالى إن كان للتشبه بالمخنث فإنما يحرم على الرجال والصحيح التحريم مطلقا وأما التصفيق باليد للرجال فنقل ابن عبد السلام رحمه الله تعالى عن بعضهم أنه حرام وجزم به المراغي رحمه الله تعالى وفيه نظر ونية التقرب بذلك لا يخفى على أحد أنه حرام ولا يعلم ذلك إلا بصريح لفظ الناوي فلا يجوز أن يظن به ذلك ولو لقرينة لا سيما إن كان ممن اشتهر عنه خير بل ربما يكون ظن ذلك بمثل هذا جالبا للمقت والعياذ بالله وتسمية الباري جل وعلا بالمخلوقين حرام عند كل أحد ولا ينبغي أن يظن ذلك أيضا بمثل من ذكرناه وحاشا من ينسب إلى أدنى درجات المؤمنين أن يشبه القديم بالحادث وأما فعل ذلك في المساجد فلا ينبغي لأنها لم تبن لمثل ذلك ولا يحرم ذلك إلا إن أضر بأرض المسجد أو حصره أو نحوهما أو شوش على نحو مصل أو نائم به وقد رقص الحبشة في المسجد وهو g ينظرهم ويقرهم على ذلك وفي الترمذي وسنن ابن ماجه عن عائشة رضي الله تعالى عنها أن النبي g قال { أعلنوا هذا النكاح وافعلوه في المساجد واضربوا عليه بالدف } وفيه إيماء إلى جواز ضرب الدف في المساجد لأجل ذلك فعلى تسليمه يقاس به غيره وأما نقل ذلك عن السلف فقد قال الولي أبو زرعة في تحريره صح عن الشيخ عز الدين بن عبد السلام وابن دقيق العيد وهما سيدا المتأخرين علما وورعا ونقله بعضهم  عن الشيخ أبي إسحاق الشيرازي رحمه الله تعالى وكفاك به ورعا مجتهدا وأما دليل الحل لما ذكر ففي البخاري أنه g { سمع بعض جوار يضربن بالدف وهي تقول وفينا نبي يعلم ما في غد فقال g دعي هذا وقولي الذي كنت تقولين } وفي الترمذي وابن ماجه أنه g{ لما رجع من بعض غزواته أتته جارية سوداء فقالت يا رسول الله إني نذرت إن ردك الله تعالى سالما أن أضرب بين يديك بالدف فقال لها إن كنت نذرت فأوف بنذرك } .

  1. إسعاد الرفيق جـ 1 صـ61

وحاصل تلك العبارات يرجع أن كل عقد أو فعل أو قول يدل على استهانة أو استخفاف بالله أو كتبه أو أنبيائه أو ملائكته أو شعائره أو معالم دينه أو أحكامه أو وعده أو وعيده (كفر) خبران أي إن قصد قائل ذلك الاستخفاف أو الاستهانة بذلك (أو معصية) محرمة شديدة إن لم يقصد بذلك.

قوله (شعائره)جمع شعيرة وهي العلامة أي علامات دينه كالكعبة والمساجد

  1. الجمل على المنهج جـ 5 صـ380

 (كغناء) بكسر الغين والمد (بلا آلة واستماعه) فإنهما مكروهان لما فيهما من اللهو أما مع الآلة فمحرمان وتعبيرى بالاستماع هنا وفيما يأتى أولى من تعبيره بالسماع قوله (فإنهما مكروهان) أي ولو من أجنبية أو أمراد إلا إن خاف فتنة أو نظرا محرما وإلا حرم وليس من الغناء ما اعتيد عند محاولة عمل وحمل ثقيل كحدو الأعراب لإبلهم وغناء النساء لتسكيت صغارهم فلا شك فى جوازه قال الغزالى الغناء إن قصد به ترويح القلب ليقوى على الطاعة فهو طاعة أو على المعصية فهو معصية أو لم يقصد به شيئ فهو لهو معفو عنه إهـ ح ل (قوله أما مع الآلة فهو محرما) وهذا ما مشى عليه الشارح والذى مشى عليه م ر فى شرحه أن الغناء مكروه وعلى ما هو عليه والآلة محرمة وعبارته ومتى اقترن بالغناء آلة محرمة فالقياس كما قاله الزركشى تحريم الآلة فقط وبقاء الغناء على الكراهة إهـ

  1. بغية المسترشدين  صـ 133

فائدة : جماعة يقرأون القرآن في المسجد جهراً ، وينتفع بقراءتهم أناس ، ويتشوّش آخرون ، فإن كانت المصلحة أكثر من المفسدة فالقراءة أفضل ، وإن كانت بالعكس كرهت اهـ فتاوى النووي

  1. غاية تلخيص المراد من فتاوى ابن زياد جـ 1 صـ 10

(مسألة): تأخير صلاة العشاء إلى ثلث الليل أو نصفه خلاف الأولى، وقيل مكروه، ولا يسن حينئذ رفع الصوت بالأذان لأنه يشوّش فللإمام المنع منه. قلت: يفهم منه أنه إذا لم يكن ثم تشويش بأن كان غالب أهل البلد يفعلونه كما في رمضان في بعض النواحي لا منع من رفع الصوت حينئذ.

  1. حاشية إعانة الطالبين جـ 3 صـ 273

وأن يكون العقد في المسجد (قوله: وأن يكون الخ) معطوف على ينوي: أي ويسن أن يكون العقد في المسجد. قال في التحفة: للامر به في خبر الطبراني. اهـ. وهو أعلنوا هذا النكاح، واجعلوه في المساجد، واضربوا عليه بالدفوف، وليولم أحدكم ولو بشاة، وإذا خطب أحدكم امرأة وقد خضب بالسواد فليعلمها ولا يغرنها اه.غرائب الاحاديث.وقال في شرحه: قوله أعلنوا هذا النكاح، أي أظهروه إظهار السرور.وفرقا بينه وبين غيره واجعلوه في المساجد مبالغة في إظهاره واشتهاره، فإنه أعظم محافل الخير والفضل.وقوله واضربوا عليه بالدفوف: جمع دف، بالضم، ويفتح، ما يضرب به لحادث سرور.(فإن قلت) المسجد يصان عن ضرب الدف: فكيف أمر به ؟ (قلت) ليس المراد أنه يضرب فيه، بل خارجه، والامر فيه إنما هو في مجرد العقد.اهـ

  1. تشوق الأسماع صـ 28

وفي إيضاح الدلالة للشيخ القطب عبد الغني الحنفي النابليسي قدس الله سره, وأما ضرب الدفوف والرقص فقد جاءت الرخصة في إباحته للفرح والسرور في أيام العيد والعرس وقدوم الغائب والوليمة والعقيقة وقد ثبت جواز ذلكم بالنص, ثم قال وسواء كانت الدفوف بالجلاجل أولا سواء كان الضرب بذلك بنغمات أو بغير نغمات . اقترن به رقص وتوجد أولا سواء كان ذلك في عرس أو وليمة أو يوم عيد أو قدوم غائب أو على ذكر وتهليل أو صلاة على النبي صلى الله عليه وأله وسلم أو لم يكن كذلك وسواء كان وحده في بيته أو في المسجد أو بين جماعة من أهل العلم والصلاح أو غيرهم.

  1. المجموع شرح جـ 2 صـ 177

(السادسة عشرة) لا بأس بانشاد الشعر في المسجد إذا كان مدحا للنبوة أو الاسلام أو كان حكمة أو في مكارم الاخلاق أو الزهد ونحو ذلك من أنواع الخير: فأما ما فيه شئ مذموم كهجو مسلم أو صفة الخمر أو ذكر النساء أو المرد أو مدح ظالم أو افتخار منهى عنه أو غير ذلك فحرام

 

MUSHOHIH

PERUMUS

MODERATOR

1. KH. Muhibbul Aman 1. Bpk. Abdul Manan Ust. M. Wafiq
2. KH. Hadziq 2. Bpk. Dinul Qoyyim
3. KH. Su’ud Abdillah 3. Bpk. H. Munir Akromin

NOTULEN

4. KH. M. Masruhan 4. Bpk. Bpk. Darul Azka 1. Ust. M. Musta’in
5. K. Suhaeri 8. Bpk. Syahrul Munir 2. Ust. M. Zainul Millah
6. Agus H. Dahlan Ridwan 6. Bpk. Ma’rifatus Sholihin  
  7. Bpk. Nawawi  
  8. Bpk. Anas  
  9. Bpk. Zainul mufid  

 

Pertanyaan:

b.       Bagaimana hukum takbir disertai iringan music yang dilakukan dalam masjid atau pawai keliling dengan motor yang bersuara nyaring dengan alasan seperti syi’ar?

Jawaban

  1. Apabila menggunakan alat musik yang diharamkan maka hukumya harom, jika menggunakan alat-alat musik mubahat, maka diperbolehkan bila tidak sampai menimbulkan istihza’ pada masjid.

Sedangkan hukum takbir dengan pawai keliling hukumnya haram, karena hal itu justru mempermalukan umat islam, dan hanya boleh dilakukan apabila dipastikan tidak mengganggu pengguna jalan, dan lingkungan.

REFERENSI

1. Umdah al-Mufti wal Mustafti, juz. 1, hal. 81

4. Ianah at-Tholibin, juz 2, hal. 89

2. Fatawi al-kubro, juz. 4, hal. 357

5. Hasyiyah Qulyubi wa Umairoh, juz. 3, hal. 427

3. Ianah at-Tholibin, juz. 3, hal.  273

  1. عمدة المفتي والمستفتي جـ 1 صـ81

وقال الشيخ أيضا : مسألة, ضرب الطبل في المسجد حرام شديد التحريم لما فيه من الاستحفاف بحرمة الحرام وامتهانه وذلك حرام شديد التحريم, والمزمار فيه أشد تحريما, والمخالفة لما أمر الله به من تعظيم المسجد ولا شك أن المستعمل للطبل والمزمار في المسجد متعرض لسخط الله ومقته حلول النقمة به لأن فعله المذكور يشعر باستخفافه بحرمة المسجد وقد كان المشركون يفعلون في المسجد نحو ذلك كما حكى الله عنهم ذلك بقوله تعالى ” وما كان صلاتهم عند البيت إلا مكاء وتصدية” والمساجد لم يأذن الشارع في بنائها إلا لذكر الله تعالى كما في رواية ” إنما بنيت المساجد لما بنيت له ” رواه مسلم في صحيحه وأحمد وابن ماجه من حديث بريدة مرفوعا أي من ذكر الله تعالى والصلاة والعلم والمذاكرة في الخير ونحوها قاله النووي وأما حديث الترمذي مرفوعا : ” أعلنوا هذا النكاح واضربوا عليه بالدف واجعلوه في المساجد” فالمراد منه جعل العقد في المسجد والدف خارجه إعلانا بالنكاح. وما استند إليه بعضهم من أنه صار فعله في المسجد شعارا للأعياد والصوم ونحوهما فجهل قبيح وغلط في الاستدلال , ولا تصلح العادة دليلا للأحكام الشرعية بل هذا إن وقع فهو شعار معاند ومراغم للشرع ويجب على من له قدرة على إنكاره والمنع منه ولا يسوغ له السكون ولو كان من الآحاد لأن الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر واجب إجماعا على من اجتمع فيه الشروط التي ذكرها الأشخر في فتاويه, وهي أن يقع على محرم أو واجب إجماعا أو في عقيدة الفاعل , ولا يجب في مندوب أو مكروه , نعم يجب على المحتسب فقط إنكار إخلال شيء من شعائر الدين ولو سنة كصلاة عند واد , فيلزم الأمر بهما مالم يؤد إلى قتال وأن يأمن على نفسه أو ماله ولو قليلا أو عرضه, وكذا على غيره من معصوم, وأن لا يتولد من منكر مفسدة أعظم من مفسدة المنكر الواقع “قلت” ومن هنا حرم الخروج على السلطان الجائر, وعلى من يغلب على ظنه أن المنكر عليه يقطع عنه نفقة هو محتاج إليها, وأن لا يزيد عنادا أو ينتقل إلى أفحش منه أو مثله على نزاع في ذلك والذي جرى عليه صاحب العباب ونقل غير واحد الإجماع فيه هو عدم الوجوب وهو المعتمد وإن جرى في الروضة على الوجوب. وقال في تسهيل المقاصد ” يحرم الرقص في المسجد مع الضرب بالكف وكذا مع عدم الضرب بالكف لما فيه من المفاسد كامتهانه وانتهاك حرمته وتقطيع حصره وحصول الأوساخ فيه واجتماع الصبيان وأهل البطالة وذكر فيه وفي غيره حرمة عمل حرفة خسيسة فيه تزري به, ولا شك أن الطبل والمزمار أعظم إزراء من الحرفة الخسيسة

  1. الفتاوي الفقهية الكبرى جـ 4 صـ357

( وسئل ) رحمه الله تعالى عما صورته ما يتعاطاه جهلة المتصوفة من الطيران والقصب والغناء والصياح والرقص واعتقادهم أن ذلك قربة وتكنيتهم عن الباري عز وجل بهند وليلى فهل يحل لهم ذلك لا سيما في المساجد وهل نقل عن السلف شيء من ذلك وهل ذلك صغيرة أو كبيرة وهل يكفر من اعتقد التقرب به إلى الله سبحانه وتعالى أوضحوا لنا ذلك وبينوه بيانا شافيا ؟ ( فأجاب ) نفعنا الله سبحانه وتعالى بعلومه بقوله قد أشبع الأئمة كالعز بن عبد السلام في قواعده الكلام في ذلك ولا بأس بالكلام عليها باختصار فنقول أما الدف فمباح مطلقا حتى للرجال كما اقتضاه إطلاق الجمهور وصرح به السبكي وضعف مخالفة الحليمي فيه وأما اليراع فالمعتمد عند النووي رحمه الله تعالى كالأكثرين حرمته . وأما اجتماعهما فحرمه ابن الصلاح وخالفه السبكي وغيره فإن الحرمة لم تتأت من الاجتماع ولم تسر إلى الدف بل من حيث اليراع المسمى بالشبابة وأما الغناء وسماعه بلا آلة فمكروهان وقول الأستاذ أبي منصور المذهب الجواز إذا سمعه من الرجل ولم يكن على قارعة الطريق ولم يقترن به مكروه ضعيف بل المعتمد الكراهة مطلقا وقال الغزالي رحمه الله تعالى إن نوى به الترويح للتقوي على الطاعة فهو مطيع وأما الصياح فقال ابن عبد السلام الصياح والتغاني إن كان عن حال لا يقتضيه أثم من وجهين إبهامه الحال الموجبة لذلك وتصنعه به وإن كان عن حال يقتضيه أثم بريائه لا غير ونتف الشعور وضرب الصدور وتمزيق الثياب محرم لما في ذلك من إضاعة المال وأما الرقص فلا يحرم لفعل الحبشة له في حضرته صلى الله عليه وسلم مع تقريره عليه . وقال جماعة يكره لخرم المروءة وفصل الغزالي رحمه الله تعالى بين أرباب الأحوال الذين يقومون بوجد فيجوز لهم ويكره لغيرهم ونقل عن القاضي رحمه الله تعالى رد الشهادة به لغير أرباب الأحوال وهو متجه حيث كان لهم منصب أو فخامة تقتضي أن ذلك خارم لمروءته غير لائق به تعاطيه وإلا فلا وجه لرد الشهادة به لأنه غير خارم للمروءة حينئذ قال البلقيني رحمه الله تعالى ولا حاجة لاستثناء أرباب الأحوال لأنه ليس بالاختيار ومحل ذلك كله لم يكن فيه حرمة كفعل المخنثين وإلا حرم وقال الشيخ أبو علي رحمه الله تعالى يكره وقال البلقيني رحمه الله تعالى إن كان للتشبه بالمخنث فإنما يحرم على الرجال والصحيح التحريم مطلقا وأما التصفيق باليد للرجال فنقل ابن عبد السلام رحمه الله تعالى عن بعضهم أنه حرام وجزم به المراغي رحمه الله تعالى وفيه نظر ونية التقرب بذلك لا يخفى على أحد أنه حرام ولا يعلم ذلك إلا بصريح لفظ الناوي فلا يجوز أن يظن به ذلك ولو لقرينة لا سيما إن كان ممن اشتهر عنه خير بل ربما يكون ظن ذلك بمثل هذا جالبا للمقت والعياذ بالله وتسمية الباري جل وعلا بالمخلوقين حرام عند كل أحد ولا ينبغي أن يظن ذلك أيضا بمثل من ذكرناه وحاشا من ينسب إلى أدنى درجات المؤمنين أن يشبه القديم بالحادث وأما فعل ذلك في المساجد فلا ينبغي لأنها لم تبن لمثل ذلك ولا يحرم ذلك إلا إن أضر بأرض المسجد أو حصره أو نحوهما أو شوش على نحو مصل أو نائم به وقد رقص الحبشة في المسجد وهو g ينظرهم ويقرهم على ذلك وفي الترمذي وسنن ابن ماجه عن عائشة رضي الله تعالى عنها أن النبي g قال { أعلنوا هذا النكاح وافعلوه في المساجد واضربوا عليه بالدف } وفيه إيماء إلى جواز ضرب الدف في المساجد لأجل ذلك فعلى تسليمه يقاس به غيره وأما نقل ذلك عن السلف فقد قال الولي أبو زرعة في تحريره صح عن الشيخ عز الدين بن عبد السلام وابن دقيق العيد وهما سيدا المتأخرين علما وورعا ونقله بعضهم  عن الشيخ أبي إسحاق الشيرازي رحمه الله تعالى وكفاك به ورعا مجتهدا وأما دليل الحل لما ذكر ففي البخاري أنه g { سمع بعض جوار يضربن بالدف وهي تقول وفينا نبي يعلم ما في غد فقال g دعي هذا وقولي الذي كنت تقولين } وفي الترمذي وابن ماجه أنه g{ لما رجع من بعض غزواته أتته جارية سوداء فقالت يا رسول الله إني نذرت إن ردك الله تعالى سالما أن أضرب بين يديك بالدف فقال لها إن كنت نذرت فأوف بنذرك }

  1. إسعاد الرفيق جـ 1 صـ 61

وحاصل تلك العبارات يرجع أن كل عقد أو فعل أو قول يدل على استهانة أو استخفاف بالله أو كتبه أو أنبيائه أو ملائكته أو شعائره أو معالم دينه أو أحكامه أو وعده أو وعيده (كفر) خبران أي إن قصد قائل ذلك الاستخفاف أو الاستهانة بذلك (أو معصية) محرمة شديدة إن لم يقصد بذلك.

قوله (شعائره)جمع شعيرة وهي العلامة أي علامات دينه كالكعبة والمساجد

  1. إعانة الطالبين  جـ 2 صـ 89

ويكره الجهر بقراءة الكهف وغيره إن حصل به تأذ لمصل أو نائم كما صرح النووي في كتبه وقال شيخنا في شرح العباب ينبغي حرمة الجهر بالقراءة في المسجد وحمل كلام النووي بالكراهة على ما إذا خف التأذي وعلى كون القراءة في غير المسجد.

( قوله ينبغي حرمة الجهر بالقراءة في المسجد ) أي بحضرة المصلين فيه وعبارة الشارح في ( باب الصلاة ) وبحث بعضهم المنع من الجهر بقرآن أو غيره بحضرة المصلي مطلقا أي شوش عليه أولا لأن المسجد وقف على المصلي أي أصالة دون الوعاظ والقراء.

  1. حاشيتا قليوبي وعميرة جـ 3  صـ 427

( ويتصرف كل واحد ) من الملاك ( في ملكه على العادة ) ولا ضمان عليه إن أفضى إلى تلف ( فإن تعدى ) العادة ( ضمن ) ما تعدى فيه ( والأصح أنه يجوز أن ) ( يتخذ داره المحفوفة بمساكن حماما وإصطبلا ) وطاحونة ( وحانوته في البزازين حانوت حداد ) أو قصار ( إذا احتاط وأحكم الجدران ) بما يليق بمقصوده ، والثاني يمتنع ذلك لما فيه من الضرر وعورض بأن في منعه إضرارا به

قوله : ( إلى تلف ) أي لمال الجار أو جداره أو نقص ماء بئره ونحو ذلك كحفر حش ويمنع مما يؤدي إلى تلف نفس أو عضو محترم قوله ( ضمن ما تعدى ) أي ضمن ما تلف بسبب ما تعدى به كأن دق دقا عنيفا فأزعج أبنية جاره أو حبس الماء في ملكه فانتشرت النداوة إلى جداره قوله ( بما يليق بمقصوده ) لأن ذلك لا يضر الملك وإن ضر المالك فالحاصل أن له فعل ما وافق العادة وإن ضر الملك والمالك وأن له فعل ما خالفها إن لم يضر الملك وإن ضر المالك وكذا لو ضر الأجنبي بالأولى ويكفي جريان العادة كون جنسه يفعل بين الأبنية  وإن لم تجر بفعل عينه

07.    SUSAHNYA MENCARI JODOH | PP. HY Lirboyo

Deskripsi Masalah

Menikah merupakan dambaan setiap pemuda, karena di samping melakukan sunah Nabi, juga menyalurkan nafsu birahi. Bagi pemuda yang berkeinginan menikah, sebaiknya mencari pasangan dengan garis nasab (keturunan) yang baik.

Ada kejadian yang mungkin memilukan. Sebut saja Irfan (nama samaran), orang tuanya sudah menjodohkan dia dengan pasangan yang dianggapnya baik dan cocok. Namun di saat akad nikah hendak dilakukan, tiba-tiba acara tersebut jadi berantakan. Hal ini bermula dari berita yang disampaikan oleh sebagian orang yang mengatakan bahwa calon mempelai putri ternyata hasil hubungan di luar nikah (zina). Setelah diadakan kroscek ternyata berita tersebut benar adanya. Seketika itu juga pihak kelurga Irfan membatalkan akad pernikahan dan masing-masing pihak ada yang merasa dirugikan dan diuntungkan.

Pertanyaan :

a.        Dalam syariat Islam, hal-hal apa saja yang menjadi tolok ukur garis keturunan (nasab) itu dianggap baik?

Jawaban

  1. Tolok ukur kemuliaan nasab yaitu nasab-nasab yang berujung pada:
    1. Rosulullah SAW.
    2. Ulama’.
    3. Orang sholeh.

REFERENSI

1. Syarah al-Bahjah al-Wardiyah, juz. 7, hal. 346

2.  Hasyiyah al-Bujairomi ala al-Manhaj, Juz. 3, hal. 380

  1. شرح البهجة الوردية  جـ 7 صـ 346

ثم أخذ في بيان الكفاءة المعتبرة في النكاح لدفع العار والضرار وهي في النسب والسلامة من العيوب المثبتة للخيار والحرفة والعفة والحرية فقال : ( وما ) أي وليست ( نسيبة ) كفؤا لغير النسيب إذ الناس تفتخر بأنسابها أتم فخار قال الإمام : والغزالي وشرف النسب من ثلاث جهات جهة النبوة وجهة العلم وجهة الصلاح المشهور قالا ولا عبرة بالانتساب لعظماء الدنيا والظلمة المستولين على الرقاب وإن تفاخر الناس بهم قال الرافعي : ولا يساعدهما عليه كلام النقلة في العظماء أي فيعتبر الانتساب إليهم قال في المهمات وكيف لا يعتبر وأقل مراتب الإمرة أي ونحوها أن تكون كالحرفة ؟ وذو الحرفة الدنيئة لا يكافئ النفيسة .

 (قوله : جهة النبوة ) عبارة خ ط على المنهاج قال الإمام والغزالي : شرف النسب من ثلاثة جهات إحداها الانتهاء إلى شجرة رسول الله صلى الله عليه وسلم فلا يعادله شيء الثانية الانتهاء إلى العلماء فإنهم ورثة الأنبياء صلوات الله وسلامه عليهم أجمعين وبهم ربط الله تعالى حفظ الملة المحمدية والثالثة الانتهاء إلى أهل الصلاح المشهور والتقوى قال الله تعالى { وكان أبوهما صالحا } .( قوله : والعلم ) ولا أثر له مع الفسق ؛ لأن النسبة إليه عار وتضمحل معه سائر الفضائل كما قاله الغزالي .ا هـ .ق ل على الجلال لكن الذي اعتمد م ر اعتباره ؛ لأنه مع الفسق بمنزلة الحرفة الشريفة ، فيعتبر من تلك الحيثية فلا يكافئ عالمة فاسقة فاسق غير عالم .ا هـ . م ر ورشيدي .

  1. حاشية البجيرمي على المنهاج جـ 3 صـ380

( نسيبة ) أي : طيبة الأصل لخبر { تخيروا لنطفكم } رواه الحاكم وصححه بل تكره بنت الزنا وبنت الفاسق قال الأذرعي ويشبه أن يلحق بهما اللقيطة ومن لا يعرف لها أب

 ( قوله ولحسبها ) وهو ما يعده الإنسان من مفاخر آبائه وقيل التخلق بالأخلاق العظيمة ومكارم الأخلاق شوبري ونقل ضبطه بالنون حرر .ح ل .لكن يغني عنه الجمال.( قوله أي طيبة الأصل ) كأن تكون منسوبة للشرفاء والعلماء والصلحاء وقد ورد { إياكم وخضراء الدمن المرأة الحسناء في المنبت السوء } شبه المرأة التي أصلها رديء بالقطعة الزرع المرتفعة على غيرها التي منبتها موضع روث البهائم .ا هـ .شيخنا ( قوله بل تكره بنت الزنا ) إضراب إبطالي لما يقتضيه ما قبله من خلاف الأولى ا هـ .شيخنا ( قوله وبنت الفاسق ) لأنه يعير بها لدناءة أصلها وربما اكتسبت من طباع أبيها ع ش على م ر .

Pertanyaan:

b.       Menurut kacamata syara’, dapatkah dibenarkan apa yang dilakukan oleh pihak keluarga Irfan (membatalkan akad nikah)?

Jawaban

b.       Dapat dibenarkan.

REFERENSI

1. Hawasyi al-Ubadi, juz. 9, hal. 57

3. Hasyiyah al-Baijuri, juz. 1, hal. 388

2. Hasyiyah al-Bujairomi ala al-Manhaj, juz. 3, hal. 380

  1.  حواشي العبادي على شرح التحفة جـ 9  صـ 57

سئل الجلال السيوطي عمن خطب امرأة ثم رغبت عنه هي أووليها هل يرتفع التحريم عمن يريد خطبتها وهل الخطبة عقد شرعي وهل هو عقد جائز من الجانبين فأجاب بقوله يرتفع تحريم الخطبة علي الغير بالرغبة عنه فيما يظهر وان لم يتعرضوا له وانما تعرضوا لما اذا سكتوا أو رغب الخاطب والظاهر أن الخطبة ليست بعقد شرعي وان تخيل كونها عقدا فليس بلازم بل جائز من الجانبين قطعا اهـ وما بحثه من ارتفاع التحريم بالرغبة عنه مأخوذ من جزم الشارح في قوله أو يعرض المجيب.

  1. حاشية البجيرمي على المنهاج  جـ3/ صـ 380

(وسن بكر ) لخبر الصحيحين عن جابر { هلا بكرا تلاعبها وتلاعبك } ( إلا لعذر ) من زيادتي كضعف آلته عن الافتضاض ، أو احتياجه لمن يقوم على عياله ومنه ما اتفق لجابر فإنه لما قال له النبي صلى الله عليه وسلم ما تقدم اعتذر له فقال { إن أبي قتل يوم أحد وترك تسع بنات فكرهت أن أجمع إليهن جارية خرقاء مثلهن ولكن امرأة تمشطهن وتقوم عليهن فقال صلى الله عليه وسلم : أصبت } ( دينة ) لا فاسقة ( جميلة ولود ) من زيادتي وذلك لخبر الصحيحين { تنكح المرأة لأربع : لمالها ، ولجمالها ، ولحسبها ، ولدينها فاظفر بذات الدين تربت يداك } أي : افتقرتا إن لم تفعل وخبر { تزوجوا الولود الودود فإني مكاثر بكم الأمم يوم القيامة } رواه أبو داود ، والحاكم وصحح إسناده . ويعرف كون البكر ولودا بأقاربها ( نسيبة ) أي : طيبة الأصل لخبر { تخيروا لنطفكم } رواه الحاكم وصححه ، بل تكره بنت الزنا وبنت الفاسق قال الأذرعي : ويشبه أن يلحق بهما اللقيطة ، ومن لا يعرف لها أب

(قوله : بل تكره بنت الزنا ) إضراب إبطالي لما يقتضيه ما قبله من خلاف الأولى ا هـ . شيخنا ( قوله : وبنت الفاسق ) ؛ لأنه يعير بها لدناءة أصلها وربما اكتسبت من طباع أبيها ع ش على م ر .

  1. حاشية الباجوري جـ 1 صـ 388

ويمتنع الإشراع في هواء المسجد والرباط والمدرسة والمقبرة التي يحرم البناء فيها بأن كانت موقوفة أو مسبلة للدفن فيها وكذلك هواء البحر فلا يجوز لأحد فعل ذلك هذا هو المنصوص عليه في شرحي الرملي وابن حجر وغيرهما وبهذا تعلم أن قول المحشي وهواء المسجد والرباط والمقبرة كالشارع مردود فاحذره ولعل الفرق كما قاله الشبراملسي بين الشارع وغيره أن الشارع أوسع انتفاعا لأن الانتفاع به لا يتقيد بنوع مخصوص من الانتفاعات بل لكل أحد أن ينتفع به بسائر وجوه الانتفاعات التي لا تضر ولا كذلك المسجد ونحوه فإن الانتفاع بالمسجد خاص بالصلاة وكذلك نحوه فإن الانتفاع به مخصوص بنوع من الانتفاع كما هو ظاهر.

Pertanyaan:

c.        Apakah diperbolehkan menikah dengan pasangan yang tidak diketahui garis keturunannya (nasab)?

Jawaban

Gugur

 

HASIL KEPUTUSAN FMPP 25 NURUL IHSAN AN NUR LUMAJANG 2012_B

HASIL KEPUTUSAN

BAHTSUL MASAIL FMPP KE-24  SE-JAWA  MADURA

DI PP. NURUL IHSAN AN NUR TEMPEH LUMAJANG

Rabu-Kamis 12-13 Shafar 1434 H. | 26-27 Desember 2012 M.

Komisi B

MUSHOHIH

PERUMUS

MODERATOR

1. KH. Ali Mahrus 1. Bpk. Muh. Anas Ust. Masykur Junaedi
2. KH. Athoillah S. Anwar 2. Bpk. Bishri Mustofa
3. KH. Muh. Safrijal 3. Bpk. Miftakhul Khoiri

NOTULEN

4. KH. Mahrusin 4. Bpk. Muh. Zuhri 1. Wawan M. Ridlwan
5. KH. A. Asyhar 5. Bpk. Muh. Masruhan 2. A. Thohar
  6. Bpk. Muh. Tohari Muslim  
  7. Bpk. Arif Ridlwan A.  
  8. Bpk. Muh. Ibrohim  
  9. Bpk. Muh. Abrori  
  10. Bpk. Muh. Nur Mufid  

Memutuskan:

01.    DIBALIK SOLUSI PAMONG DESA MENGAWINKAN PEZINA       | PP. Darul Ulum Wlingi Blitar

Deskripsi Masalah

Di suatu daerah terjadi kasus dua orang berzina dan kemudian hamil di luar nikah, dan solusi yang ditempuh masyarakat khususnya para perangkat desa adalah menikahkan kedua orang tersebut dengan alasan untuk menutupi aib keluarga.

Hal ini sedikit memantik sebuah kemusykilan dengan pertimbangan:

1.       Kebijakan pemerintah harus berdasarkan maslahat.

2.       Masyarakat mempunyai kepahaman hamil sebelum nikah merupakan aib yang hanya bisa ditutupi dengan menikahkannya.

3.       Menikahi perempuan yang zina hukumnya adalah makruh.

Namun, ada komentar dari salah seorang pemuka masyarakat bahwa menikahkan orang yang telah berzina dan sudah terjadi kehamilan dalam rangka menutup aib adalah haram hukumnya dengan berdasarkan tendensi ibarot di bawah ini:

بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي – (ص 249)

(مسألة): . . . الي ان قال . . .  ومن هنا يعلم شدة ما اشتهر أنه إذا زنى شخص بامرأة وأحبلها تزوّجها واستلحق الولد فورثه وورّثه زاعماً سترها، وهذا من أشد المنكرات الشنيعة التي لا يسع أحداً السكوت عنها، فإنه خرق للشريعة ومنابذة لأحكامها.

Pertanyaan:

a.        Apakah solusi yang dilakukan oleh perangkat desa di atas bisa dibenarkan?

Jawaban

a.        Dibenarkan

REFERENSI

1. Tafsir Al Qurtubhi, Juz.12, Hal. 120

5. Qurrotul ‘Ain, Hal. 96

2. Rowai’ul Bayan, Juz. 1, Hal. 313

6. Al Fiqhul Islami, Juz. 7, Hal. 248

3. Bughyah Al Mustarsyidin, Hal. 201

7. Bughyah Al Mustarsyidin, Hal. 235

4. Albajuri, Juz. 2, Hal. 230

1 – تفسير القرطبي  (جـ 12/ صـ 170)

الثالثة: روي أن رجلا زنى بامرأة في زمن أبي بكر رضي الله عنه فجلدهما مائة جلدة، ثم زوج أحدهما من الآخر مكانه، ونفاهما سنة. وروي مثل ذلك عن عمر وابن مسعود وجابر رضي الله عنهم. وقال ابن عباس: أوله سفاح وآخره نكاح. ومثل ذلك مثل رجل سرق من حائط ثمرة ثم أتى صاحب البستان فاشترى منه ثمرة فما سرق حرام وما اشترى حلال. وبهذا أخذ الشافعي وأبو حنيفة، ورأوا أن الماء لا حرمة له. وروي عن ابن مسعود رضي الله عنه أنه قال: إذا زنى الرجل بالمرأة ثم نكحها بعد ذلك فهما زانيان أبدا. وبهذا أخذ مالك رضي الله عنه؛ فرأى أنه لا ينكحها حتى يستبرئها من مائه الفاسد لأن النكاح له حرمة ومن حرمته ألا يصب على ماء السفاح؛ فيختلط الحرام بالحلال ويمتزج ماء المهانة بماء العزة.

2 – روائع البيان في تفسير آيات الأحكام  ( جـ 1/  صـ 313)

واستدل الجمهور على جواز النكاح بغير العفيفة من النساء بما يلي : أ- حديث عائشة أن الرسول صلى الله عليه وسلم سئل عن رجل زنى بامرأة وأراد أن يتزوجها فقال « أولُه سفاح وآخره نكاح ، والحرامُ لا يحرِّم الحلال » . ب- ما روي عن ابن عمر أنه قال ( بينما أبو بكر الصديق في المسجد إذ جاء رجل فلاث عليه لوثاً من كلام وهو دَهِشٌ فقال لعمر : قم فانظر في شأنه فإنّ له شأناً ، فقام إليه عمر فقال : إنّ ضيفاً ضافه فزنى بابنته ، فضرب عمر في صدره وقال ( قبَّحك الله ألا سترت على ابنتك؟ فأمر بهما أبو بكر فضربا الحد ، ثم زوَّج أحدهَما الآخر وغرّبهما حولا ) .

3 – بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي ( ص 201)

(مسألة: ي ش): يجوز نكاح الحامل من الزنا سواء الزاني وغيره ووطؤها حينئذ مع الكراهة.

4 – الباجورى ( جــ 2 / صـ  230 )

ويسن للزانى ولكل من ارتكب معصية أن يستر على نفسه لخبر من أتى من هذه القذورات شيأ فليستتر بستر الله تعالى فان من ابدى لنا صفحته أقمنا علىه الحد وكذلك يسن للشاهد ترك الشهادة لقوله صلى الله عليه وسلم ان الله ستير يحب من عباده الستيرىن ويسن للقاضى وغيره ان يعرض له بالرجوع لانه صلى الله عليه وسلم عرض لماعز بالرجوع حيث قالله لعلك لمست لعلك فاخذت ابك جنون ولا يقول له ارجع لئلا يكون أمرا له بالكذب على احتمال صدقه فى الاقرار.

5 – قرة العين المالكية (صـ 96)

سئل رحمه اعتاد بعض السلاطين جاوى انه يأمر الناس باقمة الصلوات  الخمس والجمعة ويقول لهم من ترك صلاة منها بغير عذر فعليه كذا وكذا من الدراهم (الجواب)يجب امتثال امر الامام فى كل ما لا يخالف الشرع كما لا يخفى وحينئذ يأثم من لم يحضر الجماعة من غير المعذورين من كل من تناوله امره لان الوجوب فى مثل هذا باطن وظاهر وللامام تعزير من لم يحضرها اذا اطلع عليه والتعزير راجع الى رأيه شدة وضعفا ولكن لا يجوز ان يبلغا به ادنى الحدود حيث كان التعزير بالجلد فيجب ان ينقص فى الحر اربعين وفى العبد عن عشرين جلدة  فلان عزر بغير الجلد من حبس او ضرب او وتوبيخ باللسان او كشف رأس او حلقه او قيام من المجلس او تسويد وجه او اركابه الحمار منكوسا والدوران به كذلك بين الناس وتهديده بانواع العقوبات صلبه حيا من غير مجاوزة  ثلاثة من الايام فهذا وامثاله هو المكور فى كلام ائمتنا الشافعية رجع مقدار ذلك الى رايه قالوا ويتعين على الامام يفعل من هذاالانواع فى حق كل معزر مايراه لائقا به وبجنايته وان يراعي فى التجريد والترتيب ما يراعيه فى الدفع الصائل فلا يرقى لرتبه وهو يرى ما دونها كافيا واما الاخذ المال فلم يجزه احد من ائمتنا الشافعية فيما علمت وحينئذ فهو من اكل اموال الناس بالباطل نعم رايت فى بعض فتاوى ابن علان نسبة جواز اخذ المال تعزيرا للامام مالك رحمه الله قال ويدل ه تحريب عمر رضى الله عنه لما احتجاب عن رعاياه وتحريقه دور باعة الخمر فان قلد الامير القائل بذلك فلينظر الى حال الجاية وما يترتب على ذلك من المفسد والضرار وياخذ بقضيته الى اخر ماقاله ابن علان وهذا الذى عزه ابن علان لمذهب مالك لايخلو عن نظر فان المعروف فى مذهبه عدم جواز اخذ المال فى التعازر قال لجازولى من المالكية فى شرح السالة اثاء كلام ما نصه            وروى ابن وضاح عن ابن عاسم انه كان يخلف الناس بالطلاق قال فذكرته لسخنون فقال ما رايت اخذه لالا من قول عمر ابن عبد العزيز تحدث الناس اقضية قال فهذا كله يدل ان قول عمر ابن عبد العزيز عام وبقول عمر هذا يستدل اشياخ السوء من القبائل فيما احدسوا ان من سل سفيه فضرب به يلزمه كذا ومن يضع يده عليه ولم يسله يلزمه كذاومن لطم يلزمه كذا ومن شتم يلزمه كذا وكل ذلك بدعة اماتوا فيها السنة لعنهم الله اهكلام الجزولى قال محمد العلامة محمد مايرة المالكي فى شرحه على قصيدة ابن قاسم الزقاف قول الجزولى وبقول عمر هذا يستدل اشياخ السوء الى اخر كلامه لا شك فى صحته لان اغرام اهل الجنايات المال لزجرهم عما هم عليه هومن باب العقوبة بالمال والمعروف عدم جواها عصيره وبلده الشيخ ابوالعباس الشماع والف عليه تأليفا دل على تبحره واتساع علمه ونقض كلما عقده البرزلي وحاصل ماعنده منع العقوبة بالمال وتخطئة من يقول بجوازها الا ان كلام  الرزلى ومن رد عليه هو والله اعلم مفروض مع الوجود الامام وتمكنه من اقامة الحدود واجراء الاحكام الشرعية على اصلها ولا شك ان العدول عنها الى غيرها حينئذ مع امكانها تبديل للاحكام  وحكم بغير ما انزل الى ان قال واما مع عدم الامام وعدم التمكن من اقامة الحدود واجراء الاحكام على اصلها فذلك والله اعلم اولى من الهمال وعدم الزجر وترك القوي يأكل الضعيف فعظم المفسدة فى ذلك يغنى فيه العيان عن البيان الى ان قال  وقد اشبع الكلام فى هذه المسئلة الامام ابو عبدالله محمد ابن يوسف الفاسى فى جواب له عن المسئلة نحو كراس قلت ويسهد لجواز العقوبة بالمال فى الجملة حديث النفيل وهو قول صلى الله عليه وسلم من وجد تموه يصيد فى حرام المدينة فخذواسلبه الى اخر ماقال الشيخ ميارة واذا كان هذا فى الجناية المقتضية للتعزير فما بالك فما بالك فى ترك الجماعة. سئل اذا عين السلطان على بعض رعاياه شيئا كل من الدراهم (والجواب) يصرفها فى المصالح هل يجوز او لا ؟ الجواب ان ادوا ذلك عن طيب بنفس لا لخوف وحياء من السلظان او غيره جاز والا فهو من اكل اموال الناس بالباطل لا يحل له التصرف فيه بوجه من الوجوه كما نصوا عليه ونقلوا ان المأخوذ حاء الاجماع على التحريمز

6 – الفقه الإسلامي وأدلته  (جـ 7 /  صـ 248)

التوبة: كما أن هداية الله سبقت إنذاراته وتهديداته وعقرباته، كذلك بعد ارتكاب الجرم أو الذنب شقت رحمته غضبه وسخطه، ولم يكن الإسلام في كل تشريعاته حريصا على إنزال العقوبة الصارمة فورا بالمخطئين، وإنما ترك لهم فرصة للإصلاح الداخلي النابع من القناعة الذاتية، والرضا بالإقلاع عن الجريمة، والندم والتوبة المكفِّرة للذنوب، حتى إن التوبة في رأي فقهاء الحنابلة، وعلى رأسهم الإمام أحمد رحمه الله تسقط جميع العقوبات من الحدود وغيرها، من غير اشتراط مضي زمان؛ لقوله: “التائب من الذنب كمن لا ذنب له”وقوله عليه الصلاة والسلام: “التوبة تجبُّ ما قبلها”ولأن في إسقاط الحد ترغيبا في التوبة، وذلك ما عدا حد القذف، فإنه لا يسقط، لأنه حق آدمي، أو حق شخصي.

7 – بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي  (صـ 235)

(مسألة: ي ش): نكح حاملاً من الزنا فولدت كاملاً كان له أربعة أحوال، إما منتف عن الزوح ظاهراً وباطناً من غير ملاعنة، وهو المولود لدون ستة أشهر من إمكان الاجتماع بعد العقد أو لأكثر من أربع سنين من آخر إمكان الاجتماع، وإما لاحق به وتثبت له الأحكام إرثاً وغيره ظاهراً، ويلزمه نفيه بأن ولدته لأكثر من الستة وأقل من الأربع السنين، وعلم الزوج أو غلب على ظنه أنه ليس منه بأن لم يطأ بعد العقد ولم تستدخل ماءه، أو ولدت لدون ستة أشهر من وطئه، أو لأكثر من أربع سنين منه، أو لأكثر من ستة أشهر بعد استبرائه لها بحيضة وثم قرينة بزناها، ويأثم حينئذ بترك النفي بل هو كبيرة، وورد أن تركه كفر، وإما لاحق به ظاهراً أيضاً، لكن لا يلزمه نفيه إذا ظن أنه ليس منه بلا غلبة، بأن استبرأها بعد الوطء وولدت به لأكثر من ستة أشهر بعده وثم ريبة بزناها، إذ الاستبراء أمارة ظاهرة على أنه ليس منه لكن يندب تركه لأن الحامل قد تحيض، وإما لاحق به ويحرم نفيه بل هو كبيرة، وورد أنه كفر إن غلب على ظنه أنه منه، أو استوى الأمران بأن ولدته لستة أشهر فأكثر إلى أربع سنين من وطئه، ولم يستبرئها بعده أو استبرأها وولدت بعده بأقل من الستة، بل يلحقه بحكم الفراش، كما لو علم زناها واحتمل كون الحمل منه أو من الزنا، ولا عبرة بريبة يجدها من غير قرينة، فالحاصل أن المولود على فراش الزوج لاحق به مطلقاً إن أمكن كونه منه، ولا ينتفي عنه إلا باللعان والنفي، تارة يجب، وتارة يحرم، وتارة يجوز، ولا عبرة بإقرار المرأة بالزنا، وإن صدقها الزوج وظهرت أماراته.

Pertanyaan:

b.       Benarkah pendapat pemuka masyarakat di atas?

Jawaban

b.       Tidak dapat dibenarkan, karena kasus yang ada dalam deskripsi tidak terjadi istilhaq

REFERENSI

1. Bughyah Al Mustarsyidin, Hal. 249

2. Bughyah Al Mustarsyidin, Hal. 235

1 – بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي – (ص 249)

(مسألة): ملخصة مع زيادة من الإكسير العزيز للشريف محمد بن أحمد بن عنقاء في حديث: الولد للفراش الخ، إذا كانت المرأة فراشاً لزوجها أو سيدها فأتت بولد من الزنا كان الولد منسوباً لصاحب الفراش لا إلى الزاني، فلا يلحقه الولد ولا ينسب إليه ظاهراً ولا باطناً وإن استلحقه، ومن هنا يعلم شدة ما اشتهر أنه إذا زنى شخص بامرأة وأحبلها تزوّجها واستلحق الولد فورثه وورّثه زاعماً سترها، وهذا من أشد المنكرات الشنيعة التي لا يسع أحداً السكوت عنها، فإنه خرق للشريعة ومنابذة لأحكامها، ومن لم يزله مع قدرته بنفسه وماله فهو شيطان فاسق ومداهن منافق، وأما فاعله فكاد يخلع ربقة الإسلام لأنه قد أعظم العناد لسيد الأنام، مع ما ترتب على فعله من المنكرات والمفاسد، منها حرمان الورثة وتوريث من لا شيء له مع تخليد ذلك في البطون بعده، ومنها أنه صير ولد الزنا باستلحاقه كابنه في دخوله على محارم الزاني، وعدم نقض الوضوء بمسهنّ أبداً، ومنها ولايته وتزويجه نساء الزاني كبناته وأخواته ومن له عليها ولاية من غير مسوغ فيصير نكاحاً بلا وليّ، فهذه أعظم وأشنع، إذ يخلد ذلك فيه وفي ذريته، ويله فما كفاه أن ارتكب أفحش الكبائر حيث زنى حتى ضم إلى ذلك ما هو أشد حرمة منه وأفحش شناعة، وأيّ ستر وقد جاء شيئاً فرياً، وأحرم الورثة وأبقاه على كرور الملوين، وكل من استحل هذا فهو كافر مرتدّ خارج عن دين الإسلام، فيقتل وتحرق جيفته أو تلقى للكلاب، وهو صائر إلى لعنة الله وعذابه الكبير، فيجب مؤكداً على ولاة الأمور زجر فاعلي ذلك وتنكيلهم أشد التنكيل وعقابهم بما يروعهم، وقد علم بذلك شدة خطر الزنا وأنه من أكبر الكبائر.

2 – بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي  (صـ 235)

(مسألة: ي ش): نكح حاملاً من الزنا فولدت كاملاً كان له أربعة أحوال، إما منتف عن الزوح ظاهراً وباطناً من غير ملاعنة، وهو المولود لدون ستة أشهر من إمكان الاجتماع بعد العقد أو لأكثر من أربع سنين من آخر إمكان الاجتماع، وإما لاحق به وتثبت له الأحكام إرثاً وغيره ظاهراً، ويلزمه نفيه بأن ولدته لأكثر من الستة وأقل من الأربع السنين، وعلم الزوج أو غلب على ظنه أنه ليس منه بأن لم يطأ بعد العقد ولم تستدخل ماءه، أو ولدت لدون ستة أشهر من وطئه، أو لأكثر من أربع سنين منه، أو لأكثر من ستة أشهر بعد استبرائه لها بحيضة وثم قرينة بزناها، ويأثم حينئذ بترك النفي بل هو كبيرة، وورد أن تركه كفر، وإما لاحق به ظاهراً أيضاً، لكن لا يلزمه نفيه إذا ظن أنه ليس منه بلا غلبة، بأن استبرأها بعد الوطء وولدت به لأكثر من ستة أشهر بعده وثم ريبة بزناها، إذ الاستبراء أمارة ظاهرة على أنه ليس منه لكن يندب تركه لأن الحامل قد تحيض، وإما لاحق به ويحرم نفيه بل هو كبيرة، وورد أنه كفر إن غلب على ظنه أنه منه، أو استوى الأمران بأن ولدته لستة أشهر فأكثر إلى أربع سنين من وطئه، ولم يستبرئها بعده أو استبرأها وولدت بعده بأقل من الستة، بل يلحقه بحكم الفراش، كما لو علم زناها واحتمل كون الحمل منه أو من الزنا، ولا عبرة بريبة يجدها من غير قرينة، فالحاصل أن المولود على فراش الزوج لاحق به مطلقاً إن أمكن كونه منه، ولا ينتفي عنه إلا باللعان والنفي، تارة يجب، وتارة يحرم، وتارة يجوز، ولا عبرة بإقرار المرأة بالزنا، وإن صدقها الزوج وظهرت أماراته.

02.    PERAN DNA DALAM PANDANGAN FIKIH | PP. Al Falah Ploso Kediri

Deskripsi Masalah

DNA atau ADN ini merupakan materi genetik yang terdapat dalam tubuh setiap orang yang diwarisi dari orang tua. DNA terdapat pada inti sel di dalam struktur kromosom dan pada mitokondria. Setiap manusia memiliki 23 pasang kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom somatik dan 1 pasang kromosom penentu jenis kelamin. Kromosom XX menentukan seseorang dengan jenis kelamin wanita dan XY untuk seseorang yang berjenis kelamin laki-laki. Kromosom ini didapat dari orang tua, separuh dari ibu dan separuh lagi dari ayah.

DNA pada mitokondria yang dikenal dengan nama DNA mitokondria didapat secara keseluruhan dari ibu. Sehingga tes DNA mitokondria berfungsi untuk mengidentifikasi apakah orang tersebut memiliki hubungan darah dengan ibu. Caranya dengan membandingkan DNA mitokondria yang dimilikinya dengan ibunya. bagaimana dengan ayah? Seorang ayah akan mewariskan kromosom Y pada anak laki-lakinya. Untuk membuktikan hubungan darah anak laki-laki dengan ayah bisa dilakukan dengan membandingkan kromosom Y seorang anak dengan ayah. Karena kromosom Y hanya dimiliki oleh laki-laki, maka cara ini tidak bisa digunakan pada anak perempuan. Untuk mengidentifikasi anak perempuan Tes DNA dilakukan dengan cara mengambil DNA dari kromosom somatik. (untuk lebih lengkapnya, bisa dilihat dalam www.rsudaws.com).

Keberadaan test DNA sangatlah membantu terutama dalam proses peradilan di Negara kita, diantaranya befungsi sebagai :

1.       Mengenali hubungan biologis seorang anak dengan bapak, separti pada kasus Della (Nisisari Henri  puspita) dengan pengakuan sepihak Hendri Pasman.

2.       Memastikan identitas korban, seperti kasus Asmar Latinsasi tertuduh bom bunuh diri di Hotel Marriot

3.       Untuk melacak mata rantai pelaku kriminal atau teroris, seperti pada kasus Marsinah dan kasus DR Azhari.

Pertanyaan :

a.        Bisakah test DNA digunakan seorang hakim sebagai dasar penentuan sebuah kasus hukum?

Jawaban

a.        Mauquf

Pertanyaan:

b.       Apakah test DNA juga berpengaruh dalam permasalahan ilhaaqunnasab?

Jawaban

b.       Mauquf

Pertanyaan:

c.        Bagaimana hukumya hakim, polisi ataupun dokter yang memutuskan suatu perkara berdasarkan DNA?

Jawaban

c.        Mauquf

03.    PENGHORMATAN DAN PENGIBARAN BENDERA | PP. Ngalah Pasuruan

Deskripsi Masalah

Kita tahu bahwa penghormatan pada bendera sudah biasa dilakukan terutama ketika ada acara-acara kenegaraan. Namun, salah satu ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Cholil Ridwan, berpendapat bahwa memberikan hormat kepada bendera adalah tindakan yang tidak diperbolehkan.

Alasan yang dikemukakan adalah:

1.       Memberi hormat kepada bendera termasuk perbuatan bid’ah yang tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah ataupun pada Khulafa’ ar-Rasyidun (masa kepemimpinan empat sahabat Nabi).

2.       Menghormati bendera bertentangan dengan tauhid yang wajib sempurna dan keikhlasan di dalam mengagungkan Allah semata.

3.       Menghormati bendera merupakan sarana menuju kesyirikan.

4.       Menghormati bendera merupakan kegiatan yang mengikuti tradisi yang jelek dari orang kafir, serta menyamai mereka dalam sikap berlebihan terhadap para pemimpin dan protokoler-protokoler resmi.

Namun, KH. Cholil menegaskan bahwa pendapatnya tersebut adalah bersifat pribadi dan tidak membawa lembaga MUI. Dia juga mengaku tidak khawatir jika pendapatnya tersebut menimbulkan kontroversi.

Pertanyaan:

a.        Dalam pandangan fiqh bagaimanakah sebenarnya hukum mengibarkan bendera dan juga bagaimana hukum melakukaan penghormatan pada bendera?

Jawaban

  1. hukum mengibarkan bendera dan juga hukum melakukaan penghormatan pada bendera   adalah Boleh

REFERENSI

1. Fatawi Al Azhar, Juz. 10, Hal. 221

5. Tafsir Rukh Al Bayan, Juz. 2, Hal. 320

2. Fathul Mu’in, Juz. 4, Hal. 153

6. Tahdzib Al Faruq, Juz. 4, Hal 218

3. I’anatuth Tholibiin, Juz. 4, Hal. 154

7. Al Khawi Al Kabir Almawardi, Juz. 8, Hal. 1168

4. Al Um, Juz. 4, Hal. 167

8. I’anatuth Tholibiin, Juz. 4, Hal. 213

1 – فتاوى الأزهر  (جـ 10 / صـ 221)

تحية العلم السؤال يقول بعض الناس : إن تحية العلم شرك بالله ، فلا يعظم إلا الله وحده ، فهل هنا صحيح ؟ الجواب العَلَمُ رمز للوطن فى العصر الحديث ، وكان عند العرب رمزا للقبيلة والجماعة، يسير خلفه ويحافظ عليه كل من ينتسب إلى القبيلة أو الجماعة ، وكلما كان العلم مرفوعا دل على عزة أهله ، وإذا انتكس دل على ذلهم ، ويعرف عند العرب باسم الراية أو اللواء .يقول ابن حجر فى غزوة خيبر: اللواء هو العلم الذى يحمل فى الحرب يعرف به موضع صاحب الجيش ، وقد يحمله أمير الجيش ، وقد صرح جماعة بترادف اللواء والراية ، وقال آخرون بتغايرهما ، فقد روى أحمد والترمذى عن ابن عباس رضى اللّه عنهما قال : كانت راية رسول الله صلى الله عليه وسلم سوداء ولواؤه أبيض ، وجزم بتغايرهما ابن العربى فقال : اللواء ما يعقد فى طرف الرمح ويلوى عليه ، والراية ما يعقد منه ويترك حتى تصفقه الرياح ، وقيل : اللواء العلم الضخم وهو علامة لمحل الأمير يدور معه حيث دار، والراية يتولاها صاحب الحرب .وفى شرح الزرقانى على المواهب اللدنية كلام كثير عن العلاقة بين الراية واللواء “ج 1 ص 390” وذكر فى غزوة تبوك أن حامل اللواء كان زيد بن حارثة، ولما قتل تناوله جعفر بن أبى طالب وقاتل حتى قتل ، ثم تناوله عبد الله بن رواحة فقاتل حتى قتل ، فأخذ اللواء ثابت بن أقرم العَجْلاَنى وتقدم به إلى خالد بن الوليد وسلمه إياه لجدارته كما ذكر أن جعفرا لما قطعت يده اليمنى حاملة اللواء أخذه بيده اليسرى، فلما قطعت يداه احتضنه بعضديه ثم قتل ، ثم دعا رسول الله صلى الله عليه وسلم له أن يعوضه الله بدل اليدين جناحين فى الجنة “ج ا ص 267 وما بعدها” .والمهم أن العلم أو الراية أو اللواء كان يحرص عليه من يحمله ، وإذا وقع رفعه غيره للدلالة على أن فى الجيش قوة، ترفع بها معنوياتهم ليصمدوا .فتحية العلم بالنشيد أو الإشارة باليد فى وضع معين إشعار بالولاء للوطن والالتفاف حول قيادته والحرص على حمايته ، وذلك لا يدخل فى مفهوم العبادة له ، فليس فيها صلاة ولا ذكر حتى يقال : إنها بدعة أو تقرب إلى غير الله

2 –  فتح المعين  (جـ 4 / صـ 153)

 (وسجود لمخلوق) اختيارا من غير خوف ولو نبيا وإن أنكر الاستحقاق أو لم يطابق قلبه جوارحه لان ظاهر حاله يكذبه وفي الروضة عن التهذيب من دخل دار الحرب فسجد لصنم أو تلفظ بكفر ثم ادعى إكراها فإن فعله في خلوته لم يقبل أو بين أيديهم وهو أسير قبل قوله أو تاجر فلا وخرج بالسجود الركوع لان صورته تقع في العادة للمخلوق كثيرا، بخلاف السجود. قال شيخنا: نعم يظهر أن محل الفرق بينهما عند الاطلاق، بخلاف ما لو قصد تعظيم مخلوق بالركوع كما يعظم الله تعالى به فإنه لا شك في الكفر حينئذ. اه. وكمشي إلى الكنائس بزيهم من زنار وغيره

3 – إعانة الطالبين  (جـ 4 / صـ 154)

قال البجيرمي: الحاصل أن الانحناء لمخلوق، كما يفعل عند ملاقاة العظماء، حرام عند الاطلاق أو قصد تعظيمهم لا كتعظيم الله تعالى، وكفر إن قصد تعظيمهم كتعظيم الله تعالى.اه.(قوله: فإنه) أي من قصد تعظيم مخلوق بالركوع كتعظيم الله (وقوله لا شك في الكفر) أي في كفره.فأل عوض عن الضمير.(وقوله: حينئذ) أي حين إذ قصد ما ذكر (قوله: وكمشى إلى الكنائس) معطوف على كسجود لمخلوق: أي والمكفر أيضا كمشى إلى الكنائس حالة كونه متلبسا بزيهم: أي بهيئتهم التي يتلبسون بها كأن يشد على وسطه زنارا وهو خيط غليظ فيه ألوان يشد في الوسط فوق الثوب أو يخيط فوق الثياب بموضع لا يعتاد الخياطة عليه كالكتف ما يخالف لونها أو يضع البرنيطة فيكفر بذلك وأفهم قوله وكمشي إلى الكنائس بزيهم أنه لو فقد أحدهما كأن مشى إلى الكنائس لا بزيهم بل بزي المسلمين أو تزيا بزيهم من غير مشي إليها لا يكفر، وهو كذلك (قوله: وكإلقاء ما فيه قرآن في مستقذر) أي فيكفر به

4 – الأم (جـ 4/  صـ 167)

)قال الشافعي) رحمه الله تعالى “وجعل النبي صلى الله عليه وسلم للمهاجرين شعارا وللأوس شعارا وللخزرج شعارا وعقد النبي صلى الله عليه وسلم الألوية عام الفتح فعقد للقبائل قبيلة قبيلة حتى جعل في القبيلة ألوية كل لواء لأهله” وكل هذا ليتعارف الناس في الحرب وغيرها وتخف المؤنة عليهم باجتماعهم وعلى الوالي كذلك لأن في تفريقهم إذا أريد والأمر مؤنة عليهم وعلى واليهم وهكذا أحب للوالي أن يضع ديوانه على القبائل ويستظهر على من غاب عنه ومن جهل ممن يحضره من أهل الفضل من قبائلهم

5 – تفسير روح البيان (جـ 2 / صـ 320)

{إِنَّ الَّذِى} أي : إن الله الذي {فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْءَانَ} أوجب عليك تلاوته وتبليغه والعمل به.  {لَرَآدُّكَ} أي : بعد الموت والرد الصرف والإرجاع {إِلَى مَعَادٍ} فلما نزل اشتاق إلى مكة لأنها مولده وموطنه ومولد آبائه وبها عشيرته وحرم إبراهيم عليه السلام. فأوحاها أي الآية إليه وبشره بالغلبة والظهور أي لرادك إلى مكة ظاهراً من غير خوف فلا تظن أنه يسلك به سبيل أبويك إبراهيم في هجرته من حران بلد الكفر إلى الأرض المقدسة فلم يعد إليها وإسماعيل من الأرض المقدسة إلى أقدس منها فلم يعد إليها.وفي تفسير الآية إشارة إلى أن حب الوطن من الإيمان وكان عليه السلام يقول كثيراً الوطن الوطن فحقق الله سؤله يقال : الإبل تحن إلى أوطانها وإن كان عهدها بعيداً والطير إلى وكره وإن كان موضعه مجدباً والإنسان إلى وطنه وإن كان غيره أكثر له نفعاً وقدم أصيل الغفاري على رسول الله صلى الله عليه وسلّم قبل أن يضرب الحجاب فقالت له عائشة رضي الله عنها : كيف تركت مكة؟ قال : اخضر نباتها ابيض بطحاؤها وأغدق إذخرها واث سملها فقال عليه السلام : “حسبك يا أصيل لا تحزني” قال عمر رضي الله عنه : لولا حب الوطن لخرب بلد السوء فبحب الأوطان عمرت البلدان. واعلم أن الميل إلى الأوطان وإن كان لا ينقطع عن الجنان لكن يلزم للمرء أن يختار من البقاع أحسنها ديناً حتى يتعاون بالإخوان.

6 – تهذيب الفروق (جـ 4  /صـ 218 )

وكإقامة صور الأئمة والقضاة وولاة الأمور على خلاف ما كان عليه أمر الصحابة بسبب أن المصالح والمقاصد الشرعية لا تحصل إلا بعظمة الولاة في نفوس الناس وكان الناس في زمن الصحابة معظم تعظيمهم إنما هو بالدين وسابق الهجرة ثم اختل النظام وذهب ذلك القرن وحدث قرن آخر لا يعظمون إلا بالصور فتعين تفخيم الصور حتى تحصل المصالح وقد كان عمر يأكل خبز الشعير والملح ويفرض لعامله نصف شاة كل يوم لعلمه بأن الحالة التي هو عليها لو عملها غيره لهان في نفوس الناس ولم يحترموه وتجاسروا عليه بالمخالفة فاحتاج إلى أن يضع غيره في صورة أخرى لحفظ النظام ولذلك لما قدم الشام ووجد معاوية قد اتخذ الحجاب وأرخى الحجاب واتخذ المراكب النفيسة والثياب الهائلة العلية وسلك ما يسلكه الملوك فسأله عن ذلك فقال إنا بأرض نحن فيهامحتاجون لهذا فقال له لا آمرك ولا أنهاك ومعناه أنت أعلم بحالك هل أنت محتاج إلى هذا فيكون حسنا أو غير محتاج إليه فدل ذلك من عمر وغيره على أن أحوال الأئمة وولاة الأمور تختلف باختلاف الأعصار والأمصار والقرون والأحوال فلذلك يحتاجون إلى تجديد زخارف وسياسات لم تكن قديما وربما وجبت في بعض الأحوال

7 – الحاوى الكبير الماوردى  (جـ 8 / صـ 1168)

وأما الشعار ، فهي العلامة التي يتميز بها كل قوم من غيرهم في مسيرهم وفي حروبهم : حتى لا يختلطوا بغيرهم ولا يختلط بهم غيرهم ، فيكون ذلك أبلغ في تضافرهم لما روي أن النبي – {صلى الله عليه وسلم} – جعل للمهاجرين شعارا وللأنصار شعارا علامة من ثلاثة أوجه : أحدها : الراية التي يتبعونها ويسيرون إلى الحروب تحتها فتكون راية كل قوم مخالفة لراية غيرهم . والثاني : ما يعلمون به في حروبهم فيعلم كل قوم بخرقة ذات لون من أسود ، أو أحمر ، أو أصفر ، أو أخضر ، تكون إما عصابة على رءوسهم ، وإما مشدودة في أوساطهم . والثالث : النداء الذي يتعارفون به فيقول كل فريق منهم يا آل كذا ، أو يا آل فلان ، أو كلمة إذا تلاقوا تعارفوا بها ليجتمعوا إذا افترقوا ويتناصروا إذا أرهبوا ، فهذا كله وإن كان سياسة ولم يكن فقها فهو من أبلغ الأمور في مصالح الجيش وأحفظها للسير الشرعية .

8 – إعانة الطالبين  (جـ 4 / صـ 213)

(قوله: ولا يلزمه الرد الخ) أي ولا يلزم الاصم الرد على من سلم عليه، إلا أن جمع له من سلم عليه بين اللفظ والاشارة.قال في الروض وشرحه.وتجزئ إشارة الاخرس إبتداء وردا، لان إشارته قائمة مقام العبارة.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MUSHOHIH

PERUMUS

MODERATOR

1. KH. Ali Mahrus 1. Bpk. Bishri Mustofa Ust. Abdul Kafi Ridlo
2. KH. Muh. Safrijal 2. Bpk. Muh. Abrori
3. KH. A. Asyhar 3. Bpk. Miftakhul Khoiri

NOTULEN

  4. Bpk. Muh. Zuhri 1. Wawan M. Ridlwan
  5. Bpk. Muh. Masruhan 2. A. Thohar
  6. Bpk. Muh. Tohari Muslim  
  7. Bpk. Arif Ridlwan A.  
  8. Bpk. Muh. Mahsus  
     
     

Pertanyaan:

b.       Kalau boleh sebatas manakah kita memberi penghormatan pada bendera?

Jawaban

  1. Penghormatan dengan semisal mengangkat tangan atau berdiri dan tidak sampai pada hal-hal yang di haramkan syara’, semisal penghormatan dengan membungkukan badan sampai batas aqollul ruku’ atau sujud.

Referensi : idem dengan sub. a

04.    AKAD PEMESANAN BARANG MASA KINI | PPHM Ngunut Tulungagung

Deskripsi Masalah

Dalam literatur klasik, unsur transparansi sangatlah ditonjolkan dalam berbagai aqad, sehingga tidak akan ada saling merugikan antara kedua belah pihak. Sebut saja dalam aqad salam (pesan), disana tidak boleh dilakukan dalam benda-benda yang terdiri dari beberapa komponen (campuran), dan juga tidak boleh dalam benda-benda yang terkena unsur api. Namun, di era masa kini, komposisi dari suatu barang bisa kita ketahui secara jelas, tak sedikit dari beberapa produk yang ada menampilkan komposisi dalam kemasannya semisal roti, bahkan sekarangpun telah ada pengatur suhu panas. Dengan adanya kedua hal ini, unsur transparansi sudah bisa diketahui oleh kedua belah pihak (متعاقدين). Di samping itu dalam akad salam juga disyaratkan adanya pembayaran yang harus dilakukan dimuka (dalam akad) dengan tujuan untuk meminimalisir dua ghoror (ghoroorus tsaman dan ghoroorul mutsman).

Namun jika melihat realita pada zaman sekarang, justru ketika ro’sul maal diserahkan diawal, maka potensi ghoror akan semakin besar, semisal uang tersebut dibawa lari oleh muslam ilaih, sehingga banyak orang yang mempraktikkan akad salam dengan menyerahkan ro’sul maal di akhir.

Pertanyaan:

a.       Apakah sah akad salam semisal roti dll, melihat beberapa pertimbangan di atas?

Jawaban

a.        Akad salam semisal roti dan sejenisnya yang adonan atau campuranya terdiri dari berbagai bahan yang dikehendaki (Almukhtalatoth almaqsudatul arkan) adalah tidak sah karena, bahan dan pengaruh api tidak bisa Mundlobath. Namun menurut Imam Asshoimiri dalam kitab Al Bayan dari Ibnu Suroij memperbolehkan bentuk salam di atas dan pendapat ini sama dengan Imam Abu Hanifah.

REFERENSI

1. Syarkhul Wajiz, Juz. 9, Hal. 272

3. Hasiyah Jamal, Juz. 3, Hal. 43

2. Fiqh Al Islami, Juz. 9, Hal. 290

4. Al Majmu’, Juz. 13, Hal. 122

1- شرح الوجيز  (جـ 9 / صـ 272)

لتعذر الضبط أسباب (منها) الاختلاط والمختلطات أربعة أنواع لان الاختلاط اما أن يقع بالاختيار أو خلقة والاول اما أن يتفق وجميع اخلاطها مقصودة أو يتفق والمقصود واحد والاول اما أن يكون بحيث يتعذر ضبط اخلاطه أو بحيث لا يتعذر (النوع الاول) المختلطات المقصودة الاركان التى لا تنضبط أقدار اخلاطها وأوصافها كالهرائس ومعظم المرق والحلاوى والمعجونات والحوارشات والغالية المركبة من المسك والعنبر والعود والكافور فلا يصح السلم في شئ منها للجهل بما هو متعلق الاغراض وكذا لخفاف والنعال لاشتمالها على الظهارة والبطانة والحشو لان العبارة تضيق عن الوفاء بذكر أطرافها وانعطافاتها وفى البيان أن الصيمري حكي عن ابن سريج جواز السلم فيها وبه قال أبو حنيفة وكذا القسى لا يجوز السلم فيها لاشتمالها علي الخشب والعظم والعصب ..الى ان قال….(النوع الثاني) المختلطات المقصودة الاركان التى تنضبط اقدارها وصفاتها كالثياب العتابية والخزوز المركبة من الابريسيم والوبر وفى السلم فيه وجهان (أحدهما) المنع كالسلم في الغالية والمعجونات ) وأصحهما) عند المصنف ومعظم العراقيين الجواز لان قدر كل واحد من اخلاطها مما يسهل ضبطه ويحكى هذا عن نص الشافعي رضى الله عنه وبه أجاب القاضى ابن كج ويخرج على الوجهين السلم في الثوب المعمول عليه بالابرة بعد النسج من غير جنس الاصل كالابريسم على القطن أو الكتان وان كان تركيبها بحيث لا تنضبط أركانها فهي كالمعجونات (النوع الثالث) المختلطات التى لا يقصد منها إلا الخليط الواحد كالخبز وفيه الملح لكنه غير مقصود في نفسه وانما يراد منه اصلاح الخبز وفى السلم فيه وجهان (أصحهما) عند الامام أنه جائز وبه قال أحمد وهو الذي أورده في الكتاب لان الملح مستهلك فيه والخبز في حكم الشئ الواحد (والثانى) وهو الاصح عند الاكثرين المنع لوجهين (أحدهما) الاختلاط واختلاف الغرض بحسب كثرة الملح وقلته وتعذر الضبط (والثانى) تأثير النار فيه * وفى السلم في الجبن مثل هذين الوجهين لكن الجمهور مطبقون على ترجيح وجه الجواز كأنهم اعتمدوا في الخبز المعنى الثاني ورأوا أن عمل النار في الخبز يختلف وفى الجبن بخلافه والله أعلم

2 – الفقه الإسلامي وأدلته  (جـ 9 / صـ 290)

السلم في الخبز: لا يجوز السلم في الخبز عددا بالاتفاق لتفاوت فاحش بين خبز وخبز في الصغر والكبر. وأما وزنا فقد ذكر الكرخي أن السلم في الخبز لا يجوز، للتفاوت الفاحش بين الخبز في النضوج، فتبقى جهالة مفضية إلى المنازعة. وفي نوادر ابن رستم: لا يجوز عند أبي حنيفة ومحمد، وهذا قول الشافعية لأن عمل النار فيه يختلف فلا يضبط. ويجوز عند أبي يوسف: إذا شرط نوعا معلوما ووزنا معلوما وأجلا معلوما(2). وقال المالكية والحنابلة: يصح السلم في الخبز ونحوه مما أمكن ضبطه ومسته النار؛ لأن ظاهر الحديث: “من أسلم فليسلم في كيل معلوم أو وزن معلوم” إباحة السلم في كل مكيل وموزون ومعدود، ولأن عمل النار فيه معلوم بالعادة ممكن ضبطه بالنشافة والرطوبة، فصح السلم فيه(3).

3 – حاشية الجمل  (جـ 3 /صـ  43)

( قوله : فيصح في منضبط ) قال شيخنا والأوجه أن المراد بالانضباط هنا معرفة المتعاقدين وزن كل من الأجزاء ، وفيه أن العاقدين لا يعرفان مقدار وزن كل من الشمع والعسل وكل من اللبن والإنفحة والملح والذي ينبغي أن المراد بالانضباط أنه لو زاد أو نقص أفسد وهذا واضح على ما فيه في الجبن والأقط دون الخل والشهد ا هـ .ح ل ( قوله : في منضبط وإن اختلط ) فيشترط علم العاقدين بكل من أجزائه على المعتمد وعليه يظهر الاكتفاء بالظن ا هـ حج ا هـ .شوبري ثم رأيت في ع ش على م ر ما نصه ويظهرالاكتفاء بالظن في المختلط خلقة ومفهومه أن ما كان اختلاطه بالصنعة لا يكتفى فيه بالظن قال الرافعي المختلطات أربعة أقسام الأول المختلط المقصود الأركان ولا ينضبط أي كالهريسة والغالية الثاني هذا إلا أنه ينضبط كالعتابي الثالث أن يكون المقصود واحدا والباقي من مصلحته كالجبن الذي فيه الملح الرابع الخلقي كالشهد ا هـ .شوبري ( قوله : مقصود أو غيره ) فالمنضبط قسمان قسم اختلط بعضه ببعض وذلك البعض فيه ضروري خلقة أو صناعة مقصود وقسم اختلط بعضه ببعض وذلك البعض غير مقصود وسواء كان خلقيا أو صناعيا قال في شرح البهجة والحاصل أن المختلط الذي يصح السلم فيه ما كان منضبطا بأن يكون اختلاطه خلقيا كالشهد أو صناعيا وقصد بعض أركانه وسواء استهلك الباقي كالجبن والأقط أو لا كخل الزبيب والتمر أو قصدت أركانه كلها وانضبطت كالخز والعتابي ولا حاجة إليه ؛ لأنه المقسم ا هـ .

4 – المجموع شرح المهذب  (جـ 13 / صـ 122)

قال النووي رحمه الله تعالى: ولا يصح في المطبوخ والمشوى، ولا يضر تأثير الشمس، والاظهر منعه في رءوس الحيوان والظاهر أن منع السلم فيما مسته النار علته عدم انضباط تأثير النار فيها، وإلا لو أمكن انضباط ذلك صح السلم فيه لجواز السلم في الصابون والسكر والفانيذ واللبأ والدبس، وقد نبه النووي على تصحيح ذلك في كتابه التنبيه في كل ما دخلته نار خفيفة، ومثل ببعض المذكورات، وإن خالف في ذلك ابن المقرى تبعا للاسنوى، ويؤيد صحة ذلك تصحيحهم للسلم في الآجر المطبوخ. قال الشربينى الخطيب في المغنى من كتب المذهب: وعليه يفرق بين بابى الربا والسلم بضيق باب الربا.فإن قيل قول النووي كغيره ” إن نار ما ذكر لطيفة خلاف المشاهد. وهو كلام من لا عهد له بعمل السكر ” أجيب بأن مراده اللطيفة المضبوطة، كما عبرت به، وصرح الامام ببيع الماء المغلى بمثله، فيصح السلم فيه وفى ماء الورد لان ناره لطيفة كما جزم به الماوردى وغيره وكذلك أجازوا السلم في العسل المصفى بالنار، لان تصفيته بها لا تؤثر، لان ناره لطيفة للتمييز.

Pertanyaan:

b.       Dengan pertimbangan ghoror di atas, apakah praktik pemesanan dengan model pelunasan di akhir bisa digolongkan akad salam yang sah?

Jawaban

  1. Menurut madzhab Syafi’iyah, akad salam dengan praktek demikian dianggap tidak sah.

REFERENSI

1. Syarkhul Wajiz, Juz. 9, Hal. 208

3. Nihayatul Muhtaj, Juz. 2, Hal. 169

1 – شرح الوجيز  (جـ 9 / صـ  208(

(الشرط الاول) تسليم رأس المال في مجلس العقد.واحتج لاشتراطه بان المسلم فيه دين في الذمة فلو أخر تسليم رأس المال عن المجلس لكان ذلك معنى في بيع الكالئ بالكالئ لان تأخير التسليم نازل منزلة الدينية في الصرف وغيره (وقوله) في الكتاب جبرا للغرر في الجانب الآخر أراد به أن الغرر في المسلم فيه احتمل للحاجة فجبر ذلك بتأكيد العوض الثاني بالتعجيل كي لا يعظم الغرر في الطرفين * إذا تقرر ذلك فلو تفرقا قبل قبض رأس المال بطل العقد وبه قال أبو حنيفة واحمد * وقال مالك ان تأخر التسليم مدة يسيرة كاليوم واليومين لم يضر وان تأخر مدة طويلة بطل العقد

2 – نهاية المحتاج  (جـ  3 / صـ 169)

 ( يشترط له ) ليصح ( مع شروط البيع ) المتوقف صحته عليها كما قاله الشارح مشيرا به إلى أن الكلام فيما ورد على الذمة لا مطلقا وإلا لاقتضى اشتراط رؤية المسلم فيه والصيغة فلا يرد صحة سلم الأعمى دون شرائه ( أمور ) سبعة أخرى اختص بها فلذا عقد لها هذا الكتاب ( أحدها ) ( تسليم رأس المال ) وهو الثمن ( في المجلس ) الذي وقع العقد به قبل التفرق منه أو لزومه لما مر من أن لزومه كالتفرق ، إذ لو تأخر لكان في معنى بيع الدين بالدين إن كان رأس المال في الذمة ، ولأن في السلم غررا فلا يضم إليه غرر تأخير رأس المال ، ولا بد من حلول رأس المال كما قاله القاضي أبو الطيب كالصرف ، ولا يغني عنه شرط تسليمه في المجلس ، فلو تفرقا قبل قبض رأس المال أو ألزماه بطل العقد أو قبل تسليم بعضه بطل فيما لم يقبض وفيما يقابله من المسلم فيه وصح في الباقي بقسطه ، قالا كما لو اشترى شيئين فتلف أحدهما قبل القبض فيؤخذ منه ثبوت الخيار ، وبه صرح في الأنوار وإن جزم السبكي بخلافه ، ولو اختلفا فقال المسلم أقبضتك بعد التفرق وقال المسلم إليه قبله ولا بينة صدق مدعي الصحة كما علم مما مر ، فإن أقاما بينتين قدمت بينة المسلم إليه لأنها مع موافقتها للظاهر ناقلة والأخرى مستصحبة ، ولا يكفي قبض المسلم فيه الحال في المجلس عن قبض رأس المال لأن تسليمه فيه تبرع وأحكام البيع لا تبنى على التبرعات

Pertanyaan:

c.       Jika tidak sah, bagaimana solusinya?

Jawaban

c.        Dengan akad bai’ setelah didahului adanya kesepakatan transaksi jual beli saat barang sudah ada.

REFERENSI

1. Fathul Wahab, Juz. 1, Hal. 271

3. Al Mantsur, Juz. 3, Hal. 410

2. Manhajuth Thulab, Juz. 3, Hal. 90-91

4. Bujairomi ‘alal Manhaj, Juz. 2, Hal. 165

1- فتح الوهاب  (جـ 1 / صـ 271)

يطلق البيع على قسيم الشراء، وهو تمليك بثمن على وجه مخصوص، والشراء تمليك بذلك وعلى العقد المركب منهما وهو المراد بالترجمة وهو لغة مقابلة شئ بشئ.وشرعا مقابلة مال بمال على وجه مخصوص، والاصل فيه قبل الاجماع آيات كقوله تعالى: (وأحل الله البيع).وأخبار كخبر سئل النبي (صلى الله عليه وسلم): أي الكسب أطيب ؟ فقال: عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور أي لا غش فيه ولا خيانة، رواه الحاكم وصححه (أركانه) كما في المجموع ثلاثة وهي في الحقيقة ستة (عاقد) بائع ومشتر (ومعقود عليه) مثمن وثمن (وصيغة ولو كناية)، وسماها الرافعي شروطا وكلام الاصل يميل إليه فإنه صرح بشرطية الصيغة التي هي الاصل وسكت عن الآخرين والصيغة (إيجاب) وهو ما يدل على التمليك السابق دلالة ظاهرة (كبعتك وملكتك واشتر مني) كذا بكذا، ولو مع إن شئت وإن تقدم على الايجاب (وكجعلته لك بكذا) ناويا البيع (وقبول) وهو ما يدل على التملك السابق كذلك.(كاشتريت وتملكت وقبلت وإن تقدم) على الايجاب (كبعني) بكذا لان البيع منوط بالرضا، لخبر ابن حبان في صحيحه إنما البيع عن تراض والرضا خفي فاعتبر ما يدل عليه من اللفظ فلا بيع بمعاطاة ويرد كل ما أخذه بها أو بدله إن تلف، وقيل ينعقد بها في كل ما يعد فيه بيعا كخبز ولحم بخلاف غيره كالدواب والعقار.

2- منهج الطلاب مع حاشيته للجمل (جـ 3/  صـ 90 – 91 )

 ( وسوم على سوم ) أي سوم غيره لخبر الصحيحين { لا يسوم الرجل على سوم أخيه }  وهو خبر بمعنى النهي والمعنى فيه الإيذاء وذكر الرجل والأخ ليس للتقييد بل الأولى لأنه الغالب والثاني للرقة والعطف عليه وسرعة امتثاله فغيرهما مثلهما وإنما يحرم ذلك ( بعد تقرر ثمن ) بالتراضي به صريحا بأن يقول لمن أخذ شيئا ليشتريه بكذا رده حتى أبيعك خيرا منه بهذا الثمن أو بأقل منه أو مثله بأقل أو يقول لمالكه استرده لأشتريه منك بأكثر( وإنما يحرم ذلك إلخ ) ولا بد في التراضي به صريحا من المواعدة على إيقاع العقد به وقت كذا فلو اتفقا عليه ثم افترقا من غير مواعدة لم يحرم السوم حينئذ كما نقله الإمام عن الأصحاب ا هـ . شوبري

3- المنثور (جـ 3 /   صـ 410 )

الاعتبار الثامن ينقسم أيضا إلى ما يترتب عليه مقصوده , وهو الصحيح , وإلى ما لا يترتب عليه مقصوده ( وهو الفاسد ) وسيأتي في حرف الفاء

4 – البجيرمي على المنهج  (جـ 2 /  صـ  165 )

( كتاب البيع )  يطلق البيع على قسيم الشراء وهو : تمليك بثمن على وجه مخصوص , والشراء تملك بذلك , وعلى العقد المركب منهما وهو المراد بالترجمة وهو لغة : مقابلة شيء بشيء وشرعا : مقابلة مال بمال على وجه مخصوص . والأصل فيه قبل الإجماع آيات كقوله تعالى { وأحل الله البيع } , وأخبار كخبر { سئل النبي صلى الله عليه وسلم أي الكسب أطيب ؟ فقال :  عمل الرجل بيده , وكل بيع مبرور أي : لا غش فيه , ولا خيانة } رواه الحاكم وصححه . ( أركانه ) كما في المجموع ثلاثة وهي في الحقيقة ستة ( عاقد ) بائع , ومشتر ( , ومعقود عليه ) ثمن , ومثمن ( وصيغة ولو كناية ) وسماها الرافعي شروطا , وكلام الأصل يميل إليه فإنه صرح بشرطية الصيغة التي هي الأصل وسكت عن الآخرين .

MUSHOHIH

PERUMUS

MODERATOR

1. KH. Ali Mahrus 1. Bpk. Bishri Mustofa Ust. Nur Amin
2. KH. Muh. Safrijal 2. Bpk. Miftakhul Khoiri
3. KH. A. Asyhar 3. Bpk. Muh. Zuhri

NOTULEN

  4. Bpk. Muh. Masruhan 1. Wawan M. Ridlwan
  5. Bpk. Muh. Tohari Muslim 2. A. Thohar
  6. Bpk. Muh. Mahsus  
  7. Bpk. Muh. Abrori  
     
     
     

05.    KALENDER SISWA | PP. MIS Sarang

Deskripsi Masalah

   Al Muslimuna ala Syurutihim, dasar inilah yang mewajibkan para siswa untuk mengikuti semua peraturan yang ada dan menerima segala konsekwensi jika melanggar peraturan yakni berupa ta’zir (hukuman). Dari dasar di atas, timbul permasalahan ketika muncul sebuah kebijakan baru yang tidak tertulis dalam peraturan yang ada. Semisal pembagian kalender kepada siswa yang berada di bawah naungannya dan siswa “diwajibkan” untuk membayar dengan sejumlah uang tertentu. Bahkan terkadang hal ini dijadikan sebagai salah satu syarat mengikuti ujian. Sehingga mau tidak mau, siswa harus membeli kalender tersebut.

Pertanyaan :

Apakah al muslimuuna ‘ala syuruutihim juga mewajibkan mentaati kebijakan baru yang tidak tertulis?

Jawaban

Ya, mewajibkan.

REFERENSI

1. Sirojul Munir, Juz. 3, Hal. 406-407

3. Hasyiyatul Al Bajuri, Juz. 2, Hal. 288-289

2. Kassyaful Qina’, Juz. 8, Hal. 88

1 –  السراج المنير شرح جامع الصغير ( جـ  3 /  صـ  406 – 407 (

 (قوله المسلمون على شروطهم) الجائزة شرعا اي ثابتون عليها واقفون عندها قال العلقمي قال المنذري وهذا في الشروط الجائزة دون الفاسدة وهو من باب ما امر فيه بالوفاء بالعقود يعني عقود الجين وهو ما ينفذه المرء على نفسه ويشترط الوفاء من مصالحة ومواعدة وتمليك وعقد وتدبير وبيع واجارة ومناكحة وطلاق وزاد الترمذي بعد قوله على شروطهم الا شرطا حرم حلالا او حلل حراما يعني فانه لا يجب الوفاء به بل لا يجوز لحديث كل شرط ليس في كتاب الله فهو باطل وحديث من عمل عملا ليس فيه امرنا فهو رد فشرط نشرة الطالم والباغي وشن النارات على المسلمين من الشروط الباطلة المحرمة

2 – كشاف القناع عن متن الإقناع  (جـ 8 / صـ 88)

( ويباح للرجل المسلم الشجاع طلبها ابتداء ) ؛ لأنه غالب بحكم الظاهر ( ولا يستحب ) له ذلك ؛ لأنه لا يأمن أن يقتل فتنكسر قلوب المسلمين ( فإن شرط الكافر ) المبارز ( أن لا يقاتله غير الخارج إليه أو كان هو العادة لزمه ) الشرط لقوله صلى الله عليه وسلم { المسلمون على شروطهم } والعادة بمنزلة الشرط ( ويجوز رميه وقتله قبل المبارزة ) ؛ لأنه كافر ، لا عهد له ، ولا أمان فأبيح قتله كغيره ( إلا أن تكون العادة جارية بينهم ) أي : بين المسلمين وأهل الحرب ( أن من يخرج يطلب المبارزة لا يعرض له ، فيجري ذلك مجرى الشرط ) ويعمل بالعادة .

3 – حاشية الباجورى (جـ 2 / صـ 288-289)

ويجوز اي ويسن الامام اذا صالح الكفار في بلدهم لا في دار الاسلام ان يشترط عليهم الضيافة لمن يمر بهم المسلمين المجاهدين وغيرهم فضلا اي زائدا عن مقدار اقل الجزية وهو دينار كل سنة ان راضوا بهذه الزيادة ويضمن عقد الجزية بعد  صحته اربعة اشياء احدها ان يؤدوا الجزية وتؤخذ منهم برفق كما قال الجمهور لا على وجه الاهانة والثاني ان تجري عليهم احكام الاسلام فيضمنون ما يتلفونه على المسلمين من نفس مال وان فعلوا ما يعتقدون تحريمه كا لزنا قيم عليهم الحد والثالث ان لا يذكروا دين الاسلام الا يخير والرابع ان لا يفعلوا ما فيه ضرر على المسلمين اي بأن اووا من يطلع على عورات المسلمين وينقلها الى دار الحرب.

06.    ANTARA IHDAATSU QOULIN TSAALITS VS KHURUJ ‘ANIL KHILAF  | PP. Al Falah Ploso Kediri

Deskripsi Masalah

Dalam berbagai literatur fiqh disebutkan bahwa salah satu etika dalam bermadzhab adalah tidak diperbolehkan adanya talfiq (mencampur adukkan madzhab. Alasannya, berdasarkan pendapat mayoritas ushuliyyun yang mengatakan bahwa ihdaatsu qoulin tsaalits (memproduk pendapat ketiga) tidak diperbolehkan. Artinya, ketika ulama’ madzhab terbagi menjadi dua kubu dalam hukum suatu masalah, maka menurut kebanyakan ulama tidak diperbolehkan memproduk qoul ketiga yang merusak dua qoul yang sudah ada. Contoh: yang tertera dalam kitab Ushul karangan Dr. Wahbah Azzuhaily mengenai masa ‘iddah wanita hamil yang suaminya meninggal, salah satu pendapat mengatakan masa ‘iddahnya adalah وضع الحمل dan pendapat lain mengatakan masa yang lebih lama (أبعد الأجلين), maka kita tidak boleh memunculkan pendapat ketiga dengan menyatakan bahwa ‘iddahnya didasarkan pada hitungan bulan saja.

Namun di sisi lain, ternyata ditemukan satu konsep yang substansinya hampir sama dengan ihdaatsu qoulin tsaalits. Hanya saja dengan nama yang berbeda, yakni khuruj ‘anil khilaf. Yang terakhir ini bukan hanya diperbolehkan, bahkan dianjurkan sebagai upaya keluar dari lingkaran hilaf di antara dua pendapat yang berbeda. Salah satu contohnya adalah disunnahkannya qoshr solat dalam perjalanan, karena menghindari khilaf antara Imam Hanafi yang mewajibkan dan Imam Syafi’i yang memubahkan qoshr.

Pertanyaan:

a.       Apa perbedaan mendasar antara ihdaatsu qoulin tsaalits dengan khuruj ‘anil khilaf?

Jawaban

a.        Perbedaan antara ihdaatsu qoulin tsaalits dengan khuruj ‘anil khilaf adalah kalau ihdaatsu qoulin tsaalits adalah memunculkan pendapat ke-tiga yang menyalahi dua pendapat sebelumnya, sehingga merusak ijma’. Kalau  khuruj ‘anil khilaf  tidak memunculkan pendapat baru, namun semata-mata melaksanakan perintah ‘umumul ikhtiyath

REFERENSI

1. Ushul Fiqh Islamy, Juz. 1, Hal. 471

3. Alasybah wa Nadloir, Juz. 1, Hal. 127

2. Sab’atul Kutub Almufidah, Hal. 69

4.  Al Ihkam lil Imaadi, Juz. 1, Hal. 329

1 – اصول الفقه الاسلامي للوهبة الزحيلي  ( جـ 1/   صـ471)

ويترتب على ضرورة الاتفاق امور خمسة … الى أن قالــــ… 3. ان يصدر رأي واحد عن المجمعين فاذا اختلف المجمعون على رأيين فهل معناه انهم مجمعون على عدم جواز احداث قول ثالث ؟ هذا هو ما يعرف بالاجماع المركب او الاجاع الضمني للعلماء فيه أراء:  قال الاكثرون : لايجوز احداث قول ثالث وقال اهل الظاهر : يجوز مطلقا  وقال الامدي وابن الحاجب : ان كان القول الثالث يرفع ما اتفقوا عليه فلا يجوز لانه ابطال لما اجمع عليه وان كان لايرفعه جاز لعدم مخالفته لما اجمع عليه  ودليل الجمهور : ان انحصار الخلاف في رايين دال على انه ليس في المسئلة رأي ثالث فيكون القول برأي ثالث خرقا للاجماع وهو لايجوز . ودليل الظاهرية : أنه متى حصل الخلاف في مسألة فلا اجماع لتناقض الاختلاف والاجاع . ودليل التفصيل : أنه متى أمكن تصور الاجماع وتحققه لزم القول به , ومتى لم يتصور تحققه لا يصح القول به , وعليه يصح احداث القول الثالث.

2 – سبعة الكتب المفيدة  (صـ 69)

قال السمهودي قال القاضي الحسين أوائل باب صلاة المسافر: انما يصار الى الاحتياط عند الشافعي يعني في الخروج من الخلاف اذا لم يكن فيه ارتكاب محظور او مكروه  اي مذهبي اهـ قال الشيخ علي بن عبد الرحيم باكثير ما نصه قال ابن عبد السلام في قواعده الكبرى : اطلق الاصحاب أن الخروج من  الخلاف حيث وقع افضل من التورط فيه وليس الامر على ماأطلقه بل الخلاف على أقسام: ألاول أن يكون بين التحريم والجواز فالاجتناب افضل الثاني أن يكون بين الايجاب والاستحباب فالفعل افضل الثالث في المشروعية فالفعل أفضل كقرأة البسملة في الفاتحة فانها ستة عند مالك وواجبة عند الشافعي ورفع اليدين في التكبيرات فان أبا حنيفة لا يراه من السنن وهو احدى الروايات عند مالك وهو عند الشافعي سنة وكذلك صلاة الكسوف علي الهيئة المنقولة فانها سنة عند الشافعي وأبو حنيفة لايرها وكذلك المشي أمام الجنازة مختلف فيه بين العلماء فلا يترك المشي امامها لاختلافهم اهـ .

3 – الأشباه والنظائر ـ للإمام تاج الدين السبكى  (جـ  1 / صـ  127)

تنبيه : في هذه القاعدة مهمات وقواعد عنها مشتعبات. منها ما اشتهر في كلام كثير من الأئمة ويكاد يحسبه الفقيه مجمعا عليه من أن الخروج من الخلاف أولى وأفضل وقد أشكل بعض المحققين على هذا وقال : الأولوية والأفضلية إنما يكون حيث سنة ثابتة وإذا اختلفت الأمة على قولين : قول بالحل وقول بالتحريم ، واحتاط المستبريء لدينه وجرى في فعله على الترك حذرا من ورطات الحرمة لا يكون فعله ذلك سنة ؛ لأن القول بأن هذا الفعل متعلق الثواب من غير عتاب القول في أنه هل الاعتبار بالحال أو بالمآل على الترك قول لم يقل به أحد ، إن الأئمة كما ترى بين قائل بالإباحة. وقائل بالتحريم فمن أين الأفضلية وأنا أجيب عن هذا بأن أفضليته ليست لثبوت سنة خاصة فيه بل لعموم الاحتياط والاستبراء للدين ، وهو مطلوب شرعا مطلقا ؛ فكان القول بأن الخروج أفضل ثابت من حيث العموم ، واعتماده من الورع المطلوب شرعا فمن ترك لعب الشطرنج معتقدا حله خشية من غائلة التحريم فقد أحسن وتورع إذا عرفت هذا فأقول : ليس الخروج من الخلاف أولى مطلقا ، بل بشرطين أحدهما : أن لا يؤدي الخروج منه إلى محذور شرعي من ترك سنة ثابتة أو اقتحاما أمر مكروه أو نحو ذلك ومن ثم مسائل.

4 –  الإحكام للآمدي (جـ 1 / صـ 329)

المسألة التاسعة عشرة إذا اختلف أهل العصر في مسألة  على قولين هل يجوز لمن بعدهم إحداث قول ثالث اختلفوا فيه فذهب الجمهور إلى المنع من ذلك خلافا لبعض الشيعة وبعض الحنفية وبعض أهل الظاهر وذلك كما لو قال بعض أهل العصر إن الجارية الثيب إذا وطئها المشتري ثم وجد بها عيبا يمنع الرد وقال بعضهم بالرد مع العقر فالقول بالرد مجانا قول ثالث  وكذلك لو قال بعضهم الجد يرث جميع المال مع الأخ وقال بعضهم بالمقاسمة فالقول بأنه لا يرث شيئا قول ثالث  وكذلك إذا قال بعضهم النية معتبرة في جميع الطهارات وقال البعض النية معتبرة في البعض دون البعض فالقول بأنها لا تعتبر في شيء من الطهارات قول ثالث  وفي معنى هذا ما لو قال بعضهم بجواز فسخ النكاح بالعيوب الخمسة وقال البعض لا يجوز الفسخ بشيء منها فالقول بالفسخ بالبعض دون البعض قول ثالث  وكذلك إذا قال بعضهم في زوج وأبوين أو زوجة وأبوين للأم ثلث الأصل في المسألتين وقال بعضهم لها ثلث ما يبقى بعد نصيب الزوج والزوجة فالقول بأن لها ثلث الأصل في إحدى المسألتين وثلث ما يبقى في المسألة الأخرى قول ثالث . والمختار في ذلك إنما هو التفصيل : وهو أنه إن كان القول الثالث مما يرفع ما اتفق عليه القولان فهو ممتنع لما فيه من مخالفة الإجماع وذلك كما في مسألة الجارية المشتراة فإنه إذا اتفقت الأمة فيها على قولين وهما امتناع الرد والرد مع العقر فالقولان متفقان على امتناع الرد مجانا فالقول به يكون خرقا للإجماع السابق  وكذلك في مسألة الجد فإنه إذا اتفقت الأمة على قولين وهما استقلاله بالميراث ومقاسمته للأخ فقد اتفق الفريقان على أن للجد قسطا من المال فالقول الحادث أنه لا يرث شيئا يكون خرقا للإجماع وكذلك في مسألة النية في الطهارة إذا اتفقت الأمة فيها على قولين وهما اعتبار النية في جميع الطهارات وعلى اعتبارها في البعض دون البعض فقد اتفق القولان على اعتبارها في البعض فالقول المحدث النافي لاعتبارها مطلقا يكون خرقا للإجماع السابق  وأما إن كان القول الثالث لا يرفع ما اتفق عليه القولان بل وافق كل واحد من القولين من وجه وخالفه من وجه فهو جائز إذ ليس فيه خرق الإجماع وذلك كما لو قال بعضهم باعتبار النية في جميع الطهارات وقال البعض بنفي اعتبارها في جميع الطهارات فالقول الثالث وهو اعتبارها في البعض دون البعض لا يكون خرقا للإجماع  لأن خرق الإجماع إنما هو القول بما يخالف ما اتفق عليه أهل الإجماع